Enam huruf: I K H L A S,,

img_20190222_072927_hdr.jpg
Kupu-kupu dan bunga pucuk merah

Keikhlasan adalah hal yang ingin dimiliki sebagai orang yang beragama agar apa yang dilakukan diterima olehNya. Ada beberapa tingkatan orang ikhlas. Tingkatan tertinggi adalah ketika kita melakukan sesuatu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah adalah kita melakukan suatu kebaikan agar dimasukkan ke surgaNya dan dijauhkan dari nerakaNya..

Pernah nonton film Kiamat Sudah Dekat?

Dalam salah satu episodenya, film tersebut mencoba menggambarkan seseorang yang ingin sekali mencari keikhlasan. Ia mencarinya agar ia bisa menikahi perempuan yang menjadi pujaan hatinya. Ikhlas menjadi syarat yang diberikan orang tua perempuan tersebut. Ia pergi ke toko buku, ke perpustakaan dan tempat lainnya. Segala hal yang bertuliskan ikhlas, dibacanya. Sampai-sampai,, papan masjid Al-Ikhlas pun diambilnya. Hhee..

Namun ia tidak menemukan. Pada akhirnya,, setelah berusaha dengan keras namun tidak menemukannya, ia pun kemudian pasrah. Tidak dapat menemukan arti keikhlasan, sehingga dalam pikirannya, ia pasrah tidak mendapatkan pujaan hatinya karena tidak berhasil menemukan makna keikhlasan tersebut. Tapi pada akhirnya, kepasrahannya merupakan bentuk keikhlasan itu sendiri.

Ikhlas dapat berarti menyingkirkan segala sesuatu yang bukan buat Tuhan

Ikhlas itulah air,, sebagai penyiram untuk benih yang kita tanam.. Jika tidak, maka benih yang ditanam tidak akan tumbuh..

Ikhlas, rahasia antara hamba dengan Tuhannya.. Malaikat pun tidak tahu, sehingga tidak ditulis.. Setan tidak tahu, sehingga tidak digoda..

Ada beberapa tanda-tanda orang yang ikhlas, yaitu:

  1. Dipuji atau tidak dipuji, sama saja, dan biasanya ingin menghindar dari pujian
  2. Tidak segan memuji orang yang melakukan kebaikan. Mengapa tidak, bukankah memuji orang yang melakukan kebaikan berarti kita juga bangga karena orang lain berbuat kebaikan?
  3. Takut dihinggapi sesuatu yang bertentangan dengan keikhlasan,, takut tidak diterima apa yang sudah dilakukannya. Ketakutan ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang sekarang. Para ulama’ zaman dahulu sangat takut sekali dilihat melakukan kebaikan sehingga beliau-beliau melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Pun ketika melakukan sembunyi-sembunyi, beliau-beliau selalu berdo’a agar dihindarkan dari perasaan telah melakukan kebaikan.
  4. Selalu menuduh dirinya bahwa amalannya tidak sempurna, sehingga selalu berusaha lebih baik lagi di kemudian hari.

Di pesantren dulu, sering kali kita mendengar tentang kisah Sayyidina Umar bin Khattab RA. dengan keikhlasan beliau. Ketika beliau menjadi khalifah, beliau sendiri yang memikul bahan-bahan makanan untuk dibagikan kepada kaun fakir miskin. Tanpa sama sekali diketahui oleh mereka bahwa yang memberikannya adalah sang khalifah..

Terang-terangan memberi sedekah itu tidak apa-apa..

Menerima sesuatu, tidak berarti tidak ikhlas..

Menolak sesuatu belum tentu ikhlas.. 🙂

Sebagai penutup..

Habib Syech Abdul Qodir Assegaf pernah bertutur dalam sebuah ceramah beliau.

Jika suatu ketika, kau ditanya, manakah yang lebih baik, bersedekah uang 1 juta rupiah namun tidak ikhlas. Atau kah bersedekah 10 ribu, tapi ikhlas (katanya)??

Beliau melanjutkan,, lebih baik bersedekah 1 juta rupiah walaupun tidak ikhlas. Mengapa? Karena mungkin saja, orang yang kita berikan akan mendo’akanmu sehingga kau menjadi orang yang ikhlas. Meskipun ketika itu kau tidak ikhlas, tapi dengan do’a orang yang kau beri, menjadikanNya ridho terhadapmu.. 🙂

Itu saja untuk tulisan kali ini.. Terima Kasih 😀

#Sebagian materi disadur dari ceramah Habib Syech..

Advertisements

Belajar dari Heni Sri Sundani, Inspirasi dari Jampang

Tulisan kali ini adalah ringkasan pengalaman dan pelajaran yang dapat penulis ambil dari kunjungan penulis ke AgroEdu Jampang bersama teman-teman FW Proteksi Tanaman IPB, 21 Mei 2017 lalu.

18557357_534217223633807_1671884866938424805_n
Sumber: FB Forwacana Proteksi Tanaman IPB

Pertemuan awal penulis pertama kali dengan mbak Heni adalah di Wisma Hijau tahun 2016. Waktu itu beliau menjadi pemateri pada kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) – 65 (Guna Sangkara).

Satu hal yang dulu saya ingat, beliau pernah mengatakan

“Pendidikan itu seperti menanam, kita tidak dapat memetik hasilnya dalam waktu dekat” 🙂

Beliau pernah juga ke Pondok Pesantren Nurul Haramain di Narmada, Lombok. Pondok Pondok Nurul Haramain itu dekat dengan tempat tinggal penulis dan pondok tempat penulis menuntut ilmu, yaitu Pesantren Qur’aniyah Batu Kuta, Narmada.. hhee

Tanpa berpanjang kata, berikut kisah beliau… Selamat Membaca.. ^^ ###

Senyum ini tidaklah lahir begitu saja,, begitu panjang perjalanan mbak heni sehingga dapat menyunggingkan senyum lepas hari ini. Bertemu di desa jampang dengan beliau bersama teman-teman proteksi tanaman, menjadi pengalaman yang berharga. Beliau kemudian berkisah tentang perjalanan hidup beliau,, apa lagi tempat kita mengambil pelajaran selain kepada kisah-kisah kesuksessan mereka yang besar hari ini.

Ingatlah satu hal, bahwa orang-orang yang besar hari ini, telah melalui perjalanan yang tidak mudah juga…

Satu kutipan menarik dari ucapan beliau adalah

Aku bisa bangkit karena dendam positif yang telah lama ku pendam..”

Beliau adalah sosok muslimah sederhana, terlahir di desa yang akses pendidikannya susah. JanganKan pendidikan, akses listrik ketika itu juga susah. Beliau hanya tinggah dengan mbah beliau, berdua, hidup sederhana. Semasa menempuh pendidikan dasar, beliau berjalan tidak kurang 2 jam untuk sampai di sekolah beliau dengan satu-satunya seragam dan sepatu yang entah berapa lama tidak diganti beliau.

Semasa menempuh pendidikan menengah, beliau tidak kurang menempuh 4 jam perjalan satu harinya. Apalagi ketika beliau menempuh pendidikan sekolah mengengah atasnya, lebih dari itu..

Tidak semua kita mungkin mengalami hal yang sama,, sehingga kita hendaknya bersyukur jika telah diberikan jauh lebih banyak kemudahan.

Karakter mbak Heni ditempa oleh mbah beliau, meskipun tidak pernah mengikuti sekolah parenting, akhlak adalah hal yang paling dijaga. Selain itu, mbah beliau juga memberikan teladan langsung. Pernah suatu ketika, tiga orang teman beliau mampir ke rumah mereka. Sehari-hari, hanya tersedia dua piring nasi hanya untuk beliau dan emak (panggilan untuk mbah beliau). Namun ketika emak melihat ada teman beliau yang datang, emak memilih untuk tidak makan. Nasi bagian emak kemudian digabung dengan nasi beliau, dan dibagi empat. Emak waktu itu tidak makan.

Begitulah gambaran kesederhanaan mbak Heni dulu..

Setelah mbak Heni menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, beliau kemudian memilih untuk bekerja sebagai TKI di Hongkong. Di sanalah kemudian mbak Heni berpikir bahwa pendidikanlah yang dapat memutus rantai kemiskinan beliau dan di sana pula lah, kemudian mulai terpupuk dendam-dendam positif beliau.

Di Hongkong, beliau kemudian memutuskan untuk bekerja sembari menempuh kuliah. Hal ini bukanlah pilihan yang mudah, karena beliau harus dapat membagi waktu antara kuliah dengan pekerjaan beliau sebagai Babysitter. Hal ini membuat beliau dapat tidur hanya tidak lebih dari 2 jam sehari. Perjuangan beliau tidak sampai di sini, jika uang tidak mencukupi, beliau juga harus mengambil kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan beliau.

Dengan tekad yang kuat dan bantuan Allah SWT, akhirnya beliau bisa menyelesaikan kuliah beliau di Hongkong dengan predikat Cum Laude.

Saat beliau menceritakan ini ke emak, emak tidak begitu paham dengan apa itu menjadi sarjana. Namun ketika beliau bilang bahwa menjadi sarjana, artinya dapat menjadi guru, emak beliau kemudian sangat bersyukur sekali, hal inilah yang kemudian membuat beliau bertekad untuk menjadi pengajar sekembalinya beliau ke tanah air.

Singkat cerita, beliau tidak ingin ada anak yang seperti beliau lagi. Beliau kemudian mendirikan AgroEdu Jampang bersama dengan belahan hati beliau. Dengan metode yang asik dan menyenangkan, bersama dengan masyarakat sekitar dan relawan yang ikut membantu, AgroEdu Jampang mengenalkan indahnya pengetahuan kepada anak-anak di desa Jampang dan desa-desa lainnya. Sekarang, AgroEdu jampang telah dikenal secara luas oleh  di dalam maupun di luar negri, beliau juga dinobatkan sebagai salah satu perempuan berpengaruh menurut majalah Forbes.

Tentu saja, perjalanan masih panjang, masih banyak ide-ide yang harus diwujudkan, masih banyak anak-anak yang harus dikenalkan betapa dunia itu tidak sempit. Berbekal keistiqomahan beliau, dukungan dari masyarakat dan tentunya ridho allah SWT, semoga AgroEdu Jampang terus dapat berkembang dan semoga juga akan ada banyak Heni-Heni lainnya di pelosok negri.

“Banyak orang pintar, namun tidak semua baik untk rela membagi kepintarannya,,

Banyak orang baik, namun tidak semua mau untuk berbuat kebaikan,,

Marilah menjadi baik, berani berbuat baik, dan berani menebar kebaikan… ^^ “

Dokumentasi lainnya:

Sumber gambar: FB Heni Sri Sundani dan Forwacana Proteksi Tanaman IPB

Cahaya,,

Benda luar angkasa yang memancarkan cahaya sendiri?

Matahari (yang juga termasuk Bintang) dan bintang-bintang lainnya..

Benda apa yang mengeluarkan cahaya?

Lampu listrik, obor, lilin, dan lain-lain..

Kurang lebih, itulah jawaban yang akan kita sebutkan ketika ditanya tentang hal yang berkaitan dengan cahaya..

Berbicara tentang cahaya, terdapat juga makhluk hidup yang mengeluarkan cahaya sendiri. Salah satu makhluk hidup yang banyak dikenal mengeluarkan cahaya sendiri adalah kunang-kunang. Kalau secara ilmiah, kunang-kunang termasuk ke dalam Famili Lampyridae. Cahaya yang dihasilkan kunang-kunang ternyata tidak atau sangat sedikit menghasilkan panas. Tidak seperti lampu listrik yang biasa. Hal ini kemudian ditiru oleh ilmuwan-ilmuwan sehingga dihasilkanlah salah satunya lampu LED (Light Emitting Diode). Lampu ini biasanya digunakan sebagai lampu indikator perangkat-perangkat elektronik.

remote_image_20e34a0339
Sumber: https://rizkasmpn4sda139b31dotnet.wordpress.com/2013/03/06/mengapa-kunang-kunang-bercahaya/

Bagaimana kunang-kunang menghasilkan cahaya? Ternyata harus ada senyawa Luciferin, enzim luciferase, ada energi dan juga oksigen. Apa tujuan kunang-kunang menghasilkan cahaya? Salah satu tujuannya adalah untuk mencari pasangan. Selain itu, masing-masing spesies memiliki kedipan cahaya yang berbeda. Cahaya yang dikeluarkan biasanya terlihat berwarna putih, kuning, merah atau hijau.

Namun selain kunang-kunang, ternyata ada serangga lain yang menghasilkan cahaya sendiri beberapa spesies Colembola atau ekor pegas, hemiptera dari famili Fulgoridae, genus Lucihormetica (sejenis kecoak) dan beberapa Coleoptera. Ternyata banyak juga ya. Selain menghasilkan cahaya sendiri ada juga yang bekerjasama (bersimbiosis) dengan bakteri dan jamur.

Ada juga bakteri yang menghasilkan cahaya sendiri. Seperti halnya pada kunang-kunang, senyawa Luciferin dan enzim luciferase digunakan untuk menghasilkan cahaya. Ukuran bakteri dengan serangga memang berbeda jauh. Jika satu serangga mampu menghasilkan cahaya, ternyata, bakteri memerlukan jumlah tertentu sehingga bisa bercahaya. Ini dikenal dengan istilah Bacterial Quorum Sensing. Bakteri satu dengan yang lainnya bisa berkomunikasi. Ia bisa keluarkan senyawa tertentu sehingga tahu bahwa dia tidak sendiri.

Bakteri tertentu juga memilih untuk bersimbiosis dengan makhluk hidup lainnya. Ada yang dengan ikan, cumi-cumi. Tujuannya apa? Bakteri dapat makanan untuk sumber pertumbuhannya, sedangkan ikan dan cumi-cumi menggunakan cahaya tersebut untuk berkomunikasi, menarik mangsa atau pun juga menghindar dari predatornya.

Untitled
Sumber: Materi Tea Talk, CTSS Prof Antonius

Sudah, segitu aja dulu.. 🙂

Kita harus menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri. Ada banyak sekali makhluk hidup yang sangat menarik yang belum banyak kita ketahui. Betapa agung IA yang telah menciptakan makhluk hidup yang begitu menakjubkan.

Mari lebih banyak belajar lagi,, kita cari ilmu setinggi-tingginya.. Kemudian, semoga dengan ilmu yang kita miliki (padahal hanya titipan dariNya) dapat menjadikan kita menyadari bahwa betapa kecil kita, betapa banyak yang belum kita ketahui, dan semoga menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.. 🙂

Sumber:

http://photobiology.info/Lin.html

Buku: The Insect; An Outline of Entomology

Materi Tea Talk, CTSS, Prof. Antonius Suwanto Ph.D

Pengalaman,,

Dalam buku tulis SIDU (Sinar Dunia) yang dulu, kata-kata di bagian paling bawah buku ialah ‘experience is the best teacher’. Kalimat ini masih kurang. Mengapa? Karena pengalaman tidak selalu menjadi guru terbaik. Kapan? Ketika misalkan kita mengalami sebuah kejadian, yang terpenting adalah mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan bagaimana kita menghadapinya. Jika tidak, pengalaman itu tidak akan ada artinya.

Bagaimana tidak, jika kita tidak mengambil pelajaran, kemudian kita menghadapinya lagi, keadaan tidak akan berubah banyak. Sehingga, muncul juga kata mutiara lainnya yang mengatakan bahwa yang terpenting bukan seberapa banyak kita menemui kejadian, namun bagaimana sikap kita dalam menghadapi suatu kejadian. Nahh,, selanjutnya, terserah kita mau mempercayai yang mana. Setiap orang memiliki pengalaman masing-masing. Dan yang terbaik adalah kita berani menghadapi pengalaman apapun dalam episode kehidupan kita.

Keberanian tidak akan bisa dibeli oleh apapun, kepada siapapun, atau di manapun. Keberanian hanya dimiliki oleh orang yang mempertaruhkan dirinya. Berani dulu, pertaruhkan hidupmu, maka kau kan temukan hal yang tidak pernah kau pikirkan sebelumnya, tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Pengalaman keluar dari zona nyaman adalah pengalaman yang sangat berharga. Coba saja, buktikan sendiri.

Jika kita tidak pernah keluar dari tempat kelahiran kita, desa, atau pulau kita. Keluarlah dari desa,, keluarlah dari pulau tempat kita dilahirkan. Merantaulah,, ada banyak sekali hal yang tidak akan pernah kita temukan jika tidak merantau. Di perantauan lah, kita bisa melihat dengan lebih luas betapa luas dunia ini. Seperti ketika kita biasa di dalam rumah, kita tidak akan tahu seberapa luas rumah kita, dan seberapa bagus atau jelek ia.

Oh iyaa, keberanian kita jangan sampai tanpa perhitungan. Itu namanya nekat. Jika terpaksa nekat, tidak apa-apa juga. Jika beruntung, akan dapat yang baik. Jika pun tidak beruntung, kita bisa belajar.

Yakini satu hal, bahwa usaha tidak akan menghianati hasil yang akan kita dapatkan. Semakin banyak pengalaman-pengalaman yang kita dapatkan, semakin kaya hidup kita. Jangan hanya mengandalkan keberuntungan karena keberuntungan tidak selamanya memihak kita. Tapi kita mungkin juga membuat keberuntungan kita sendiri. Bagaimana caranya? Dengan berusaha sebaik mungkin melakukan yang bisa kita lakukan dan jangan menyerah. Karena kita tidak pernah tahu, kapan usaha yang kita lakukan bertemu dengan waktu yang tepat dariNya.

“Unless we care, nothing not gonna be better” #Dr. Seuss, The Lorax

Kalau lengkapnya di film Dr. Seuss, The Lorax

Unless someone like you cares a whole awful lot, Nothing is going to get better. It’s not.”

Kecuali kita peduli, tidak ada yang tidak menjadi lebih baik.

Kecuali kita peduli, pengalaman akan selalu menjadi pelajaran berharga, kegagalan akan menjadi batu loncatan, ketakutan pun akan menjadi penyemangat kita melakukan sesuatu.

Jalani saja, jangan takut.. Biarkan IA membawa kita ke tempat yang di inginkanNya,, Biarkan IA membawa kita ke tempat yang bahkan kita tidak pernah bayangkan sebelumnya.. 🙂

IMG_20180724_172035_HDR

Bogor, 20 Februari 2019

Arti Keshalehan,,

Dalam hidup, salah satu cita-cita kita sebagai orang beragama adalah menjadi orang yang shaleh. Yang dekat denganNya, dan bermanfaat bagi sesama, bagi makhluNya. Kurang lebih, itulah arti kata keshalehan yang secara sederhana, paling tidak, menurut penulis. Walaupun, menjalankannya tidaklah sesederhana itu. Ada banyak godaan yang menghalangi kita untuk melaksanakannya.

Lalu, apakah makna yang sebenarnya?!!

Berikut cuplikan ceramah tentang keshalehan menurut Gus Mus, salah satu Kiai asal Rembang.

“Kita sering kali mendengar orang mengatakan shaleh, shaleh, sering mendo’akan orang, mudah-mudahan anaknya menjadi orang yang shaleh. Tapi, jarang sekali orang menjelaskan apa sih keshalehan itu. Barangkali ada atau bahkan banyak yang membayangkan bahwa orang yang shaleh itu,, yaa, seperti kiai, seperti ustadz, seperti ulama.

Kalau keshalehan itu, hanya dimiliki oleh ulama, kiai, ustadz, yang lain-lain seperti petani, polisi, pejabat, nanti nggak mendapatkan keshalehan. Kalau melihat asal katanya, shaleh itu berasal dari kata sha, lam, ha, yang artinya kepatutan, kepantasan kepantasan, kepatutan. Kepantasan seseorang itu tidak sama, misalnya kepantasan ustadz, kepantasan kiai, lain dengan kepantasan pejabat, misalnya bupati, camat.. “ (@s.kakung; Ahad, 4 Juni 2017).

Jadi, ternyata, keshalehan itu dapat diraih oleh siapapun. Jadi, jangan bayangkan bahwa yang bisa shaleh itu anak pondokan saja, atau ustadz saja, atau anak ustadz saja, atau kiai saja. Ternyata tidak. Kita semua bisa menjadi orang shaleh, tenang saja.. 🙂

Kita yang menjadi petani, sebelum berangkat ke sawah mengucapkan Basmalah, kemudian merawat tanaman kita dengan baik, pulang sore hari, dan menyerahkan tanaman yang sudah kita rawat kepadaNya. Di rumah, berkumpul dengan keluarga dan mengaji sehabis magrib. Jika waktunya panen, kemudian mendapatkan hasil. Hasilnya kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, menafkahi keluarga, dan juga biaya anak untuk sekolah. Jika pun terkadang gagal panen, atau hanya dapat sedikit hasil, tetap bersyukur sembari berserah padaNya. Insya Allah,, kita termasuk golongan orang-orang shaleh.

Atau seorang pedagang. Bangun di pagi buta untuk menyiapkan dagangannya. Shalat dulu baru berangkat ke pasar, atau shalat di pasar di sela-sela berdagang. Kemudian, ia berdagang dengan jujur, tidak mengurangi timbangan. Tidak berbohong jika memang ada dagangannya yang rusak. Hasil berdagang di hari itu, selalu disyukuri dan digunakan untuk menafkahi keluarga. Modalnya yang digunakan pun didapatkan dari jalan yang baik. Jika untung, ia kemudian berbagi dengan tetangga dan anak-anak yatim. Insya Allah,, ia (sang pedagang), termasuk orang-orang yang shaleh.

Atau siapa pun dan apapun profesi kita, mau jadi pelajar, kuli bangunan, tukang becak, sopir, pegawai, dan lain-lain. Insya Allah, jika kita jalankan dengan tulus ikhlas. Berangkat dengan Bismillah, dan pulang dengan rasa syukur. Selalu bersyukur dan berbagi jika ada kelebihan rizki. Membantu orang yang membutuhkan bantuan kita. Insya Allah,, kita termasuk orang-orang yang shaleh.. 🙂

cropped-sam_2485.jpg
Jalan di kampus Tsukuba

Dan keshalehan, salah satunya juga dilihat dari seberapa manfaat kita untuk orang-orang di sekitar kita. “Sebaik-baik engkau, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”, begitulah sabda Rasulullah SAW.

Jadi, jangan khawatir, kita semua memiliki kesempatan untuk menjadi hamba terbaik di sisiNya dan hambaNya yang shaleh… 🙂

Mati dan kita,,

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi

memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

Karya: Sapardi Djoko Damono

 

Tokoh kita kali ini adalah Prof. Sapardi Djoko Damono. Prof. Sapardi merupakan salah satu sastrawan senior yang masih dimiliki oleh Indonesia. Beliau merupakan Guru besar sastra di Universitas Indonesia. Ada banyak karya puisi dan buku yang telah beliau hasilkan. Salah satu karya yang juga dijadikan film adalah ‘Hujan Bulan Juni’. Hingga saat ini, beliau masih aktif menulis puisi. Di suatu wawancara, beliau pernah ditanya, “Puisi mana yang paling beliau sukai?”. Beliau kemudian menjawab, “Puisi yang belum aku tulis”. Pada tanggal 24 Oktober 2018 lalu, beliau menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers & Readers Festival 2018 yang di selenggarakan di Ubud, Bali (lihat @SapardiDD). Puisi lain beliau yang terkenal adalah

AKU INGIN

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

kepada api yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Kemarin, 17 Februari, kabar duka datang dari beliau. Istri beliau, Wardiningsih binti Sungkono, meninggal dunia. Semoga amal ibadah beliau diterimaNya, dan dosa-dosa beliau diampuniNya. Amiin YRA.

Dzm56BsUcAApr2W
Sumber: @SapadiDjoko_ID

Dalam setiap acara tahlilan di kuburan, kita sering mendengar bahwa setiap yang bernyawa, pasti akan mati. Kapan? Terserah padaNya yang memiliki hidup kita. Kemudian, kita pun diyakinkan bahwa surga itu benar, neraka itu benar, siksa kubur itu benar, nanti ada juga malaikat yang akan menanyakan kita. Jawaban kita akan sesuai dengan pebuatan kita selama di dunia, baik kah, atau buruk kah, tergantung kita.

Kemudian, tahlil pun ditutup dengan mengutip surat Al-Qur’an yang terjemahnya kurang lebih,

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah bersama hamba-hambaKu, dan masuklah ke surgaKu”..

Semoga kita termasuk, Amiin YRA…

Lalu, mengapa harus ada kematian?

Agar kita tahu bahwa kita sedang hidup. Agar kita sadar bahwa betapa penting kita menjalani hidup dengan baik. Agar kita sadar bahwa dunia ini hanya sementara, kelak, kita pun akan meninggalkannya. Dunia ini hanya persinggahan saja, Hidup yang sebenarnya adalah di akhirat kelak. Agar kita selalu ingat, bahwa hidup adalah untuk beribadah padaNya. Hidup ini, berharga..

Pada akhirnya,,

Kita hidup di dunia ini hanya sekali, pendek, penuh masalah, namun yakinlah, kita selalu memilikiNya..

Kita hidup hanya sekali, mari sebanyak-banyaknya menyebarkan manfaat.. 🙂

 

Kesucian hati dan Kebersihan diri,,

Bab pertama dalam kitab fiqih dasar di pondok adalah tentang bersuci atau thaharah. Mengapa? Jika boleh berpendapat, mungkin hal ini karena suci adalah keadaan yang harus kita usahakan dan selalu jaga.

Dalam Islam, sebelum melaksanakan shalat untuk menghadapNya, kita harus berwudhu dengan membasuh anggota badan tertentu. Selain itu, memastikan juga bahwa pakaian yang kita gunakan hendaknya menutup aurat dan suci (bukan bersih saja). Secara fiqih, hal ini menjadi salah satu syarat sahnya sholat kita. Tapi jangan lupa, pakaian kita juga harus sopan ya. Memastikan bahwa sebelum beribadah harus dalam keadaan suci mengajarkan kita akan pentingnya untuk menjaga kesucian badan kita, sembari sedikit demi sedikit berusaha mensucikan hati dan pikiran kita.

Meskipun kita semua mengetahui bahwa menjaga kesucian dan kebersihan adalah hal yang penting, namun dalam praktiknya, kita lah yang paling sering tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan kita. Menjaga kebersihan belum menjadi budaya di tengah masyarakat kita. Kita masih saja buang sampah sembarangan, padahal, terkadang tempat sampah hanya berjarak beberapa langkah kaki saja. Setelah memakan permen ataupun jajanan, kita seenaknya saja membuangnya di jalanan. Lihat saja toilet umum di sekitar kita, jarang sekali ada yang benar-benar terawat dan bersih. Inilah PR kita bersama sebagai umat yang memiliki agama.

Tidak ada satupun agama yang mengajarkan untuk tidak menjaga kebersihan diri sendiri, ataupun kebersihan lingkungan sekitar kita. Dalam agama islam misalnya, kita mengenal “Kebersihan sebagian dari pada iman”. Bukankah, hal ini berarti jika kita tetap menjaga kebersihan, kita sedang memupuk iman kita?! Jika kita tidak menjaganya, malah iman kita tidak sempurna. Kita bukannya tidak mampu, sudah banyak kok yang menyadari betapa penting menjaga kebersihan. Di acara demo 212 misalnya, masyarakat yang mengikutinya mampu menjaga kebersihan. Contoh lainnya, di acara HAUL muslimat NU, para ibu-ibu muslimat NU dibantu dengan santri-santri yang mengikuti acara mampu menjaga kebersihan hingga acara berakhir. Selain itu, banyak komunitas yang sedang mengkampanyekan tentang pentingnya menjaga kebersihan. Tinggal kita masing-masing, berjuang menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri.

Dalam agama Shinto, kebersihan adalah kebutuhan mendasar kehidupan. Hal ini lah yang sudah membudaya pada masyarakat Jepang. Baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat umum, kebersihan adalah sesuatu yang terus dijaga. Tidak menjaga kebersihan adalah aib tersendiri bagi mereka. Masyarakat jepang percaya bahwa dengan menjaga kebersihan, mereka dapat menjaga hati dan pikiran tetap bersih. Salah satu bukti bahwa menjaga kebersihan telah membudaya terlihat aksi supporter Jepang yang memungut sampahnya setelah pertandingan pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Dan masih banyak lagi. berikut adalah gambar di salah satu tempat di Jepang. Meskipun orang ramai berkunjung di sini, namun tidak terdapat sampah sedikit pun (penulis sengaja mencari,, hhee).

Gambar di Kuil Asakusa, Tokyo, Jepang

 

Kesucian hati, apakah dimulai dari kebersihan diri?? Atau sebaliknya, kebersihan diri, dimulai dari terlebih dahulu membersihkan hati?? Yang mana yang benar, mari kita sama-sama memikirkannya. Namun, tidak penting mana yang lebih kita dahulukan, kita harus belajar membudayakan membersihkan hati dan membersihkan diri kita dari sekarang, mulai dari sekecil apapun.

Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya??!

Sudahkah kita membuang sifat-sifat buruk dalam hati kita??!

Sudahkah kita berusaha menjaga pikiran kita dari berprasangka negatif terhadap diri kita, orang lain, dan kepadaNya??!

Mari sama-sama menyucikan hati, dan membersihkan diri.. 🙂

Bogor, 17 Februari 2019