Curriculum Vitae,,

Dalam KBBI daring, CV atau curriculum vitae adalah tulisan singkat tetang riwayat pendidikan atau pekerjaan.. Masing-masing kita punya jalan sendiri, jadi tidak perlu iri dengan jalan hidup yang dilalui orang lain.. Toh, jika kita berada di jalan hidup mereka, belum tentu kita akan sanggup dan bisa melewatinya.. Jalani jalan hidup kita dengan baik, dan selalu lebih baik,, insya Allah hidup bisa lebih manfaat..

Itu pembuka saja.. 🙂

Yang ingin saya bagikan di sini adalah cara menulis CV kita.. ini penting untuk kita saat kita akan melamar pekerjaan.. Penting untuk mengetahui bagaimana cara menulis CV.. Tulisan di bawah ini saya ambil dari akun @fierza, di twitter.. Semoga manfaat, dan jadi kebaikan juga buat @fierza..

Selamat membaca..

Semenjak gw nulis thread tentang rekrutmen & LinkedIn, cukup banyak yang DM gw untuk cek CV mereka. Tapi tiap gw kasih revisi, kesalahannya sama, itu-itu aja. Habis ini gw bikin thread deh gimana cara bikin CV & Cover Letter yang menjual.

First of all, gw mau berterima kasih sepenuhnya sama dosen pembimbing gw yang ngga cuma ngebimbing skripsi gw tapi juga ngebimbing karir gw dan tim rekrutmen tempat gw magang saat ini, thanks for everything. All your praise will belong to them, guys.

Nulis CV tuh kayak jualan. Jadi kita juga pakai prinsip berjualan. Here’s a key: “Don’t tell what you can’t sell, don’t sell what you doubt yourself.”

Oke langsung masuk aja:

1) ALUR. ALUR. ALUR. Biasakan punya alur, apapun itu. a) Bukan masalah apa yang disebutin duluan, tapi gimana alur bacanya. Boleh sebutin section experience atau sekolah duluan, tapi tiap section biasakan jangan lompat-lompat hanya karena ‘hemat space’. b) Urutkan dari yang TERBARU. Apapun itu. Mau pendidikan, mau pengalaman kerja, organisasi, dll Kenapa? Memudahkan rekruter untuk tau “sebelum ke sini, kamu ke mana? Ngapain aja?” Kalau kamu lamar posisi Akuntan, yang nongol TK apa relevan? They don’t have that much time wander

2) Deskripsi. Ini yang sering banget HILANG dalam CV yang gw baca. Rekruter perlu tau kalian itu ngapain aja. Apakah yang kalian lakukan di masa lalu itu relevan dengan jobdesc yang akan kalian hadapi dengan perusahaan nantinya. Tips: a) Tulis Jobdesc. Kalian dapet tugas apa aja selama di perusahaan / organisasi A. b) Tools yang kalian pake apa aja (misal Photoshop, Illustrator, dll buat designers) c) Explain how did you do your job with your tools, your skillset, and how was the result.

3) Skills. Kalian boleh punya skill apa aja, tapi yang harus kalian garis bawahi adalah Do: a) Taruh yang relevan; dan b) Taruh yang menjual. Other than that should be on the “Don’ts” list.

Misal: Case 1: Lu emang jago masak sih, tapi masa iya posisi yang lu lamar Akuntan terus skill yang lu pajang skill memasak? Case 2: Boleh sih background jurusan perikanan, tapi kalau posisi yang dicari finance? Nggak nyambung sob, yg lu pelajarin beda, tools juga beda. Mundur.

Tell what you can sell; don’t sell what you doubt yourself. “Skills: Bahasa Inggris (Pasif)” Ibarat kayak nulis “gw bisa bahasa inggris, tapi nggak jadi” Make sure if you can do it, you understand are able to use it baik aktif maupun pasif. Maybe it’s time to improve?

Lagi, “Skills: memasak. Tapi nggak enak enak banget” Kalo nggak yakin mending nggak usah ditulis sekalian. Terus, kalo ngga ditulis semua, CV gw kosong dong? Mungkin ini udah waktunya ‘memperbaiki diri’ guys. Go get yourself some new skills. CV lu ngga bisa dibiarin kosong.

Bayangin tuh berapa ribu pengangguran baru dari satu kampus doang. Coba sebutin berapa banyak kampus di Indo doang dan berapa banyak yang mereka cetak tiap tahunnya. Belum bahas lulusan luar negeri yang katanya lebih menjual. Coba dipikir gimana jalan keluarnya. Jangan diem.

Yang kedua, usia. Lama menganggur juga bikin usia kita terbuang. Sedangkan beberapa perusahaan punya batasan usia untuk posisi tertentu. Jangankan kerja, ikutan volunteer aja kadang ada batasan usia. Anak muda lebih enerjik dan bisa dibentuk. Usia. Pikirkan itu.

Tiga, victim minded. “Gw kan nggak punya skill kaya lo,” “Gw kan ngga bisa ini itu,” Fakta yang gw hadapi: Everyone has skills. Skills are everywhere; opportunities are not. Lu cari skill baru aja ogah, gimana mau cari opportunity? Susah kalo ngomong sama orang kek gini.

Tips to overcome those two: 1) Waktu: tentukan CUT OFF waktu. Hari ini lo benerin CV lu, apply kerja sebanyak mungkin, sebebas yang lu mau. Dipanggil interview? Dateng. Dianggurin? Seminggu stop berharap. Cari lagi. Cari kerja tuh kudu anti baper. Suka nggak suka pasti nggak suka

2) Victim Minded. Pegang ini: Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kalau nggak ada, berarti bukan masalah. CV kosong? Tambahin skill. Tambahin pendidikan. Anything. Ngga punya duit? Ikut kursus gratisan. Ikut bantu bantu saudara for lil money. Banyak info kalo lu cari tau.

Bisa juga bangun reputasi dari bantu-bantu tadi. Gw pertama kali bangun portolio gw juga gratisan. Gw mondar mandir sana sini juga butuh dana keluar. Bensin, makan, dll. Gw dibayar terima kasih doang udah biasa. Tapi skill & portfolio gw nambah. Bisa ‘dijual’ buat apply kerja.

Other tips buat CV: Kalau lu punya banyak skill di berbagai bidang yang bisa dijual, lu bikin aja beberapa versi CV. Misal satu CV buat graphic design, satu CV buat karir kuliah lu, satu lagi buat hobi copywriting misal. Bangun CV tuh kaya main lego, bisa bongkar pasang.

Again, masukin yng relevan. Lu nembak posisi apa, masukin pengalaman & deskripsi yang masuk dengan posisi itu. Nggak perlu masukin skill / pengalaman A kalo emang nggak sesuai. Lebih baik tanpa pengalaman tapi nyambung. Next: Cover letter

Gw masih sering banget nemu cover letter yang isinya “Nama: Alamat: dst Daftar lampiran: KTP SKCK dst” No. Big no. Cover letter itu harusnya menceritakan siapa kamu dan apa yang kamu lakukan, versi singkat CV kamu lah. Ibarat clickbait yang bikin rekruter mau baca CV kamu.

Facts: Cover letter tidak selalu dibaca. Tapi lamaran tanpa Cover Letter? Kadang langsung di skip. Cover letter seharusnya isinya “personal” hanya untuk perusahaan yang kamu tuju. Beda posisi? Beda letter. Beda perusahaan? Apalagi. Here’s the tips:

Cover letter: 1) Tell who you are. Sebutkan nama dan background. 2) What you did in the past. Ceritakan pengalaman yang relevan dengan posisi & perush. Cukup highlights aja, ngga usah semua. 3) Ceritakan goalmu yang relevan dengan posisi / perusahaan and why they should hire u

Isi cover letter tadi bisa lu masukin ke body e-mail kalo lu apply kerja via email. Jangan pernah biarkan body email kosong. Jangan lupa isi subject sesuai dengan kriteria yang diminta rekruter, memudahkn untuk “search” di email mereka. Sekian thread kali ini.

Oleh: @fierza di Twitter..

Bogor 08 Maret 2019

 

Advertisements

Saat terbaik,,

IMG_20180726_081658_HDR
Suatu Pagi di Kampus Tsukuba

Yang TERBAIK..

Takdir terbaik adalah takdir yang dirancanNya untuk kita,,

Keberuntungan yang paling disenangi olehNya adalah keberuntungan yang terbaik,,

Rizki yang disenangiNya adalah rizki yang paling berkah dan rizki terbaik,,

Keindahan terbaik adalah keindahan yang datang dariNya,,

Ilmu terbaik adalah ilmu yang membuat kita dekat denganNya,,

Wajah yang terbaik adalah wajah yang senang dan menyenangkan karenaNya,,

Pandangan terbaik adalah pandangan yang apapun yang kita lihat, kita melihatNya,,

Lagu terbaik adalah do’a anak yatim dan orang miskin yang berdo’a kebaikan untuk sesama,,

dan Nada terbaik adalah nada yang jika mendengarnya kita merasa bahwa betapa indah IA yang telah memberikan kita kemampuan untuk mendengar..

Kita mungkin belum seperti mereka yang ketika mendengar azan, langsung mengambil air wudhu dan menghadapNya.. Namun, mari berusaha, bahwa setiap nada dan lagu yang kita dengarkan ketika bangun tidur, menjadikan kita ingat padaNya.. Setiap ada orang yang meminta pertolongan kepada kita, kita dengan senang hati memberikan bantuan.. Ketika ada yang sedang memiliki masalah, kita dengan senang hati mendengarkannya, sambil dengan tulus mendo’akan yang terbaik untuknya..

Kita mungkin belum bisa bangun di pagi hari untuk shalat tahajjud menghadap dan mengadukan masalah kita padaNya.. Namun, mari berusaha, agar di setiap shalat wajib yang kita laksanakan, dalam sujud kita, kita selalu benar-benar memohonkan padaNya agar membimbing dan menuntun jalan kita menujuNya.. di shalat subuh kita, di shalat dzuhur kita, shalat ashar kita, shalat magrib dan shalat isa kita.. Atau, setidaknya kita tidak pernah lupa mendo’akan orang-orang yang mencintai kita sepenuh hati.. Rasulullah SAW, orang tua kita, guru-guru kita..

Kita mungkin belum bisa membaca Al-qur’an tiap hari tiap lembar,, tiap minggu tiap juz.. Namun, mari berusaha membaca surat fatihah dalam shalat kita dengan sepenuh hati,, dalam setiap ayat yang kita baca setiap shalat, kita selalu menghadirkanNya.. dalam setiap takbir yang kita ucapkan, kita sadar,, seberapa besar dan agung IA, dan seberapa kecil diri kita di hadapanNya..

Yang TERBAIK untuk kita, adalah yang TERBAIK dariNya dan yang kita lakukan untukNya..

Kau tahu kawan,, kapan saat terbaik kita di dunia ini?

Saat terbaik itu adalah saat kita meninggalkan dunia ini dengan kalimat laa ilaaha illallah..

Semoga kita bisa menghadirkanNya dalam setiap apa yang kita lakukan.. 🙂

Bogor, 07 Maret 2019

Walau bukan hari guru..

Di manapun kita saat ini, pasti ada peran orang tua kita, baik bapak ibu di rumah, ataupun bapak ibu di sekolah.. Bagi yang sudah punya pasangan, orang tua kita tambah satu.. hhee

Terima Kasih, Ibunda dan Bapak Guruku

Bunda,,,

Izinkan kami menatap matamu sekali saja,

Kami hanya ingin bersamamu,

Ikut merasakan lelah dan letihmu,,

Mengasuh,,,

Membimbing,,,

Dan mengajari kami banyak hal…

Hanya itu saja bunda,,

Karena kami sadar, kami takkan pernah mampu membalas

Semua yang telah kau berikan…

Bunda,,,

Mohon izin ya, kami ingin sekali saja

Memegang kedua tanganmu,

Mencium kedua pipimu,

Memeluk, serta merengkuhmu…

Kami takut bunda,

Esok hari,,

Kami tak mampu membuatmu bahagia

Hanya itu saja bunda,,

Mungkin dengan peluk dan rengkuhan kami ini,

Dapat membuatmu sedikit lebih bahagia…

Bunda,

Maafkan kami ya,,

Kami belum mampu berikan apa-apa, bahkan

Walau hanya sekedar membuatmu tetap tersenyum,,,

 

Bunda,,,

Kami sadar,

Kami telah terlalu sering membuatmu kecewa,,

Membuatmu bersedih, membuatmu susah…

Maafkan kami ya bunda…

Mungkin,

Tak pantas bagi kami meminta waktu tuk berharap,

Namun jika boleh bertutur,,,

Harapan kami,,,

“Jangan berhenti do’akan kami ya… ^^”

Hanya itu bunda…

Tetaplah dengan apa adanya dirimu bunda,,

Dengan sucinya hatimu,,

Dengan tulusnya perbuatanmu,,

Dengan indah dan sederhananya perangaimu,,

Pelukanmu yang lembut,,

Tatapanmu yang teduh…

Bunda, tak bisa kami bayangkan…

Wajah kehidupan yang kan selalu letih tanpamu…

Bunda,

TERIMA KASIH BANYAK…

Rabb,

TERIMA KASIH BANYAK…

KAU telah sertai kami dengan malaikat-malaikatmu dalam kehidupan kami…

Jaga mereka yaa Rabb,,,

Sisihkan tempat di sisi-MU untuk mereka…

Agar tidak kosong,,

cropped-sam_2485.jpg

Menulis setiap hari memang agak susah, tapi tidak apa-apa, bukan berarti tidak bisa.. Saya akan tetap mencoba menulis, walaupun hanya beberapa kalimat..

Apa yang kita tulis sebenarnya menggambarkan apa yang sering kita baca, lihat, dan serap. Dari keseharian kita, mulai dari bangun tidur, hingga akan tidur lagi.. Sama seperti apa yang kita ucapkan, yang menggambarkan apa isi hati kita.. Seperti teko, yang keluar pasti adalah isi teko, entah itu air, sirup, susu, atau apapun, sehingga, jika ingin melihat orang, bisa dilihat dari apa yang sering diucapkannya.. tapiii, selalu ingin, sesuatu terkadang tidak selalu berarti seperti apa yang tampak di permukaan..

Di media sosial saat ini, berkomentar adalah hal yang lumrah. Dan semua hal pasti ingin dikomentari, entah itu, paham atau tidak dengan apa yang ingin dikomentari tersebut.. di media sosial, tidak ada kasta. Semua orang memiliki kedudukan yang “sama”.. dan bebas menulis dan mengomentari apapun yang ramai saat itu juga. Dan kebanyakan juga, hanya ikut-ikutan. Misalnya saja, ada sesuatu yang sedang viral, tentang gelang dari batu yang dapat mengusir serangga. Mereka yang kurang kritis, pasti akan langsung percaya, atau minimal, menganggapnya benar. Padahal, kita harus melihat, dari siapa berita itu, dan dapatkah berita itu dipercaya. Apalagi tentang agama, kita sering kali menelan mentah-mentah, dan langsung mempercayai apa kata kebanyakan ‘netizen’. Bahkan, yang tidak ahli dalam agama terkadang dilebih-lebihkan, jika itu sesuai dengan hatinya, bukan sesuai dengan ilmunya.

Jadi, marilah sama-sama melihat diri sendiri.. Mari arif dalam menggunakan media sosial. Media sosial hanyalah media kita untuk bersosialisasi dan mencari ilmu, kepada yang berilmu. Tapi hati-hati juga, menyerap ilmu yang didapatkan dari media sosial, karena belum tentu benar. Apalagi jika hanya melihat dari video atau tulisan yang hanya beberapa menit saja. Kita menjadi tidak melihat sesuatu ilmu secara utuh. Apalagi jika hanya membaca komentar-komentar dan mengeluhkan macam-macam di media sosialnya. Entah sakitlah, entah susah lah, entah lagi miskinlah, entah lagi galau lah, entah lagi marah lah, semuanya diluapkan. Di dunia yang maya, bukan di dunia nyata. Mana ada yang bisa berubah, toh dia hanya mengeluh di dunia maya..

Sudah, segitu aja dulu.. terima kasih sudah membaca tulisan yang tidak jelas ini..

Eh tapi, biar ada manfaatnya, berikut ada Kata Mutiara dari Dr. Manmohan Singh,

“Tuhan menganugrahkan ketenangan untuk menerima hal-hal yang dapat aku ubah,,

Keberanian unuk mengubah hal-hal yang dapat aku ubah,,

dan Kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya..”

Salam Literasi..

Jangan Lupa Bahagia..

Bogor, 05 Maret 2019

Mari bertanya,,

Dari manakah asalnya sebutir nasi yang kita makan?

18444281_238629976614155_305692398917255168_n
Sumber: https://www.imgrumweb.com/hashtag/sebutirnasi

Tentu dari para petani di ladang. Beli benih yang bagus, tapi sebelum itu, disiapkan dulu lahan yang akan digunakan. Sawah diairi, dibajak, diberikan pupuk, bisa juga menggunakan pupuk kandang agar mengurangi pupuk kimia. Persiapannya membutuhkan waktu, dan tenaga. Jika sawahnya agak luas, bisa menyewa orang lain untuk mempersiapkan, tapi jika agak kecil, yaa, dipersiapkan sendiri dan dibantu keluarga.

 

Setelah siap, petak untuk persiapan benih dibuat dengan baik, kemudian benih yang telah dibeli disemai. Harus tetap dirawat, agar tumbuh dengan baik. Proses ini menentukan. Seberapa lama, tergantung benih yang digunakan. Setelah beberapa minggu, barulah dipindah tanam ke lahan yang sudah dipersiapkan. Pindah tanam juga membutuhkan waktu, tenaga dan biaya. Masih ada lagi, setalah dipindah tanam harus tetap dijaga. Di waktu tertentu, air harus selalu ada. Pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, harus tetap dilakukan. Hingga saat akan panen juga harus tetap dijaga, agar panen dapat hasil yang baik.

Resikonya? Pasti selalu ada, tergantung usaha kita dan juga alam yang tidak bisa diprediksi. Dari mulai membeli benih dan mempersiapkan lahan, hingga panen tiba, waktunya berbeda-beda, bisa sampai 3 bulan lamanya atau bisa juga kurang dan lebih. Setelah dipanen, kemudian dikeringkan. Jika sudah, gabah kemudian diproses menjadi beras. Beras kemudian di masak menjadi nasii.. huuuhhh,, perjalanan yang cukup panjang..

Dari proses di ataslah baru kita dapatkan nasi yang kita makan sehari-hari.. tidak hanya nasi saja, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan juga sama.. butuh proses untuk menghasilkannya..

Lalu,, masihkah kita menyia-nyiakan nasi yang kita makan? Masihkah kita tidak bersyukur? Masihkah kita tidak menghargai para petani di sawah? Masihkah kita berpikir bahwa pekerjaan petani itu pekerjaan yang tidak mulia? Masihkan kita memesan nasi di warung berlebihan, dan kita tidak menghabiskannya? Masihkah kita membuang-buang buah-buahan, padahal hanya sedikit yang rusak di ujungnya? Masihkah kita lebih memilih membeli buah-buahan di toko-toko besar dari pada di petani dan warung-warung kecil dengan perjuangan yang telah dilakukannya? Masihkah kita tidak bersyukur dengan makanan yang kita makan selama ini? Masihkah…

Ada beribu pertanyaan yang masih ada. Agar kita merenung dan lebih menghargai apa yang kita dapatkan, dan proses bagaimana kita mendapatkannya.

Mari sama-sama bersyukur dengan apa yang kita makan hari ini dengan tidak menyia-nyiakannya dan menghargai para petani yang dengan usaha merekalah kita masih dapat memakan nasi di rumah-rumah kita.. dan kita para petani,, mari berbangga dan memperbaiki niat.. Menjadi petani itu, Mulia, pun juga di hadapanNya, jika kita menyertakanNya dalam prosesnya..

Bogor, 04 Maret 2019

Quotes,,

sdfafff

Ambillah Waktu untuk Berpikir…

Karena Berpikir ialah sumber Kekuatan

Ambillah Waktu untuk Bermain…

Karena Bermain adalah rahasia masa muda yang abadi…

Ambillah waktu untuk Berdo’a…

Karena Berdo’a adalah sumber Ketenangan…

Ambillah Waktu untuk BELAJAR,,,

Karena BELAJAR adalah sumber Kebijaksanaan

Ambillah Waktu untuk BERSAHABAT,,,

Karena BERSAHABAT adalah jalan menuju KEBAHAGIAAN

Ambillah Waktu untuk MENCINTAI DAN DICINTAI,,,

Karena itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan Kepada Kita

Ambillah Waktu untuk TERTAWA

Karena TERTAWA adalah Musik yang menggetarkan hati

###

Hidup adalah Belajar,,,

Belajar Bersyukur, Meski tak cukup,,,

Belajar Memahami, Meski tak sehati,,,

Belajar Ikhlas, Meski tak rela,,,

Belajar Bersabar, Meski terbebani

###

Ketika hujan membasahi bumi,,,

Ketika padamnya lampu menyelimuti malam,,,

Dan ketika kenangan terlintas nyata,,,

HAI SAHABAT!!!

Hujan bukanlah halangan,,,

Padamnya lampu bukanlah rintangan

Untuk SAYA,,, KAMU,,,

DIA,,, dan MEREKA

Bersujud memohon ridho-Nya ^^

JIKA KITA TELAH MELAKUKAN YANG TERBAIK,,, TAK ADA WAKTU LAGI TUK KHAWATIR KEGAGALAN,,, ^^

***

 

Membandingkan diri,,

Kawan,, Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain apa lagi orang yang di atas kita, dalam urusan dunia. Cukup bandingkan diri kita dengan diri kita sendiri, yang sekarang, dengan diri kita kemarin. Itu lebih adil. Mengapa? karena parameternya memang bisa diukur, dan adil. Misalkan kemarin kita membaca 2 lembar buku apa saja, hari ini harusnya kita bisa lebih baik, kita baca 4 lembar, buku apa saja.. Atau pun, kemarin kita masih buang sampah sembarangan, hari ini harus lebih baik, buang sampah pada tempatnya.. Kemarin kita masih merokok satu bungkus, hari ini hanya setengah bungkus.. Bisa diukur kan??

Coba bandingkan diri kita dengan orang lain, kita pasti akan menemukan banyak hal yang ‘kurang’ dengan diri kita. Pasti,, selalu ada. Apa lagi jika membandingkan diri kita dengan orang yang kita anggap ‘lebih baik’. Misalkan orang itu punya hand phone yang bagus, sedangkan kita seadanya, ya pasti menurut logikanya, ia pasti lebih baik dari kita, dalam pikiran kita, padahal belum tentu.. atau pun, kita hanya memiliki baju yang sederhana saja, harganya paling hanya 50rb-an, sedangkan orang lain punya pakaian yang sehariga 200rb-an, ya pasti kita merasa kurang..

Itu dari segi materi semua ya, karena kebanyakan dari kita sekarang, membandingkan diri kita dari segi materi. Nahh,, ini yang perlu kita perbaiki lagi…

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang terlihat lebih baik dari kita dapat membantu kita termotivasi untuk seperti mereka, atau pun juga dapat membuat kita pesimis dan kurang bersyukur. Ini tergantung kita, bagaimana cara kita memandang orang lain tersebut. Nah, jadi, kita harus pandai-pandai memilih cara memandang orang lain, sesuai dengan diri kita.

Setiap orang punya kelebihan masing-masing, sebagaimana juga setiap orang punya kekurangannya masing-masing. sehingga, hidup ini selalu adil, selalu. Kitanya saja yang kadang salah sangka. Sederhananya, ukuran pakaian kita pasti berbeda dengan pakaian orang lain yang kira anggap lebih baik, bisa lebih besar, atau bisa lebih kecil. Kalau kita paksakan memiliki pakaian yang sama dengan orang lain tersebut, ya jadi tidak pas. Atau ukuran sepatu, kita paksa diri kita untuk memakai ukuran sepatu orang lain, ya jadi aneh.. Kurang lebih, begitulah perumpamaannya.. Tapi,,  kenapa kadang kita merasa diperlakukan kurang adil? Itu karena kitanya saja yang terlalu berlebihan memandang orang lain, dan pesimis memandang diri kira sendiri. Coba saja, pasti ada kemampuan yang orang lain tidak punya, dan hanya kita yang punya, kembangkan itu, maka kita bisa menjadi lebih baik dari mereka..

Tenang saja, kita semua ini istimewa di bidang kita masing-masing.. Ada banyaaaak sekali hal yang kita miliki, dan tidak dimiliki orang lain.. Hanya saja, kita memandang dari arah yang kurang pas,, sehingga semua hal istimewa yang kita miliki tidak terlihat.. kadang, orang lain malah lebih bisa melihat kelebihan diri kita dibanding diri kira sendiri..

Bukan kah, yang paling pintar berenang adalah ikan, jika dibandingkan dengan burung. Tapi yang paling pintar terbang adalah burung, jika dibandingkan dengan ikan.. Bukankah, yang paling cepat berlari itu cheetah, jika dibandingkan dengan kukang.. tapi yang bisa hidup di atas pohon, bergerak lambat, dan imut adalah kukang..

 

Pernah lihat kukang? Bagi yang pernah nonton Film Zootopia, kukang itu Flash yang bergerak sangat lambat sekali.. Jadi pegawai pemerintahan di Zootopia.. Oh iya, jika belum pernah nonton, sebaiknya nonton dulu ya, filmnya bagus. Cerita tentang seekor kelinci, namanya Judy Hoops, yang cita-citanya jadi polisi Zootopia. Ia akhirnya berhasil, dengan kerja keras, menjadi polisi kelinci pertama. Jadi, kelinci yang di pandangan dirinya sendiri, dan ‘pandangan umum’ hanya bisa bertani wortel, juga bisa jadi polisi.. (Sumber gambar: https://id.bookmyshow.com)

Jadi,, dalam banyak hal, kita hendaknya membandingkan diri kita dengan diri kita sendiri di hari ini, dengan di hari kemarin, sehingga, kita bisa terus berubah jadi lebih baik. Dalam banyak hal juga, kita bisa membandingkan diri kita dengan orang lain, tapi jangan lihat ketika ia sukses saja, bandingkan dengan perjuangannya juga.. Oke.. 🙂

Penutup

Dalam urusan dunia, lihatlah ke bawah, lihat orang yang lebih kurang beruntung dari diri kita, agar kita dapat terus bersyukur padaNya.. dan dalam urusan akhirat, lihatlah ke atas, lihat orang yang lebih baik dalam ibadahnya kepada Tuhannya, agar kita bisa mengikuti langkahnya..

Bogor, 2 Maret 2019