Media sosial itu adalah dunia lain tempat kita berbagi kehidupan. Tapi, tidak semua aspek harus kita bagi. Kita harus pandai untuk memilah dan memilih. Kita punya privasi. Tapi ya, kadang, kita-kita sendiri yang menyebarkannya. Secara hak masing-masing, tidak salah sih. Ya, baiknya, jangan berlebihan lah.
Masing-masing jenis media sosial yang kita punya, secara tidak langsung, membentuk karakternya sendiri. FB. Instagram. Twitter. Terserah kita, mau pakai yang mana. Ketiganya juga tidak apa-apa.
Di sana, informasi tersebar dengan cepat. Entah benar atau tidak. Entah berguna atau tidak. Entah baik atau buruk. Semuanya berjalan dengan cepat. Tapi, kita masih tidak bisa mengimbanginya. Informasi yang masuk ke kepala kita dari media sosial tidak dibarengi dengan kemampuan memikirkannya. Jadi, ya, kita banyak langsung terpengaruh informasi yang baik atau buruk. Kita harus belajar menyaring dan melambatkan informasi yang diterima.
Oh iya, satu lagi. Jangan lupa, ada hal-hal yang tidak harus kita bagi dengan orang lain di medsos kita. Ada rahasia-rahasia yang baiknya tetap menjadi rahasia. 💮🐞❄
Menghormati dan menghargai itu berbeda. Kita, memang banyak menghormati orang, tapi jarang menghargai orang.
Kita, sering kali malu untuk membuang sampah di depan petugas kebersihan atau orang lain yang sedang menyapu. Tapi, jika orangnya sudah tidak ada, kita buang sampah saja sembarang tempat. Itu menghormati, tapi tidak menghargai. Menghargai itu, ada atau tidak yang menyapu, hendaknya kita tidak membuang sampah sembarangan. Kita menghargai usaha penyapu yang sudah membersihkannya.
Kita, seringkali hormat terhadap guru kita di sekolah. Buktinya, di depan beliau, kita tidak berani berbuat pelanggaran. Kita kadang bersalaman, mencium tangan beliau. Tapi di belakang beliau, kadang kita membicarakan beliau antar teman. Atau, kita mencontek walaupun kita tahu, itu akan membuatnya kecewa. Itu menghormati, tapi tidak menghargai.
Misalkan lagi, kita seringkali berterima kasih ketika diberikan makanan oleh orang lain. Kita menghormati. Tapi, kita tidak menghabiskannya. Itu tidak menghargai. Itu menurutku.
Hmm.. Itu lah kita. Lengkapnya, kita bisa belajar tentang perbedaan menghormati dan menghargai dari percakapan antara bapak Deddy Corbuzier dan Helmi Yahya. Berikut linknya:
Kalau ingin langsung, forward ke menit 15.50 – seterusnya.
Ketika pagi ini terjamah sucinya embun Bening nan lembut Namun saat mentari menyapanya Seakan semuanya hanya sesaat Tak ada lagi tersisa 🦋🐞🌱
Dan tatkala merah mentari Terlukis dan terhampar di awan magrib Indah nan mempesona Seakan semesta Melukiskan kehangatan dan keindahannya
Setiap insan merasakannya Tak ada yang dapat mengelak darinya Tapi sesaat kemudian Malampun menjamah Teriring indah bintang gumintang di penghujung langit
Sadarkah kita, kapan itu terjadi?
Sesaat kemudian Tak ada yang mengerti misterinya
Yang jelas Semua hanya sesaat belaka Bagaimana dengan diriku. Engkau dan kita semua Hidup, berteman ruang dan waktu Semuanya hanya sesaat 🍁🍀🐞
by:AJ
###
Memang tak banyak yang bisa kita lakukan di dunia ini. Dunia hanya sesaat saja. Kita hidup dua kali, yaitu ketika dilahirkan oleh Ibu kita dan ketika kita tahu tujuan hidup kita. Apa lagi yang lainnya.
Meskipun begitu, jangan pernah anggap remah dunia ini. Dunia yang sesaat ini adalah tempat kita mengumpulkan bekal agar damai kelak, di akhirat nanti. Hmm, tapi bekal saja tidak cukup. Kita harus bisa membuat-Nya senang, membuat-Nya ridho pada kita. Apa lagi yang lainnya, tidak ada. Kunci semuanya adalah ridho-Nya. Jadi, pantas lah di akhir shalat kita, kita senantiasa memohon ridho-Nya. 🍁🌿🦋
🌱🍀🍁 Banyak hal yang termasuk ke dalam gulma. Namun sebelum itu, kita harus sepakat definisi tentang gulma. Gulma itu, adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki keberadaannya di suatu lahan dan mengganggu tanaman utama. Ini pengertian yang dibuat oleh manusia. Padahal, dari segi tumbuhan nya sendiri, ia berhak hidup di sana. Ya, saingan dengan tanaman lainnya.
Dengan pengertian seperti di atas, yang termasuk gulma itu relatif. Misal, Tanaman cabai, yang hidup di tengah-tengah tanaman padi, termasuk gulma. Karena, tanaman utamanya adalah padi. Maka berlaku juga sebaliknya. Tanaman padi, yang tumbuh dan bersaing di tengah-tengah tanaman cabai, termasuk gulma. 🌱🌸🍀
Nah, di alam sendiri, gulma sebagian besar lebih mampu bertahan dibandingkan dengan tanaman yang kita tanam. Jika saingan. Salah satu jenis gulma yang sering kita temui adalah rumput.
Rumput itu, pertahanannya kuat. Jarang bisa dibasmi semuanya. Pakai herbisida (senyawa kimia yang bisa membunuh gulma), tentu akan kering semua. Yang hidup. Yang masih jadi biji, tidak apa-apa. Karena masih di dalam tanah. Selang beberapa hari, pasti akan tumbuh rumput baru lagi. Dari biji yang ada di tanah tersebut. Walau kandungan air di tanah itu sedikit. Bandingkan dengan tanaman cabai. Telat disiram saja, akan layu. Jika kelamaan layu, ya akan mati. Apalagi jika tidak disiram-siram.
Nah, cerita sejarah sedikit ya. Dulu, eceng gondok, tahu kan?. Itu, yang sering memenuhi kolam gang tidak diurus. Sampai-sampai, kolamnya penuh. Banyak di bendungan juga, yang tidak diurus. Eceng gondok tidak berasal dari Indonesia, ia diintroduksi (diimpor) dari luar negri. Dulu bukan gulma. Ia termasuk tanaman hias, yang hidup di air. Bunganya memang bagus. Jadi, cocok sebagai hiasan kolam. 💮🍁🌿
Lama kelamaan, ternyata lingkungannya cocok dengan iklim di Indonesia. Boom. Akhirnya, berkembang dengan baik. Memperbanyak diri dengan cepat sekali. Awalnya di satu lokasi saja. Lama kelamaan, karena hidup di sungai, ya, tersebar ke daerah-daerah lainnya. Karena sudah terlalu banyak, akhirnya, menjadi gulma karena dapat menutupi permukaan air. Jika sudah tertutup semua, ikat di kolam atau bendungan tidak dapat sinar matahari. Jadi tidak ada makanan dan mengganggu ekosistem kolam atau bendungan.
Nah,, ini hanya ilmu tentang gulma yang masih teringat. Hhee
Kita, kadang bisa menjadi gulma bagi orang lain. Kalau kita tidak bisa mengendalikan diri. Tapi, pasti tidak selamanya. Asal kita berusaha berubah. Semoga kita tidak jadi gulma bagi yang lain ya.