Kesucian hati dan Kebersihan diri,,

Bab pertama dalam kitab fiqih dasar di pondok adalah tentang bersuci atau thaharah. Mengapa? Jika boleh berpendapat, mungkin hal ini karena suci adalah keadaan yang harus kita usahakan dan selalu jaga.

Dalam Islam, sebelum melaksanakan shalat untuk menghadapNya, kita harus berwudhu dengan membasuh anggota badan tertentu. Selain itu, memastikan juga bahwa pakaian yang kita gunakan hendaknya menutup aurat dan suci (bukan bersih saja). Secara fiqih, hal ini menjadi salah satu syarat sahnya sholat kita. Tapi jangan lupa, pakaian kita juga harus sopan ya. Memastikan bahwa sebelum beribadah harus dalam keadaan suci mengajarkan kita akan pentingnya untuk menjaga kesucian badan kita, sembari sedikit demi sedikit berusaha mensucikan hati dan pikiran kita.

Meskipun kita semua mengetahui bahwa menjaga kesucian dan kebersihan adalah hal yang penting, namun dalam praktiknya, kita lah yang paling sering tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan kita. Menjaga kebersihan belum menjadi budaya di tengah masyarakat kita. Kita masih saja buang sampah sembarangan, padahal, terkadang tempat sampah hanya berjarak beberapa langkah kaki saja. Setelah memakan permen ataupun jajanan, kita seenaknya saja membuangnya di jalanan. Lihat saja toilet umum di sekitar kita, jarang sekali ada yang benar-benar terawat dan bersih. Inilah PR kita bersama sebagai umat yang memiliki agama.

Tidak ada satupun agama yang mengajarkan untuk tidak menjaga kebersihan diri sendiri, ataupun kebersihan lingkungan sekitar kita. Dalam agama islam misalnya, kita mengenal “Kebersihan sebagian dari pada iman”. Bukankah, hal ini berarti jika kita tetap menjaga kebersihan, kita sedang memupuk iman kita?! Jika kita tidak menjaganya, malah iman kita tidak sempurna. Kita bukannya tidak mampu, sudah banyak kok yang menyadari betapa penting menjaga kebersihan. Di acara demo 212 misalnya, masyarakat yang mengikutinya mampu menjaga kebersihan. Contoh lainnya, di acara HAUL muslimat NU, para ibu-ibu muslimat NU dibantu dengan santri-santri yang mengikuti acara mampu menjaga kebersihan hingga acara berakhir. Selain itu, banyak komunitas yang sedang mengkampanyekan tentang pentingnya menjaga kebersihan. Tinggal kita masing-masing, berjuang menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri.

Dalam agama Shinto, kebersihan adalah kebutuhan mendasar kehidupan. Hal ini lah yang sudah membudaya pada masyarakat Jepang. Baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat umum, kebersihan adalah sesuatu yang terus dijaga. Tidak menjaga kebersihan adalah aib tersendiri bagi mereka. Masyarakat jepang percaya bahwa dengan menjaga kebersihan, mereka dapat menjaga hati dan pikiran tetap bersih. Salah satu bukti bahwa menjaga kebersihan telah membudaya terlihat aksi supporter Jepang yang memungut sampahnya setelah pertandingan pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Dan masih banyak lagi. berikut adalah gambar di salah satu tempat di Jepang. Meskipun orang ramai berkunjung di sini, namun tidak terdapat sampah sedikit pun (penulis sengaja mencari,, hhee).

Gambar di Kuil Asakusa, Tokyo, Jepang

 

Kesucian hati, apakah dimulai dari kebersihan diri?? Atau sebaliknya, kebersihan diri, dimulai dari terlebih dahulu membersihkan hati?? Yang mana yang benar, mari kita sama-sama memikirkannya. Namun, tidak penting mana yang lebih kita dahulukan, kita harus belajar membudayakan membersihkan hati dan membersihkan diri kita dari sekarang, mulai dari sekecil apapun.

Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya??!

Sudahkah kita membuang sifat-sifat buruk dalam hati kita??!

Sudahkah kita berusaha menjaga pikiran kita dari berprasangka negatif terhadap diri kita, orang lain, dan kepadaNya??!

Mari sama-sama menyucikan hati, dan membersihkan diri.. 🙂

Bogor, 17 Februari 2019

Advertisements

Perjuangan dan Takdir

Kata sebagian orang, “Hidup adalah perjuangan, maka kau harus terus berjuang selama hidupmu”

Sebagian lainnya mengatakan bahwa, “Hidup ini hanya sekali, jadi jangan sampai kau melakukan apa yang akan kau sesali jika melakukannya”

Setiap orang memang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan sebagian orang, harus berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Setiap orang berbeda-beda, tergantung dari takdir yang digariskannya.

Ada orang yang berjuang di awal. Ia biasanya berasal dari kalangan yang kurang mampu. Selama ia mampu untuk terus berjuang dan tetap memegang teguh impiannya, suatu saat, pasti ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan. Ada banyaaak sekali cerita orang-orang sukses yang berjuang sedari awal untuk memenuhi kehidupannya. Biasanya, ia di kemudian hari menjadi orang-orang besar. Karena sudah biasa berjuang di awal untuk memenuhi kebutuhannya, ia menjadi orang yang bisa berjuang untuk memenuhi keinginannya kemudian. Kapan ia bisa mencapai apa yang diharapkannya? Syaratnya satu, perjuangan yang dilakukannya terus menerus, bertemu dengan takdir dariNya. Yakinlah, IA tidak akan pernah mengecewakan hambaNya.

Di sisi lain, ada orang yang hidup berkecukupan atau berlebih. Ia tidak harus berjuang atau berusaha untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya sehingga ia terbiasa mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Akibatnya? Ia kurang terlatih untuk berjuang. Ada kecualinya juga, yaitu orang-orang yang walaupun berkecukupan, ia menempatkan diri pada kondisi yang mengharuskannya untuk berjuang. Orang yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan akan cenderung memiliki semangat juang yang rendah. Mengapa? Karena memang ia tidak terlatih untuk berjuang. Apakah keliru? Menurut saya tidak. Jika kira termasuk yang sering mendapatkan apa yang kita inginkan, mulai sekarang, kita harus bisa melatih diri untuk berjuang. Menempatkan diri untuk berusaha mendapatkan sesuatu, dan belajar juga untuk menghargai apa yang sulit ataupun mudah kita dapatkan, apalagi yang kita miliki saat ini.

Akan ada saatnya dalam hidup seseorang ketika ia tidak mendaptkan apa yang diinginkannya, ketika ia bahkan harus berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Maka siapapun kita, harus bersiap. Pun mereka yang telah berjuang pun harus tetap mempersiapkan diri. Takdir ke depan siapa yang tahu, kecuali IA. Maka,, ingatlah untuk tetap mengingatNya, kapanpun dan dimanapun kita.

Masing-masing orang tidak bisa memilih berada di golongan yang mana. Harus berjuang terlebih dahulu kah, atau berjuang nanti di kemudian hari. Hanya IA yang tahu takdir kita. Namun satu hal, kita harus selalu berjuang, entah berjuang untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan maupun inginkan. Ataupun untuk berjuang mensyukuri apa yang kita miliki saat ini.

Hidup hanya sekali, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang kita akan menyesalinya jika melakukannya. Terus berjuang dan mari sertakan IA selalu dalam perjuangan kita,, bahkan dalam setiap gerak langkah dan hembusan nafas kita. Semoga kita bisa!!!

Bogor, 13 Februari 2019 🙂

Sebuah Awal Baru..

Setiap hari adalah awal yang baru.. setidaknya, itulah yang ada di pandangan mereka yang optimis (atau belajar untuk optimis)..

Tulisan ini adalah tulisan pertama yang dihajatkan bukan juga menjadi tulisan terakhir. Ada banyak hal yang menjadi pemicunya, salah satunya adalah tulisan dari DI’s way yang membangkitkan lagi semangat menulis penulis. Semoga tulisan ini dan tulisan selanjutnya dapat bermanfaat..

Awal yang baru selalu menjadi hari yang menyenangkan, karena kita memang menemukan hal yang baru. Tentu saja selanjutnya, pasti akan selalu ada alasan untuk tidak melanjutkannya. Namun tentu saja, selalu lebih banyak alasan untuk terus melanjutkannya secara istiqomah, asalkan kita mau mencarinya, atau bahkan membuatnya sendiri..

‘Menulis’ bagi sebagian orang adalah hal yang susah. Namun bagi sebagian lainnya, menulis adalah aktivitas yang menyenangkan.

‘Menulis’ dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat dan pikiran kita. Katanya, “Menulislah, maka kau abadi”.

‘Menulis’ tentu tidak bisa langsung berharap bagus, dan enak dibaca orang lain. Tapi nikmati saja lah, karena seperti halnya sebuah karya, tidak akan pernah langsung menjadi bagus di mata orang.

‘Menulis’lah,, maka kau bisa memiliki lebih banyak lagi kehidupan. Bagaimana tidak, apa yang kau alami saat ini akan dapat engkau kenang di kemudian hari melalui tulisanmu.

‘Menulis’lah,, dengan pena, ataupun dengan alat tulis lainnya. Bukankah wahyu pertama juga mengandung kata Qolam??!

‘Menulis’lah,, tapi jangan lupa membaca, agar tulisan yang kau buat dapat lebih bermanfaat lagi.. Agar tulisan yang kau hasilkan lebih berkah lagi.

‘Menulis’lah,, semoga ke depan bisa tetap istiqomah.. Amiin..

‘Menulis’lah,, dengan mengawali menyebut nama-Nya.. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adab

Di Pesantren dulu,, kami selalu diajari bahwa Adab berada di atas ilmu..

Adab itu sendiri adalah ilmu itu juga,, ilmu yang diamalkan..

Nahh,, jadi, mereka yang menjaga adab adalah mereka yang menjaga ilmu yang dimilikinya, sekecil apapun itu..

Di zaman sekarang ini,, kita sering kali memisahkan adab dengan ilmu yang kita pahami..

Ingat pula lah,, bahwa alat tidak boleh menjadikan kita menghilangkan adab itu sendiri.. seperti menggunakan ketika kita menggunakan alat komunikasi,, ada adab yang harus kita tetap jaga..

Adab kita terhadap makhlukNya,, menggambarkan bagaimana adab kita terhadapNya..

Pikiran dan Perut

Sama halnya dengan kita menajaga makanan yang akan kita makan agar lebih sehat,,

kita hendaknya juga menjaga apa yang kita baca agar kita tetap bisa berpikir dengan lebih jernih..

Apa jadinya jika semua yang kita anggap enak, kita jejalkan ke perut kita??

Pun apa jadinya jika semua tulisan yang kita lihat,, kita baca dan masukkan ke pikiran kita?? apalagi di zaman seperti sekarang ini..

Sepertinya,,

Pikiran kita juga butuh untuk dipuasakan,, sebagaimana kita memuasakan perut kita..