Walau bukan hari guru..

Di manapun kita saat ini, pasti ada peran orang tua kita, baik bapak ibu di rumah, ataupun bapak ibu di sekolah.. Bagi yang sudah punya pasangan, orang tua kita tambah satu.. hhee

Terima Kasih, Ibunda dan Bapak Guruku

Bunda,,,

Izinkan kami menatap matamu sekali saja,

Kami hanya ingin bersamamu,

Ikut merasakan lelah dan letihmu,,

Mengasuh,,,

Membimbing,,,

Dan mengajari kami banyak hal…

Hanya itu saja bunda,,

Karena kami sadar, kami takkan pernah mampu membalas

Semua yang telah kau berikan…

Bunda,,,

Mohon izin ya, kami ingin sekali saja

Memegang kedua tanganmu,

Mencium kedua pipimu,

Memeluk, serta merengkuhmu…

Kami takut bunda,

Esok hari,,

Kami tak mampu membuatmu bahagia

Hanya itu saja bunda,,

Mungkin dengan peluk dan rengkuhan kami ini,

Dapat membuatmu sedikit lebih bahagia…

Bunda,

Maafkan kami ya,,

Kami belum mampu berikan apa-apa, bahkan

Walau hanya sekedar membuatmu tetap tersenyum,,,

 

Bunda,,,

Kami sadar,

Kami telah terlalu sering membuatmu kecewa,,

Membuatmu bersedih, membuatmu susah…

Maafkan kami ya bunda…

Mungkin,

Tak pantas bagi kami meminta waktu tuk berharap,

Namun jika boleh bertutur,,,

Harapan kami,,,

“Jangan berhenti do’akan kami ya… ^^”

Hanya itu bunda…

Tetaplah dengan apa adanya dirimu bunda,,

Dengan sucinya hatimu,,

Dengan tulusnya perbuatanmu,,

Dengan indah dan sederhananya perangaimu,,

Pelukanmu yang lembut,,

Tatapanmu yang teduh…

Bunda, tak bisa kami bayangkan…

Wajah kehidupan yang kan selalu letih tanpamu…

Bunda,

TERIMA KASIH BANYAK…

Rabb,

TERIMA KASIH BANYAK…

KAU telah sertai kami dengan malaikat-malaikatmu dalam kehidupan kami…

Jaga mereka yaa Rabb,,,

Sisihkan tempat di sisi-MU untuk mereka…

Advertisements

Agar tidak kosong,,

cropped-sam_2485.jpg

Menulis setiap hari memang agak susah, tapi tidak apa-apa, bukan berarti tidak bisa.. Saya akan tetap mencoba menulis, walaupun hanya beberapa kalimat..

Apa yang kita tulis sebenarnya menggambarkan apa yang sering kita baca, lihat, dan serap. Dari keseharian kita, mulai dari bangun tidur, hingga akan tidur lagi.. Sama seperti apa yang kita ucapkan, yang menggambarkan apa isi hati kita.. Seperti teko, yang keluar pasti adalah isi teko, entah itu air, sirup, susu, atau apapun, sehingga, jika ingin melihat orang, bisa dilihat dari apa yang sering diucapkannya.. tapiii, selalu ingin, sesuatu terkadang tidak selalu berarti seperti apa yang tampak di permukaan..

Di media sosial saat ini, berkomentar adalah hal yang lumrah. Dan semua hal pasti ingin dikomentari, entah itu, paham atau tidak dengan apa yang ingin dikomentari tersebut.. di media sosial, tidak ada kasta. Semua orang memiliki kedudukan yang “sama”.. dan bebas menulis dan mengomentari apapun yang ramai saat itu juga. Dan kebanyakan juga, hanya ikut-ikutan. Misalnya saja, ada sesuatu yang sedang viral, tentang gelang dari batu yang dapat mengusir serangga. Mereka yang kurang kritis, pasti akan langsung percaya, atau minimal, menganggapnya benar. Padahal, kita harus melihat, dari siapa berita itu, dan dapatkah berita itu dipercaya. Apalagi tentang agama, kita sering kali menelan mentah-mentah, dan langsung mempercayai apa kata kebanyakan ‘netizen’. Bahkan, yang tidak ahli dalam agama terkadang dilebih-lebihkan, jika itu sesuai dengan hatinya, bukan sesuai dengan ilmunya.

Jadi, marilah sama-sama melihat diri sendiri.. Mari arif dalam menggunakan media sosial. Media sosial hanyalah media kita untuk bersosialisasi dan mencari ilmu, kepada yang berilmu. Tapi hati-hati juga, menyerap ilmu yang didapatkan dari media sosial, karena belum tentu benar. Apalagi jika hanya melihat dari video atau tulisan yang hanya beberapa menit saja. Kita menjadi tidak melihat sesuatu ilmu secara utuh. Apalagi jika hanya membaca komentar-komentar dan mengeluhkan macam-macam di media sosialnya. Entah sakitlah, entah susah lah, entah lagi miskinlah, entah lagi galau lah, entah lagi marah lah, semuanya diluapkan. Di dunia yang maya, bukan di dunia nyata. Mana ada yang bisa berubah, toh dia hanya mengeluh di dunia maya..

Sudah, segitu aja dulu.. terima kasih sudah membaca tulisan yang tidak jelas ini..

Eh tapi, biar ada manfaatnya, berikut ada Kata Mutiara dari Dr. Manmohan Singh,

“Tuhan menganugrahkan ketenangan untuk menerima hal-hal yang dapat aku ubah,,

Keberanian unuk mengubah hal-hal yang dapat aku ubah,,

dan Kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya..”

Salam Literasi..

Jangan Lupa Bahagia..

Bogor, 05 Maret 2019

Mari bertanya,,

Dari manakah asalnya sebutir nasi yang kita makan?

18444281_238629976614155_305692398917255168_n
Sumber: https://www.imgrumweb.com/hashtag/sebutirnasi

Tentu dari para petani di ladang. Beli benih yang bagus, tapi sebelum itu, disiapkan dulu lahan yang akan digunakan. Sawah diairi, dibajak, diberikan pupuk, bisa juga menggunakan pupuk kandang agar mengurangi pupuk kimia. Persiapannya membutuhkan waktu, dan tenaga. Jika sawahnya agak luas, bisa menyewa orang lain untuk mempersiapkan, tapi jika agak kecil, yaa, dipersiapkan sendiri dan dibantu keluarga.

 

Setelah siap, petak untuk persiapan benih dibuat dengan baik, kemudian benih yang telah dibeli disemai. Harus tetap dirawat, agar tumbuh dengan baik. Proses ini menentukan. Seberapa lama, tergantung benih yang digunakan. Setelah beberapa minggu, barulah dipindah tanam ke lahan yang sudah dipersiapkan. Pindah tanam juga membutuhkan waktu, tenaga dan biaya. Masih ada lagi, setalah dipindah tanam harus tetap dijaga. Di waktu tertentu, air harus selalu ada. Pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, harus tetap dilakukan. Hingga saat akan panen juga harus tetap dijaga, agar panen dapat hasil yang baik.

Resikonya? Pasti selalu ada, tergantung usaha kita dan juga alam yang tidak bisa diprediksi. Dari mulai membeli benih dan mempersiapkan lahan, hingga panen tiba, waktunya berbeda-beda, bisa sampai 3 bulan lamanya atau bisa juga kurang dan lebih. Setelah dipanen, kemudian dikeringkan. Jika sudah, gabah kemudian diproses menjadi beras. Beras kemudian di masak menjadi nasii.. huuuhhh,, perjalanan yang cukup panjang..

Dari proses di ataslah baru kita dapatkan nasi yang kita makan sehari-hari.. tidak hanya nasi saja, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan juga sama.. butuh proses untuk menghasilkannya..

Lalu,, masihkah kita menyia-nyiakan nasi yang kita makan? Masihkah kita tidak bersyukur? Masihkah kita tidak menghargai para petani di sawah? Masihkah kita berpikir bahwa pekerjaan petani itu pekerjaan yang tidak mulia? Masihkan kita memesan nasi di warung berlebihan, dan kita tidak menghabiskannya? Masihkah kita membuang-buang buah-buahan, padahal hanya sedikit yang rusak di ujungnya? Masihkah kita lebih memilih membeli buah-buahan di toko-toko besar dari pada di petani dan warung-warung kecil dengan perjuangan yang telah dilakukannya? Masihkah kita tidak bersyukur dengan makanan yang kita makan selama ini? Masihkah…

Ada beribu pertanyaan yang masih ada. Agar kita merenung dan lebih menghargai apa yang kita dapatkan, dan proses bagaimana kita mendapatkannya.

Mari sama-sama bersyukur dengan apa yang kita makan hari ini dengan tidak menyia-nyiakannya dan menghargai para petani yang dengan usaha merekalah kita masih dapat memakan nasi di rumah-rumah kita.. dan kita para petani,, mari berbangga dan memperbaiki niat.. Menjadi petani itu, Mulia, pun juga di hadapanNya, jika kita menyertakanNya dalam prosesnya..

Bogor, 04 Maret 2019

Quotes,,

sdfafff

Ambillah Waktu untuk Berpikir…

Karena Berpikir ialah sumber Kekuatan

Ambillah Waktu untuk Bermain…

Karena Bermain adalah rahasia masa muda yang abadi…

Ambillah waktu untuk Berdo’a…

Karena Berdo’a adalah sumber Ketenangan…

Ambillah Waktu untuk BELAJAR,,,

Karena BELAJAR adalah sumber Kebijaksanaan

Ambillah Waktu untuk BERSAHABAT,,,

Karena BERSAHABAT adalah jalan menuju KEBAHAGIAAN

Ambillah Waktu untuk MENCINTAI DAN DICINTAI,,,

Karena itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan Kepada Kita

Ambillah Waktu untuk TERTAWA

Karena TERTAWA adalah Musik yang menggetarkan hati

###

Hidup adalah Belajar,,,

Belajar Bersyukur, Meski tak cukup,,,

Belajar Memahami, Meski tak sehati,,,

Belajar Ikhlas, Meski tak rela,,,

Belajar Bersabar, Meski terbebani

###

Ketika hujan membasahi bumi,,,

Ketika padamnya lampu menyelimuti malam,,,

Dan ketika kenangan terlintas nyata,,,

HAI SAHABAT!!!

Hujan bukanlah halangan,,,

Padamnya lampu bukanlah rintangan

Untuk SAYA,,, KAMU,,,

DIA,,, dan MEREKA

Bersujud memohon ridho-Nya ^^

JIKA KITA TELAH MELAKUKAN YANG TERBAIK,,, TAK ADA WAKTU LAGI TUK KHAWATIR KEGAGALAN,,, ^^

***

 

Membandingkan diri,,

Kawan,, Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain apa lagi orang yang di atas kita, dalam urusan dunia. Cukup bandingkan diri kita dengan diri kita sendiri, yang sekarang, dengan diri kita kemarin. Itu lebih adil. Mengapa? karena parameternya memang bisa diukur, dan adil. Misalkan kemarin kita membaca 2 lembar buku apa saja, hari ini harusnya kita bisa lebih baik, kita baca 4 lembar, buku apa saja.. Atau pun, kemarin kita masih buang sampah sembarangan, hari ini harus lebih baik, buang sampah pada tempatnya.. Kemarin kita masih merokok satu bungkus, hari ini hanya setengah bungkus.. Bisa diukur kan??

Coba bandingkan diri kita dengan orang lain, kita pasti akan menemukan banyak hal yang ‘kurang’ dengan diri kita. Pasti,, selalu ada. Apa lagi jika membandingkan diri kita dengan orang yang kita anggap ‘lebih baik’. Misalkan orang itu punya hand phone yang bagus, sedangkan kita seadanya, ya pasti menurut logikanya, ia pasti lebih baik dari kita, dalam pikiran kita, padahal belum tentu.. atau pun, kita hanya memiliki baju yang sederhana saja, harganya paling hanya 50rb-an, sedangkan orang lain punya pakaian yang sehariga 200rb-an, ya pasti kita merasa kurang..

Itu dari segi materi semua ya, karena kebanyakan dari kita sekarang, membandingkan diri kita dari segi materi. Nahh,, ini yang perlu kita perbaiki lagi…

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang terlihat lebih baik dari kita dapat membantu kita termotivasi untuk seperti mereka, atau pun juga dapat membuat kita pesimis dan kurang bersyukur. Ini tergantung kita, bagaimana cara kita memandang orang lain tersebut. Nah, jadi, kita harus pandai-pandai memilih cara memandang orang lain, sesuai dengan diri kita.

Setiap orang punya kelebihan masing-masing, sebagaimana juga setiap orang punya kekurangannya masing-masing. sehingga, hidup ini selalu adil, selalu. Kitanya saja yang kadang salah sangka. Sederhananya, ukuran pakaian kita pasti berbeda dengan pakaian orang lain yang kira anggap lebih baik, bisa lebih besar, atau bisa lebih kecil. Kalau kita paksakan memiliki pakaian yang sama dengan orang lain tersebut, ya jadi tidak pas. Atau ukuran sepatu, kita paksa diri kita untuk memakai ukuran sepatu orang lain, ya jadi aneh.. Kurang lebih, begitulah perumpamaannya.. Tapi,,  kenapa kadang kita merasa diperlakukan kurang adil? Itu karena kitanya saja yang terlalu berlebihan memandang orang lain, dan pesimis memandang diri kira sendiri. Coba saja, pasti ada kemampuan yang orang lain tidak punya, dan hanya kita yang punya, kembangkan itu, maka kita bisa menjadi lebih baik dari mereka..

Tenang saja, kita semua ini istimewa di bidang kita masing-masing.. Ada banyaaaak sekali hal yang kita miliki, dan tidak dimiliki orang lain.. Hanya saja, kita memandang dari arah yang kurang pas,, sehingga semua hal istimewa yang kita miliki tidak terlihat.. kadang, orang lain malah lebih bisa melihat kelebihan diri kita dibanding diri kira sendiri..

Bukan kah, yang paling pintar berenang adalah ikan, jika dibandingkan dengan burung. Tapi yang paling pintar terbang adalah burung, jika dibandingkan dengan ikan.. Bukankah, yang paling cepat berlari itu cheetah, jika dibandingkan dengan kukang.. tapi yang bisa hidup di atas pohon, bergerak lambat, dan imut adalah kukang..

 

Pernah lihat kukang? Bagi yang pernah nonton Film Zootopia, kukang itu Flash yang bergerak sangat lambat sekali.. Jadi pegawai pemerintahan di Zootopia.. Oh iya, jika belum pernah nonton, sebaiknya nonton dulu ya, filmnya bagus. Cerita tentang seekor kelinci, namanya Judy Hoops, yang cita-citanya jadi polisi Zootopia. Ia akhirnya berhasil, dengan kerja keras, menjadi polisi kelinci pertama. Jadi, kelinci yang di pandangan dirinya sendiri, dan ‘pandangan umum’ hanya bisa bertani wortel, juga bisa jadi polisi.. (Sumber gambar: https://id.bookmyshow.com)

Jadi,, dalam banyak hal, kita hendaknya membandingkan diri kita dengan diri kita sendiri di hari ini, dengan di hari kemarin, sehingga, kita bisa terus berubah jadi lebih baik. Dalam banyak hal juga, kita bisa membandingkan diri kita dengan orang lain, tapi jangan lihat ketika ia sukses saja, bandingkan dengan perjuangannya juga.. Oke.. 🙂

Penutup

Dalam urusan dunia, lihatlah ke bawah, lihat orang yang lebih kurang beruntung dari diri kita, agar kita dapat terus bersyukur padaNya.. dan dalam urusan akhirat, lihatlah ke atas, lihat orang yang lebih baik dalam ibadahnya kepada Tuhannya, agar kita bisa mengikuti langkahnya..

Bogor, 2 Maret 2019

 

Dari,,

Kita takkan bisa hidup sendiri,, akan selalu ada bagian hati kita yang diisi oleh orang-orang di sekitar kita.. Merekalah juga yang membuat kita berada di sini, saat ini.. Ada yang tertulis menjadi kata,, namun ada yang terucap lewat tutur..

Coretan dari,, mereka yang peduli..

###

Ini cuma catatan iseng dan sok tau, hhe :D.

Sesorang pernah mengatakan ini padaku, ketika aku bercerita betapa merasa terkungkungnya aku dalam lingkungan yang kecil dan monoton ini.

“So far, we’re in our own. Nobody have right to be manage someone else. In the other words, we could say that we will get ours and they’ll get theirs. Don’t be afraid to be different from others because the others ones don’t have any right on ourselves. Be free in your choices to take many opportunities ”.

Jadi pada initinya hidup ini bukanlah tentang seberapa besar lingkungan tempat tinggal kita. Juga bukan tentang apa saja yang kita peroleh. Tapi jauh seberapa bisa kita memaknai kehidupan dan apa yang kita peroleh tersebut. Dewasa itu bukan seberapa banyak kita tahu apa yang harus kita lakukan, tetapi tentang apa yang kita lakukan dan bagaimana kita bersikap ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan.. (#Senpai..)

Dulu… aku tak berharga

Tak tahu apa-apa….

Aku hanya bermimpi,

Tanpa ingin mewujudkannya…..

Selalu kesepian,

Hanya taburan bintang yang menemani….

Tapi sekarang…

Kau di sini

Merubah mimpi-mimpiku menjadi kenyataan

Merubah tangisku menjadi tawa.

Kini ku tak lagi kesepian

Karena selalu ditemani oleh dirimu

Terima kasih SAHABAT.

Para bijak mengatakan, letak kekuatan manusia ada pada harapannya.. sebesar apa harapan manusia pada apa yang ingin dicapai, maka sebesar itu pula kekuatan jiwanya..

Untuk itu,, Berharaplah kawan..

Saat semua hilang,, Harapan menjadi secercah cahaya..

Ketahuilah,, Apapun yang menjadikan kita tergetar,, itulah yang terbaik untuk kita..

SAHABAT,,

Beelajarlah menyukai semua yang kita dapatkan, karena tak selamanya kita mendapatkan apa yang kita sukai..

Apapun itu,, Lakukan yang terbaik..!!!

#MA10-10

3b230c752b0bc6c93197724c7d906532.0
Sumber: lupa dari mana.. hhee

 

Niaat,,

Di zaman saat ini, kiranya masih banyak hal yang membingungkan di dalam pikiran kita.. Membingungkan karena mungkin saja kita tidak punya tujuan.. atau mungkin juga, niat kita melakukannya memang belum benar..

Terkadang kita perlu berhenti sejenak,, kalau bahasa dosen saya; “We have to stop a moment, and smell the flowers”. Artinya, kita harus berhenti sejenak, dan mencium aroma bunga.. keluar dari rutinitas kehidupan kita,, dan mulai merenung.. Boleh jadi, dengan begitu kita akan benar-benar merasaha hidup..

Apakah ini yang kita benar-benar cari selama ini??

Kita hendaknya bisa menjawabnya sendiri-sendiri,, dan masing-masing dari kita punya jawabannya..

Penting untuk memperbaiki niat, karena dengan begitu, kita benar-benar yakin dengan apa yang kita lakukan.. bukankah, ketika akan melaksanakan ibadah, Niat menjadi rukunnya??

Terkhusus bagi yang sedang menuntut ilmu, tulisan di bawah ini mungkin bisa jadi renungan.. Catatan seorang santri yang menuntut ilmu..

 

#Yang sebenarnya kita cari ketika menuntut ilmu itu adalah ilmu itu sendiri,,

bukan untuk mencari pekerjaan.. ^^

Sebagian orang mungkin akan tertawa,, tapi biarkan saja,,

di zaman sekarang ini, tidak banyak yang memahami pemikiran kita..

Biarlah nanti, ilmu tersebut yang menuntun diri kita da membawa kita ke mana saja..

#Yang kita cari dari guru kita bukanlah pengetahuan mereka saja,, tapi lebih tinggi lagi,,

yaitu ADAB, KETELADANAN, dan KEBERKAHAN..

Bukankah, pengetahuan bisa kita dapan kapan saja? tidak dengan ADAB,, harus dilatih..

Bukankah, pengetahuan bisa kita cari di mana saja? tidak dengan keteladanan..

Bukankah, pengetahuan juga bisa kita dapatkan dari mana saja? tidak dengan keberkahan..

karena keberkahan,, hanya akan kita dapatkan setelah orang tua dan guru kita ridho..

Kemudian,, biarlah nanti keberkahan itu yang menuntun kita padaNYA..

“Ketika dua perkara, Ilmu dan Adab berkumpula jadi satu, maka dahulukanlah adab..” Tutur seorang bijak.. 🙂

Dan tujuan akhir dari niat kita adalah selalu padaNYA..

IMG_20180724_211912_HDR.jpg
Masjid di Tsukuba

Selamaat memperbaiki niaat.. 🙂