๐ธ๐ผ๐
“Melihat mereka yang duluan berhasil, hampir tak mungkin egomu tak tersentil.
Mungkin mereka telah memulai lebih dahulu, dan kau butuh waktu menggapai benih mimpimu.
Terdengar hatimu yang menggebu. Terdengar langkahmu yang menderu.
Dunia melupakan tempo, menunggu giliranmu. “
#Sherina, 2019
@sherinasinna
Semangaat,, setiap orang punya perjuangannya masing-masing.. ^^
๐๐ฆ๐
Tulisan di atas adalah status saya tahun lalu. Mengutip tweet Sherina di Twitternya. Ya, memang benar sih, jika boleh jujur, kita tentu iri dengan orang yang lebih dulu sukses dengan kehidupannya. Dalam banyak hal. Tapi ya, kita tetap bisa menghibur diri. Tenang saja. Masing-masing kan punya waktu suksesnya sendiri-sendiri. ๐ผ
Kehidupan orang berbeda-beda, dan kita tetap bisa belajar dari perbedaan kehidupan tersebut. ๐ฟ๐
Kita mungkin tidak bisa seperti dia. Tapi, paling tidak, kita punya objek untuk berdo’a padaNya. Apalagi jika objek do’a kita itu adalah mereka yang benar-benar baik sampai akhir hayatnya.
Hari ini, banyak wajah dibasahi air mata, mengiring kepergian salah satu sastrawan terbaik Indonesia. Eyang Sapardi Djoko Damono. Saat ini, ketika susunan kata tidak jelas ini akan diunggah, sebanyak 85,6 ribu tweet menggambarkan kesedihan ditinggal beliau. Bukti betapa indah kenangan kehidupan yang beliau tinggalkan. Mungkin jutaan do’a terpanjatkan dari hati terdalam untuk tempat terbaik beliau di sisiNya.
Saya pun begitu. Saya yakin, orang baik akan selalu dapatkan tempat terbaik.
Tahun ini, genap delapan puluh tahun beliau hidup di dunia ini. Yang terkenang adalah keindahan dan keanggunan puisi dan karya-karya beliau lainnya. Yang dikenang dari beliau adalah kesederhanaannya. Yang dikagumi dari beliau ialah dedikasi beliau. Ahh, terlalu banyak sehingga tidak dapat ditulis satu per satu. Bertemu dengan karya beliau adalah salah satu anugrah terbaik.
Tidak lah salah, jika setiap orang ingin seperti beliau, berjuang untuk meneladani beliau.
Selamat jalan Eyang SapardiDD.. ๐๐๐ธ๐
