Embun

๐Ÿ€๐Ÿ‚๐ŸŒธ

Di pagi hari, sisa-sisa embun dingin masih tersisa di atas permukaan dedaunan. Seakan menjadi selimut bagi bumi yang akan memulai awal baru. Namun, bagi mereka yang di kota, mungkin akan sama saja. Bersyukurlah mereka yang masih tinggal di pedesaan, menemui embun di pagi hari, menemani dan memberi semangat untuk memulai hari dengan senyum. Bersyukurlah juga mereka yang tinggal di kota-kota, merindu bertemu embun pagi. Sekalinya bertemu, mungkin di saat weekend, senang tak terkira. ๐Ÿ๐Ÿ‚๐Ÿ€

Embun terbentuk dari kondensasi yang terjadi di bawah atmosfer, nun jauh di atas sana. Terbentuk bintik-bintik air. Kemudian, jatuh sedikit demi sedikit di atas permukaan dedaunan, di atas tanah lapang, di atas rerumputan, di atas atap-atap rumbia, di atas permukaan bulu ayam yang tidur di ranting pepohonan, pun di atas pasir di pinggir pantai. Ia ada, tapi sejenak saja. Seperti halnya dunia ini yang hanya sebentar sekali.

Di negara lain, embun mungkin tidak ada. Di musim-musim tertentu. Apalagi di musim dingin. Bukan embun lagi yang jatuh. Namun salju putih yang jatuh pelan. Bersama-sama. Jatuh ketika sunyi masih memeluk si kecil dengan jaket tebalnya. Jatuh ketika induk-induk burung masih menghangati anak-anaknya, memeluknya dengan penuh kasih sayang. Jatuh saat kumbang masih bersembunyi di balik dedaunan atau di balik tanah.

||| Tak ada yang lebih sejuk dibanding sisa embun di pagi hari. Menyelimuti pepohonan dengan lembut. Menemani mentari yang akan terbit di ufuk timur. |||

Salam, dan terima kasih, Embun. Meski sejenak, hadirmu menyejukkan, di atas pink-nya kelopak bunga asoka. ๐Ÿ˜Š๐ŸŒธ๐Ÿ‚๐Ÿƒ

Kelopak Bunga Asoka

Tinggalkan komentar