Kisah JK. Rowling,,

Kehidupan JK. Rowling (1)

Sebagian besar kita yang senang membaca novel dan menonton film Herry Potter tentu saja kenal dengan JK Rowling. Ia adalah salah satu penulis yang menjadi miliader karena novelnya. Novel Harry Potter diterjemahkan ke dalam lebih dari 80 bahasa di dunia. Beberapa tahun setelah menjadi miliader, tepatnya tahun 2000, ia kemudian mendirikan lembaga amal The Volant Charitable Trust untuk membantu yang membutuhkan. Sampai saat ini, ia masih aktif menulis beberapa novel.

Joanne Rowling lahir pada tanggal 31 Juli 1965 di Yate General Hospital, dekat Bristol. Kemudian tumbuh besar di Inggris dan di Chepstow, South-east Wales. Ayahnya, Peter, adalah seorang engineer di Bristol, dan ibunya, Anne, teknisi bidang kimia di Departemen Kimia Wyedean Comprehensive. Ibunya meninggal di tahun 1990. Keadaan ini merupakan masa terburuk yang pernah dialami oleh JK. Rowling, terlebih, saat itu, enam bulan sebelum ibunya meninggal, ia sudah mulai menulis novel pertama Herry Potter. Selain itu, ia juga punya saudara yang bernama Di..

Jo (nama panggilan JK. Rowling) mulia ingin menjadi seorang penulis sejak usia dini. Ia menulis buku pertamanya di usia 6 tahun yang berjudul ‘Rabbit’. Kemudian, di usia 11 tahun, ia menulis novel tentang tujuh permata terkutuk dan orang-orang yang memilikinya.

Ide tentang Harry Potter muncul ketika Jo duduk di kereta dari Manchaster ke London King’s Cross.

Dengan penuh perjuangan menghadapi segala masalah yang dimiliki Jo, ia melakukan hal yang paling disenanginya yaitu menulis dan menyelesaikan novelnya. Kehidupan yang sulit dimulai ketika ibunya meninggal dunia, ia bercerai dengan suaminya, sehingga harus mengurus Jessica (Anak pertama Jo) sendiri, tanpa pekerjaan, depresi, stress. Namun semua itu dihadapi dengan penuh perjuangan sambil menulis novel Harry Potter. Bahkan di saat itu, Jo sudah mebuat akhir cerita seri Harry Potter..

Sebagai penutup bagian awal ini, JK. Rowling ketika berbicara di Harvard University, bahkan ia pernah berpikir,

“… by every usual standard I was the biggest failure I knew”

 

Sumber:

www.jkrowling.com

Buku Very Good Lives, berisi pidato JK. Rowling di Harvard University

Advertisements

Berbagi,,

Bagaimanapun juga, memang sulit untuk tetap istiqomah menulis.. selalu ada alasan untuk tidak menulis.. tapi karna sudah diniatkan, insya Allah, selanjutnya akan selalu istiqomah..

Ada banyak bentuk dan cara kita berbagi dengan orang lain, bisa dengan berbagi makanan, ataupun bisa juga dengan berbagi masalah. Jika kita sedang memiliki kelebihan, tidak ada salahnya untuk berbagi kelebihan kita dengan orang di sekitar kita. Pun ketika ada orang yang memiliki masalah, tidak ada salahya kita juga mendengarkan mereka menceritakannya. Meskipun kadang kita tidak dapat memberikan solusi, tapi paling tidak, kita berusaha menjadi pendengar yang baik..

Bayangkan jika setiap orang yang memiliki kelebihan, berbagi dengan orang yang masih memiliki kekuranga. Bayangkan setiap orang yang memiliki ilmu, berbagi dengan mereka yang masih belum banyak belajar. Bayangkan jika saja kita semua bisa menjadi pendengar yang baik.. Maka mungkin, ada bnyak masalah yang akan teratasi…

Kita hendaknya memngingat kembali bahwa kita hidup di dunia ini hanyalah sementara. Ada kehidupan yang lebih kekal dan abadi yang akan kita kunjungi ketika maut sudah menjemput kita. Hidup di dunia ini hanyalah sebentar sekali jika dibandingkan dengan akhirat. Dan di dunia inilah tempat kita harus mempersiapkan diri kita di akhirat kelak. Kau tahu, yang akan kekal itu apa? Yang akan kekal hingga ke akhirat bukanlah apa yang kita miliki saat ini, namun apa yang kita berikan kepada makhlukNya yang lain. IA lah yang akan paling senang ketika kita mau berbagi, dan berbuat kebaikan..

Dalam kehidupan, ada saatnya kita tidak seharusnya  menggunakan hitung-hitungan. Yaitu ketika kita berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Sekecil apapun yang bisa kita berikan. Bukahkah, IA Yang Maha Memperhitungkan segala sesuatu? Bukankah, IA Yang Maha Membalas kebaikan yang kita lakukan? Jadi mari meringankan langkah dan uluran tangan kita untuk berbagi terhadap sesama..

Harta yang kita miliki sekarang ini adalah titipan dariNya, dan ada hak orang lain dalam setiap hal yang kita miliki.. hak-hak itulah yang hendaknya kita tunaikan dan berikan kepada yang berhak.. Habib Ja’far pernah berkata dalam twit beliau, “kau tahu suara musik yang haram? Yaitu suara garpun dan sendok kita ketika makan.. padahal tetangga dan orang-orang di lingkungan kita sedang kelaparan..”

Jadi, marilah kita sama-sama berbagi dan berbagi dengan sesama.. dengan begitu, hidup akan jadi lebih indah.. jika kita mampu berbagi dengan harta yang dititipkannya, mari bagikan dengan raut muka yang tersenyum kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.. insya Allah, yang kita miliki menjadi lebih berkah dan manfaat.. Namun, jika kita masih kekurangan, mari berbagi senyuman dan do’a.. Insya Allah, senyuman dan do’a itu akan kembali ke diri kita, dan di aminkan oleh malaikatNya.. Bukahkah, IA maha pengabul do’a?!! Serahkanlah selalu apa yang kita lakukan kepada takdir terbaik yang akan diberikanNya.. J

The 2nd Transdiciplinary Tea Talk by CTSS

Tema pada acara kali ini adalah From Quarks to Society: Understanding Emergent Properties, Complexity and The Interconnectedness of Life

Tulisan kali ini akan membicarakan tentang apa yang didapatkan dari acara CTSS ini..

Mendengarkan mereka yang benar-benar berilmu menjadikan kita tahu diri, seberapa kecil kita dan seberapa besar IA.

Tema yang menarik ini membahas tentang dunia dari yang terkecil yang sekarang diketahui oleh manusia dengan bantuan ilmu pengetahuan, sampai ilmu tentang seberapa besar semesta yang kita tinggali ini.

Bagian terkecil dari kehidupan ini adalah Quarks dan Leptons. Ukurannya kurang dari 10-18 m. Bayangkan sendiri, seberapa kecil bagian ini. Kemudian, bagian yang paling besar yang bisa diamati dengan ilmu pengetahuan saat ini adalah 1026 m. Di antara ‘dunia’ yang ada di semesta ini, kita berada pada dunia Mesoskopik. Ada begitu banyak hal yang dipelajari sari ini semua. Kau tahu kawan, yang baru bisa kita amati dari materi yang dikenal di bidang fisika hanyalah sebanyak 4,2%. Sisanya adalah bagian semesta yang belum dapat kita fahami atau dengan kata lain, 96% of universe contents not known. Beruntungnya, ada karakter hukum alam yang diikuti oleh semua materi di semesta. Karakter tersebut antara lain: prinsip energi minimum (God’s given rule), diatur oleh hukum yang sederhana, dan symetries underlying the laws. Hal ini yang menjadikan para ahli fisika dapat memahami materi.

Di atas adalah ringkasan materi oleh Prof. Husin Alatas sebagai pemateri pertama..

Beliau juga menambahkan,,

Kali ini tentang Partikel Higgs yang lebih dikenal God Partikel yang masih berusaha untuk dipahami sampai sekarang.. dan sebagai penutup, beliau menambahkan, “… Now I know that I knew nothing..”

Pembicara kedua adalah Prof. Antonius Suwanto.. Bidang keahlian beliau adalah Bakteri..

Beliau membuka dengan kalimat “Microbes: Our invicible – Invincible partners”

Selanjutnya, beliau kemudian menjelaskan bahwa bakteri adalah bagian dari kehidupan kita yang tidak banyak kita sadari. Padahal, jumlah bakteri dalam tubuh kita lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sel kita.. Jumlah sel di tubuh kita lebih kurang 10.000.000.000.000 sel, sedangkan jumlah bakteri dalam tubuh kita sepuluh kali lipatnya.. bisa dibayangkan..

Oh iya, pengetahuan umum kita tentang sumber energi utama adalah matahari, mungkin perlu dikoreksi lagi. Bahwa, di tempat yang tidak terkena sinar matahari pun, masih terdapat kehidupan..

Beliau menutup, “You are your bacteria”..

Pembicara terakhir adalah Dr. Rilus,,

Beliau merangkum semua materi dari awal, kemudian beliau menyampaikan,

“Dalam diri kita, terdapat I and me. Bagian ‘I’, lebih independen dan kreatif sedangkan bagian ‘me’, kita sebagai objek.”

Akhirnyaaa,,

Semakin kita belajar, semakin kita tidak mudah menjawab pertanyaan dan semakin kita sadar bahwa semakin diri kita tidak banyak mengetahui..

Pada akhirnya, semoga semua ilmu yang kita dapatkan menjadikan kita lebih dekat denganNya.. 🙂

Perjuangan dan Takdir

Kata sebagian orang, “Hidup adalah perjuangan, maka kau harus terus berjuang selama hidupmu”

Sebagian lainnya mengatakan bahwa, “Hidup ini hanya sekali, jadi jangan sampai kau melakukan apa yang akan kau sesali jika melakukannya”

Setiap orang memang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan sebagian orang, harus berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Setiap orang berbeda-beda, tergantung dari takdir yang digariskannya.

Ada orang yang berjuang di awal. Ia biasanya berasal dari kalangan yang kurang mampu. Selama ia mampu untuk terus berjuang dan tetap memegang teguh impiannya, suatu saat, pasti ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan. Ada banyaaak sekali cerita orang-orang sukses yang berjuang sedari awal untuk memenuhi kehidupannya. Biasanya, ia di kemudian hari menjadi orang-orang besar. Karena sudah biasa berjuang di awal untuk memenuhi kebutuhannya, ia menjadi orang yang bisa berjuang untuk memenuhi keinginannya kemudian. Kapan ia bisa mencapai apa yang diharapkannya? Syaratnya satu, perjuangan yang dilakukannya terus menerus, bertemu dengan takdir dariNya. Yakinlah, IA tidak akan pernah mengecewakan hambaNya.

Di sisi lain, ada orang yang hidup berkecukupan atau berlebih. Ia tidak harus berjuang atau berusaha untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya sehingga ia terbiasa mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Akibatnya? Ia kurang terlatih untuk berjuang. Ada kecualinya juga, yaitu orang-orang yang walaupun berkecukupan, ia menempatkan diri pada kondisi yang mengharuskannya untuk berjuang. Orang yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan akan cenderung memiliki semangat juang yang rendah. Mengapa? Karena memang ia tidak terlatih untuk berjuang. Apakah keliru? Menurut saya tidak. Jika kira termasuk yang sering mendapatkan apa yang kita inginkan, mulai sekarang, kita harus bisa melatih diri untuk berjuang. Menempatkan diri untuk berusaha mendapatkan sesuatu, dan belajar juga untuk menghargai apa yang sulit ataupun mudah kita dapatkan, apalagi yang kita miliki saat ini.

Akan ada saatnya dalam hidup seseorang ketika ia tidak mendaptkan apa yang diinginkannya, ketika ia bahkan harus berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Maka siapapun kita, harus bersiap. Pun mereka yang telah berjuang pun harus tetap mempersiapkan diri. Takdir ke depan siapa yang tahu, kecuali IA. Maka,, ingatlah untuk tetap mengingatNya, kapanpun dan dimanapun kita.

Masing-masing orang tidak bisa memilih berada di golongan yang mana. Harus berjuang terlebih dahulu kah, atau berjuang nanti di kemudian hari. Hanya IA yang tahu takdir kita. Namun satu hal, kita harus selalu berjuang, entah berjuang untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan maupun inginkan. Ataupun untuk berjuang mensyukuri apa yang kita miliki saat ini.

Hidup hanya sekali, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang kita akan menyesalinya jika melakukannya. Terus berjuang dan mari sertakan IA selalu dalam perjuangan kita,, bahkan dalam setiap gerak langkah dan hembusan nafas kita. Semoga kita bisa!!!

Bogor, 13 Februari 2019 🙂

Mengenal Dunia Luar,,

Sebagai bagian dari generasi yang lahir di tahun 1990-an, saya banyak mengalami pengalaman yang tidak akan ditemukan di era seperti saat ini dan saya bersyukur sekali karena bisa mengalaminya..

Tapi,, mungkin setiap generasi punya tantangan dan kelebihannya masing-masing.. tinggal selanjutnya, kita yang harus pandai-pandai mengambil pelajaran dari perubahan zaman yang selalu dinamis..

Tahun 2005 adalah tahun pertama saya masuk ke Pondok Pesantren.. Saya merupakan satu di antara teman-teman lainnya yang memilih untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren.. Memikirkannya saat ini membuat saya rindu dengan kehidupan di Pesantren dulu..

Kita tinggal di pesantren 24 jam, sejak mulai bangun tidur, sampai tidur lagi.. Pada awal masuk pesantren, tentu saja, tidak betah.. Banyak aturan yang ketat, hukuman, masalah, dll.. Namun seiring dengan berjalannya waktu, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, saya berangsur menyukai hidup di pesantren.. Di pesantren saya mengenal banyak hal, mendapatkan sahabat, belajar hidup bersama, belajar susah bersama, mengaji bersama, dihukum bersama dll.. Di saat teman-teman yang lain bebas ke mana saja tanpa terikat aturan, saya dan teman-teman di pesantren diajarkan untuk menaati aturan.. Tapi ada juga,, saat-saat saya juga melanggar beberapa aturan.. hhee

Masih ada banyak kisah di pesantren yang menarik untuk diabadikan.. Tapi sampai di sini dulu..

Kembali ke mengenal dunia luar..

Ketika lulus dari pesantren adalah saat-saat mengenal dunia luar.. Untuk pertama kalinya, saya membeli handphone sendiri.. hhee Berbekal uang beasiswa, saya membeli handphone yang bisa memutar lagu-lagu.. di masa itu, handphone ini adalah barang mewah yang tidak saya miliki kecuali setelah selesai dari pesantren.. Saya kemudian tersadar, dan besyukur sekali karena memiliki handphone setelah lulus Madrasah Aliyah.. Sebenarnya, saat ini bukan saat pertama saya mengenal handphone karena ada teman-teman lain yang juga memilikinya, serta, ada juga guru saya yang sering meminjamkan handphone-nya untuk sekedar mendengarkan musik..

Satu hal yang paling saya syukuri sampai saat ini adalah saya mengenal dunia luar ketika saya sudah memiliki pegangan yang menjadikan saya tidak mudah terbawa arus ‘dunia luar’.. Pondok Pesantren memberikan pegangan dan pedoman bahwa kau tidak boleh ikut arus,, sebisa mungkin, kau buat arus sendiri.. Pun ketika saya diberikan kesempatan untuk merantau dan keluar lebih jauh lagi, apa yang saya dapatkan dan pelajari selama di pondok pesantren dulu menjaga saya dari arus zaman yang selalu berubah dan tidak menentu..

Zaman akan selalu berubah,, dunia luar juga dunia yang harus kita hadapi agar kita tahu bahwa dunia tidak sesempit yang kita pikirkan.. Ada banyak sekali lembaran yang perlu kita isi dalam kehidupan kita..  Ada banyak sekali yang harus kita kunjungi untuk merasakan seberapa besar dunia ini, dan seberapa kecil kita.. dengan begitu, kita menjadi tahu seberapa besarNya ia.. Bagaimanapun keadaan ‘dunia luar’, kita hendaknya tidak lupa untuk selalu kembali padaNya.. Karena IA adalah muara dari segala sesuatu..

Hidup di Dunia ini hanya sekali saja,, dan yang akan datang adalah waktu yang paling dekat.. Jadi, jangan sia-siakan hidup kita.. Keluarlah, jelajahi dunia luar, tapi jangan lupa selalu kembali padaNya di ujung hari-harimu.. 🙂

Bogor, 12 Februari 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah Awal Baru..

Setiap hari adalah awal yang baru.. setidaknya, itulah yang ada di pandangan mereka yang optimis (atau belajar untuk optimis)..

Tulisan ini adalah tulisan pertama yang dihajatkan bukan juga menjadi tulisan terakhir. Ada banyak hal yang menjadi pemicunya, salah satunya adalah tulisan dari DI’s way yang membangkitkan lagi semangat menulis penulis. Semoga tulisan ini dan tulisan selanjutnya dapat bermanfaat..

Awal yang baru selalu menjadi hari yang menyenangkan, karena kita memang menemukan hal yang baru. Tentu saja selanjutnya, pasti akan selalu ada alasan untuk tidak melanjutkannya. Namun tentu saja, selalu lebih banyak alasan untuk terus melanjutkannya secara istiqomah, asalkan kita mau mencarinya, atau bahkan membuatnya sendiri..

‘Menulis’ bagi sebagian orang adalah hal yang susah. Namun bagi sebagian lainnya, menulis adalah aktivitas yang menyenangkan.

‘Menulis’ dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat dan pikiran kita. Katanya, “Menulislah, maka kau abadi”.

‘Menulis’ tentu tidak bisa langsung berharap bagus, dan enak dibaca orang lain. Tapi nikmati saja lah, karena seperti halnya sebuah karya, tidak akan pernah langsung menjadi bagus di mata orang.

‘Menulis’lah,, maka kau bisa memiliki lebih banyak lagi kehidupan. Bagaimana tidak, apa yang kau alami saat ini akan dapat engkau kenang di kemudian hari melalui tulisanmu.

‘Menulis’lah,, dengan pena, ataupun dengan alat tulis lainnya. Bukankah wahyu pertama juga mengandung kata Qolam??!

‘Menulis’lah,, tapi jangan lupa membaca, agar tulisan yang kau buat dapat lebih bermanfaat lagi.. Agar tulisan yang kau hasilkan lebih berkah lagi.

‘Menulis’lah,, semoga ke depan bisa tetap istiqomah.. Amiin..

‘Menulis’lah,, dengan mengawali menyebut nama-Nya.. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adab

Di Pesantren dulu,, kami selalu diajari bahwa Adab berada di atas ilmu..

Adab itu sendiri adalah ilmu itu juga,, ilmu yang diamalkan..

Nahh,, jadi, mereka yang menjaga adab adalah mereka yang menjaga ilmu yang dimilikinya, sekecil apapun itu..

Di zaman sekarang ini,, kita sering kali memisahkan adab dengan ilmu yang kita pahami..

Ingat pula lah,, bahwa alat tidak boleh menjadikan kita menghilangkan adab itu sendiri.. seperti menggunakan ketika kita menggunakan alat komunikasi,, ada adab yang harus kita tetap jaga..

Adab kita terhadap makhlukNya,, menggambarkan bagaimana adab kita terhadapNya..