Dari,,

Kita takkan bisa hidup sendiri,, akan selalu ada bagian hati kita yang diisi oleh orang-orang di sekitar kita.. Merekalah juga yang membuat kita berada di sini, saat ini.. Ada yang tertulis menjadi kata,, namun ada yang terucap lewat tutur..

Coretan dari,, mereka yang peduli..

###

Ini cuma catatan iseng dan sok tau, hhe :D.

Sesorang pernah mengatakan ini padaku, ketika aku bercerita betapa merasa terkungkungnya aku dalam lingkungan yang kecil dan monoton ini.

“So far, we’re in our own. Nobody have right to be manage someone else. In the other words, we could say that we will get ours and they’ll get theirs. Don’t be afraid to be different from others because the others ones don’t have any right on ourselves. Be free in your choices to take many opportunities ”.

Jadi pada initinya hidup ini bukanlah tentang seberapa besar lingkungan tempat tinggal kita. Juga bukan tentang apa saja yang kita peroleh. Tapi jauh seberapa bisa kita memaknai kehidupan dan apa yang kita peroleh tersebut. Dewasa itu bukan seberapa banyak kita tahu apa yang harus kita lakukan, tetapi tentang apa yang kita lakukan dan bagaimana kita bersikap ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan.. (#Senpai..)

Dulu… aku tak berharga

Tak tahu apa-apa….

Aku hanya bermimpi,

Tanpa ingin mewujudkannya…..

Selalu kesepian,

Hanya taburan bintang yang menemani….

Tapi sekarang…

Kau di sini

Merubah mimpi-mimpiku menjadi kenyataan

Merubah tangisku menjadi tawa.

Kini ku tak lagi kesepian

Karena selalu ditemani oleh dirimu

Terima kasih SAHABAT.

Para bijak mengatakan, letak kekuatan manusia ada pada harapannya.. sebesar apa harapan manusia pada apa yang ingin dicapai, maka sebesar itu pula kekuatan jiwanya..

Untuk itu,, Berharaplah kawan..

Saat semua hilang,, Harapan menjadi secercah cahaya..

Ketahuilah,, Apapun yang menjadikan kita tergetar,, itulah yang terbaik untuk kita..

SAHABAT,,

Beelajarlah menyukai semua yang kita dapatkan, karena tak selamanya kita mendapatkan apa yang kita sukai..

Apapun itu,, Lakukan yang terbaik..!!!

#MA10-10

3b230c752b0bc6c93197724c7d906532.0
Sumber: lupa dari mana.. hhee

 

Advertisements

Niaat,,

Di zaman saat ini, kiranya masih banyak hal yang membingungkan di dalam pikiran kita.. Membingungkan karena mungkin saja kita tidak punya tujuan.. atau mungkin juga, niat kita melakukannya memang belum benar..

Terkadang kita perlu berhenti sejenak,, kalau bahasa dosen saya; “We have to stop a moment, and smell the flowers”. Artinya, kita harus berhenti sejenak, dan mencium aroma bunga.. keluar dari rutinitas kehidupan kita,, dan mulai merenung.. Boleh jadi, dengan begitu kita akan benar-benar merasaha hidup..

Apakah ini yang kita benar-benar cari selama ini??

Kita hendaknya bisa menjawabnya sendiri-sendiri,, dan masing-masing dari kita punya jawabannya..

Penting untuk memperbaiki niat, karena dengan begitu, kita benar-benar yakin dengan apa yang kita lakukan.. bukankah, ketika akan melaksanakan ibadah, Niat menjadi rukunnya??

Terkhusus bagi yang sedang menuntut ilmu, tulisan di bawah ini mungkin bisa jadi renungan.. Catatan seorang santri yang menuntut ilmu..

 

#Yang sebenarnya kita cari ketika menuntut ilmu itu adalah ilmu itu sendiri,,

bukan untuk mencari pekerjaan.. ^^

Sebagian orang mungkin akan tertawa,, tapi biarkan saja,,

di zaman sekarang ini, tidak banyak yang memahami pemikiran kita..

Biarlah nanti, ilmu tersebut yang menuntun diri kita da membawa kita ke mana saja..

#Yang kita cari dari guru kita bukanlah pengetahuan mereka saja,, tapi lebih tinggi lagi,,

yaitu ADAB, KETELADANAN, dan KEBERKAHAN..

Bukankah, pengetahuan bisa kita dapan kapan saja? tidak dengan ADAB,, harus dilatih..

Bukankah, pengetahuan bisa kita cari di mana saja? tidak dengan keteladanan..

Bukankah, pengetahuan juga bisa kita dapatkan dari mana saja? tidak dengan keberkahan..

karena keberkahan,, hanya akan kita dapatkan setelah orang tua dan guru kita ridho..

Kemudian,, biarlah nanti keberkahan itu yang menuntun kita padaNYA..

“Ketika dua perkara, Ilmu dan Adab berkumpula jadi satu, maka dahulukanlah adab..” Tutur seorang bijak.. 🙂

Dan tujuan akhir dari niat kita adalah selalu padaNYA..

IMG_20180724_211912_HDR.jpg
Masjid di Tsukuba

Selamaat memperbaiki niaat.. 🙂

Waktu,,

Waktu demi waktu yang kita jalani.. Setiap desah nafas kita adalah selangkah menuju kubur, sehingga perayaan ulang tahun kita adalah perayaan berkurangnya umur kita di dunia ini.. Yang terpenting ialah bukan perayaan tersebut, namun bagaimana kita bisa menjadikan saat-saat perayaan tersebut sebagai saat-saat kita mengevaluasi diri, memperbaiki diri, merenung, bermuhasabah,,,

Apa yang sudah kita lakukan?

Apa yang belum kita lakukan?

Apakah yang akan kita lakukan kita lakukan?

Apakah kita sudah bermanfaat bagi orang lain?

Alangkah ruginya, jika kita menjalani sesuatu yang berharga dan kita sia-siakan, sampai ada yang mengatakan bahwa orang yang paling bodoh adalah orang yang diberikan modal, namun disia-siakan..

Tak dapat dipungkiri, bahwa satu-satunya yang tidak bisa kita rem adalah waktu. Sehingga merugilah mereka yang menyia-nyiakan waktunya, dan beruntunglah meraka yang bisa menjadikan setiap waktunya sebagai amal.

Lihat sampah berserakan, pungut buang di tong sampah,

Lihat lantai kotor, sapu.. lihat kamar berantakan, rapikan..

Lihat batu di tengah jalan kepinggirkan..

Setiap orang memiliki waktu yang sama, orang yang berhasil dengan orang yang gagal punya waktu yang sama.. Orang yang bahagia dengan orang yang sengsara memiliki waktu yang sama, dan orang yang ahli surga dengan yang ahli neraka..

Waktu itu relatif,,

Bagi sebagian orang, waktu 15 menit adalah waktu yang berharga, banyak yang bisa dilakukan.. Bagi sebagian lainnya, waktu 15 menit hanya lewat begitu saja, tanpa arti, tanpa bekas apapun..

Waktu itu terasa cepat,, sebenarnya,,

Yang membuatnya lama hanya perasaan kita saja..

Hidup ini hanya sekali,

jangan buat berlalu tanpa arti.. 🙂

Bukankah, IA bersumpah atas nama waktu, dan yang paling baik adalah yang setiap waktunya dipenuhi oleh kebaikan??

Jangan lupa melangkah untuk berbuat baik.. 🙂

###

DSCF0489
Sumber: SRP 2018

Bogor, 27 Februari 2019

Ngaji,,

41215934_1966101730078691_5602127192239636480_n
Sumbernya lupaa,, maafkeun.. 🙂

Ngaji adalah kata yang tidak asing di telinga setiap orang. Setidaknya, di telinga masyarakat di pedesaan. Kurang tahu di perkotaan, mungkin berbeda, atau pun juga sama..

Kalau di desa penulis, setiap ba’da magrib, waktunya untuk mengaji al-qur’an bagi anak-anak. Masih banyak guru-guru ngaji. Mereka tidak dibayar sepeserpun. Kalaupun ada, mungkin setahun sekali, ketika ada yang khataman al-qur’an. Itu pun berupa jajanan lebaran dengan aksesoris dan saudara-saudaranya. Selebihnya, mereka hanya mengharapkan ridhoNya. Semoga mereka tetap istiqomah dan membimbing generasi-generasi selanjutnya..

Oh iya, dulu ada istilah besoalan atau besoalam atau penulis lupa istilahnya (huruf ‘e’ dibaca seperti huruf ‘e’ pada kata sesak). Dulu dilaksanakan setiap malam selasa, tapi tergantung guru ngaji juga. Di malam-malam biasa, kita hanya melanjutkan bacaan qu’an kita. ketika besoalan, kita bawa makanan sendiri, berdo’a dan mengaji. Membaca shalawat dan amalan-amalan lainnya. Malam inilah yang selalu ditunggu. Karena selain ngaji, dapat makan-makan juga.. hhee. Kita hanya libur ngaji setiap malam jum’at. Nahh, malam inilah waktunya libur ngaji.

Ngaji hendaknya membuat kita tenang. Baik ngaji al-qur’an, ataupun ngaji ke ulama’-ulama’ di desa, maupun di luar desa. Karena, bukankah tujuan kita adalah untuk mendekatkan diri padaNya? Jadi kalau setelah ngaji, kita tidak tenang dan membuat kita benci, berarti kita ngaji di tempat yang salah. Di desa penulis, para ibu-ibu mengaji ke Tuan Guru setiap hari minggu. Berangkat minggu pagi. Kenakan batik berwarna hijau. Khas ibu-ibu muslimat NU. Apa yang dapatkan di sana saat mengaji, kemudian beliau amalkan di rumah. Beliau ajarkan kepada anak-anaknya.

Masih banyaak lagii..

Tapi mungkin di kesempatan selanjutnya sajaa.. 🙂

Itu di desa penulis,, bagaimana di desa pembaca?!!

Jadi,, mari jangan sampai berhenti Ngaji.. Ngaji agama, maupun Ngaji ilmu pengetahuan..

Sebagai penutup,,

Dua tahun lalu, penulis sempat mengaji.. Ngaji Kitab Nasho’ihul ‘Ibad.. Penulis ingin membagikannya di sini.. Semoga manfaat.. ^^

Pesan Hasan Al-Basri:

# Orang yang tidak punya adab, maka tidak ada ilmu padanya..

Maksudnya, ia tidak akan mendapatkan ilmu yang berkah. Bisa saja ia menjadi pintar, tapi ilmunya tidak memberikan manfaat dan tidak mendekatkan ia padaNya..

# Orang yang tidak punya kesabaran, maka kurang agamanya..

Kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran atas ujian, kesabaran atas celaan makhluk dan lain-lain..

Tingkatan kesabaran:

  • Tidak mengeluh, derajatnya para tabi’in..
  • Ridho dengan takdir, derajatnya orang yang zuhud..
  • Senang diuji, derajatnya orang yang “Shiddiq”

# Orang yang tidak Wira’i, maka tidak ada keberuntungan baginya..

Maksudnya, orang yang tidak wira’i adalah orang yang suka memakan barang subhat.. apalagi jika makan barang haram..

Bogor, 26 Februari 2019

Puisi,,

Sekadar Puisi

Nuansa Manusia

Manusia memang sungguh aneh

terkadang kebenaran

dianggap sebuah kebohongan,,,

Terkadang takdir

tak pernah bisa ia terima,,,

Pun juga

Terkadang sebuah kepastian

dapat menjadi kabur di hadapannya…

Itulah manusia

Ia bercermin, namun melihat dengan terbalik..

Aneh memang

Cinta yang suci

dianggapnya buta dan menyengsarakan,,,

Kasih sayang tulus

sering kali dianggap kebohongan,,,

atau,, terkadang,, dibelokkan sekalian,,

Persahabatan sejati

sering pula dikhianati…

Namun sadarlah wahai manusia

Cinta kan tetap suci

Kasih sayang takkan pernah hilang

dan persahabatan

kan selamanya abadi dan sejati…

Seberapa pun engkau menghinanya

Seberapa pun engkau menodai dan mengkhianatinya…

Karena cinta, kasih sayang,

Kan tetap abadi seperti sedia kala

Apapun yang engkau lakukan padanya…

# AJ #

IMG_20190222_073547_HDR.jpg
Bunga Pucuk Merah

Puisi dapat menjadi sarana untuk meluapkan perasaan. Sebenarnya, setiap orang bisa membuat puisinya masing-masing. Kata guru saya dulu, “Puisi tidak dapat dinilai, bagus atau tidak.. Selama si penulis jujur mengungkapkan apa yang dirasakannya.. Biarlah orang lain yang kemudian menafsiri apa adanya..”

Kau tahu sastra dan puisi tertinggi,,?? Ia-lah Al-Qur’an yang mulia..

Setiap hurufnya adalah gambaran keindahanNya..

Setiap katanya adalah jelmaan keagunganNya..

dan setiap kalimatnya adalah rupa keanggunanNya..

Kita membacanya setiap hari,, namun kita takkan pernah tidak menemukan ketenangan di dalamnya..

Al-Qur’an adalah permata yang takkan pernah pudar..

dan yang terpenting,, dengannya lah kita bisa bercengkrama denganNya..

###

Sudahkah kita bercengkrama denganNya hari ini..??!!! 🙂

 

Corat-coret,,

Mengumpulkan huruf demi huruf yang tercecer..

Boleh dibaca mulai dari mana pun..

“Beranilah berubah,,,

dan pergilah ke tempat yang kalian impikan…”

*Ratu Otohime_One Piece*

Jangan terlalu banyak membuat alasan, bahkan terkadang engkau harus melupakan alasan-alasan. Karena untuk dapat melakukan hal yang besar engkau harus lebih banyak membuang alasan-alasan yang menjadikanmu takut melangkah, takut mengambil resiko dan takut berbuat sesuatu…

“Masa lalu dan masa depan tidaklah sama, tapi mereka tidak benar-benar terpisahkan…

yang menang bukanlah yang kuat, tapi yang kuatlah yang menang…”

*Kiseki no Sedai*

Hidup ini bukan hanya tentang bagaimana memulai sesuatu, namun bagaimana untuk tetap bertahan ketika sudah memulainya, dan terus melangkah dengan bijak….

Betapapun sibuknya diri kita, jangan pernah lupa untuk berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk mengambil langkah yang lebih baik lagi…

MULAILAH DI AKHIR, DAN BERAKHIR DI AWAL

*BJ. Habiebie*

BAHAGIA itu sederhana…

Belajarlah dari bayi, hanya dengan merobek kertas Ia bisa tertawa… ^^ #Unknown

IMG_20180725_175744_HDR
Kampus Tsukuba

Enam huruf: I K H L A S,,

img_20190222_072927_hdr.jpg
Kupu-kupu dan bunga pucuk merah

Keikhlasan adalah hal yang ingin dimiliki sebagai orang yang beragama agar apa yang dilakukan diterima olehNya. Ada beberapa tingkatan orang ikhlas. Tingkatan tertinggi adalah ketika kita melakukan sesuatu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah adalah kita melakukan suatu kebaikan agar dimasukkan ke surgaNya dan dijauhkan dari nerakaNya..

Pernah nonton film Kiamat Sudah Dekat?

Dalam salah satu episodenya, film tersebut mencoba menggambarkan seseorang yang ingin sekali mencari keikhlasan. Ia mencarinya agar ia bisa menikahi perempuan yang menjadi pujaan hatinya. Ikhlas menjadi syarat yang diberikan orang tua perempuan tersebut. Ia pergi ke toko buku, ke perpustakaan dan tempat lainnya. Segala hal yang bertuliskan ikhlas, dibacanya. Sampai-sampai,, papan masjid Al-Ikhlas pun diambilnya. Hhee..

Namun ia tidak menemukan. Pada akhirnya,, setelah berusaha dengan keras namun tidak menemukannya, ia pun kemudian pasrah. Tidak dapat menemukan arti keikhlasan, sehingga dalam pikirannya, ia pasrah tidak mendapatkan pujaan hatinya karena tidak berhasil menemukan makna keikhlasan tersebut. Tapi pada akhirnya, kepasrahannya merupakan bentuk keikhlasan itu sendiri.

Ikhlas dapat berarti menyingkirkan segala sesuatu yang bukan buat Tuhan

Ikhlas itulah air,, sebagai penyiram untuk benih yang kita tanam.. Jika tidak, maka benih yang ditanam tidak akan tumbuh..

Ikhlas, rahasia antara hamba dengan Tuhannya.. Malaikat pun tidak tahu, sehingga tidak ditulis.. Setan tidak tahu, sehingga tidak digoda..

Ada beberapa tanda-tanda orang yang ikhlas, yaitu:

  1. Dipuji atau tidak dipuji, sama saja, dan biasanya ingin menghindar dari pujian
  2. Tidak segan memuji orang yang melakukan kebaikan. Mengapa tidak, bukankah memuji orang yang melakukan kebaikan berarti kita juga bangga karena orang lain berbuat kebaikan?
  3. Takut dihinggapi sesuatu yang bertentangan dengan keikhlasan,, takut tidak diterima apa yang sudah dilakukannya. Ketakutan ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang sekarang. Para ulama’ zaman dahulu sangat takut sekali dilihat melakukan kebaikan sehingga beliau-beliau melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Pun ketika melakukan sembunyi-sembunyi, beliau-beliau selalu berdo’a agar dihindarkan dari perasaan telah melakukan kebaikan.
  4. Selalu menuduh dirinya bahwa amalannya tidak sempurna, sehingga selalu berusaha lebih baik lagi di kemudian hari.

Di pesantren dulu, sering kali kita mendengar tentang kisah Sayyidina Umar bin Khattab RA. dengan keikhlasan beliau. Ketika beliau menjadi khalifah, beliau sendiri yang memikul bahan-bahan makanan untuk dibagikan kepada kaun fakir miskin. Tanpa sama sekali diketahui oleh mereka bahwa yang memberikannya adalah sang khalifah..

Terang-terangan memberi sedekah itu tidak apa-apa..

Menerima sesuatu, tidak berarti tidak ikhlas..

Menolak sesuatu belum tentu ikhlas.. 🙂

Sebagai penutup..

Habib Syech Abdul Qodir Assegaf pernah bertutur dalam sebuah ceramah beliau.

Jika suatu ketika, kau ditanya, manakah yang lebih baik, bersedekah uang 1 juta rupiah namun tidak ikhlas. Atau kah bersedekah 10 ribu, tapi ikhlas (katanya)??

Beliau melanjutkan,, lebih baik bersedekah 1 juta rupiah walaupun tidak ikhlas. Mengapa? Karena mungkin saja, orang yang kita berikan akan mendo’akanmu sehingga kau menjadi orang yang ikhlas. Meskipun ketika itu kau tidak ikhlas, tapi dengan do’a orang yang kau beri, menjadikanNya ridho terhadapmu.. 🙂

Itu saja untuk tulisan kali ini.. Terima Kasih 😀

#Sebagian materi disadur dari ceramah Habib Syech..