Hidup ๐Ÿ‚

๐ŸŒผ๐Ÿ€๐ŸŒธ

Hidup ini kadang cukup, kadang kurang. Yang penting, menikmatinya tidak boleh setengah-setengah. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ

Benarkah laut yang tenang tidak akan dapat menghasilkan pelaut yang handal?
Benarkah juga tempat yang nyaman tidak menghasilkan orang-orang yang tangguh?

Mari kita lihat diri kita masing-masing.

Kalimat pertanyaan pertama adalah perumpamaan bahwa jika kita tidak melatih diri untuk menjadi tangguh, jika kita tidak berusaha menghadapi kehidupan kita dengan teguh, maka kita tidak akan menjadi handal. Dalam hal apapun.

Menurutku, tidak semua berjalan seperti itu. Ini pendapat pribadi ya. Selalu ada orang-orang yang memang dapat menjadi orang-orang tangguh dari kondisi apapun asal mereka. Hanya mungkin saja, tidak banyak. Karena itu, sebagian besar dari kita berpikiran bahwa tempat yang tenang tidak akan menjadikan orang menjadi tangguh. Kembali lagi, semua tergantung orang dan pemikirannya saja. Kita mungkin saja belum menemukan orang yang seperti itu, saat ini, di lingkungan kita Tapi jika kau tidak menemukannya, mengapa kau tidak menjadi orang tersebut saja?

โ€œJika kau tidak menemukan orang baik, maka salah satunyaโ€ Kata sebuah pepatah, lupa dari siapa. Hhee. Mungkin ini cocok dengan kalimat di atas. ๐Ÿ˜๐Ÿฆ‹

Mungkin juga, fitrah manusia memang lebih tahan ketika diuji dan berada pada lingkungan yang tidak nyaman, lingkungan yang memaksanya untuk berubah, lingkungan yang memaksanya mau tidak mau melakukan sesuatu. Banyak orang yang lulus dari ujian-ujian tersebut. Sebagian besarnya menjadi orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Sebut saja nama-nama besar, mereka kebanyakan dulunya berasal dari orang-orang biasa. Tentu saja perjuangan kerasnya lah yang menjadikannya manusia-manusia yang tangguh. Namun tetap saja, tidak sedikit juga yang memang menerima apa adanya keadaan tersebut. Sehingga, ya, tetap saja tidak berkembang juga.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan yang diuji dengan kenikmatan?
Kecukupan?
Kemapanan?
Nama besar?
Ke-serba ada-an?
Lingkungan yang menyediakan segalanya dengan mudah?

Secara logika umum, mereka pasti akan mudah menjadi orang yang lebih sukses ke depannya. Apa yang diinginkan dapat dengan mudah didapatkannya. Sumber daya-nya ada. Kesempatannya juga terbuka lebar. Tapi tetap saja, tidak banyak yang menganggap bahwa itu adalah ujian kehidupan. Sehingga, yaa, seperti kebanyakan yang lainnya, ia tidak mampu memanfaatkan kemudahan-kemudahan tersebut. Dan mungkin juga, lebih banyak yang gagal pada ujian kenikmatan ini dibandingkan dengan ujian kesabaran. Tapi saya tidak punya datanya. Tidak berani mengambil kesimpulan itu. ๐ŸŒธ๐Ÿ

Pertanyaannya, kita lebih senang diuji dengan kesulitan atau kah dengan kemudahan?

Kita punya jawaban masing-masing. Yang jelas, bagaimana pun keadaan kita saat ini, ini semua adalah ujian. Ujian apakah kita bersyukur atau tidak. Ujian apakah kita Ridho atau tidak dengan kehidupan yang sedang dan akan kita jalani. Ridho dan berprasangka baik padaNya adalah ibadah terbaik. Boleh dicatat.

Terlepas dari itu semua. Kita memiliki hidup masing-masing. Jalan hidup kita juga bebeda-beda. Siapa yang tahu kita akan jadi apa ke depannya. Nahh, yang Maha Kuasa memberikan hak kepada kita untuk menjalani hidup dengan baik dan membuat kehidupan kita sendiri. Tentu saja, ada suka dan ada dukanya juga. Ini pasti. Jadi, nikmati saja keduanya. Mari berjuang. ๐ŸŒธ๐Ÿฆ‹๐Ÿ€

Salah satu sastrawan jenius indonesia, Pram berkata โ€Mereka yang hanya melihat baiknya saja atau buruknya sajaโ€ฆโ€ tidak akan menikmati kehidupan. โ„๐Ÿ’ฎ๐Ÿ˜

Hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Mereka yang berhasil berdamai dengan ketidakpastiaan tersebut akan dengan sendirinya menikmati kehidupan yang sedang di jalaninya. Toh, kehidupan di sini juga hanya sebentar saja. Hanya butuh bersabar sebentar saja. Apa lagi, jika dalam setiap ketidak pastiannya itu kita selalu berhusnuzon padaNya.

Jadiii, semangat saja di setiap keadaan. kita pasti akan melalui semua keadaan tersebut. Tinggal kita saja yang memilih, melaluinya dengan tersenyum ataukan melaluinya dengan ketidak tenangan.

ใพใŸ ใญใ€‚ใ€‚ใ€‚ โ˜บโ„๐ŸŒธ๐Ÿ

Bunga di Pondok, unknown.

BatuKuta ๐Ÿ’ฎ Japan

๐ŸŒธ๐Ÿ๐Ÿ€ “Karena keberuntungan juga harus diusahakan dan takdir baik tidak akan berpihak pada orang malas”

Kisah berlanjut…

Sembari kuliah, saya juga bertugas mengajar di sekolah almamater saya. Ketika pulang dari kampus, saya langsung menuju ke sekolah jika ada jadwal mengajar. Ilmu pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan di kampus saya bagikan ke adik-adik di kelas. Hitung-hitung untuk mengabdikan diri di sekolah yang sudah mengajarkan saya banyak hal. Selain mengajar di sekolah, malam harinya saya juga mengajar di pondok.

Satu hal yang menjadi pegangan saya, sebuah pesan berbunyi, โ€Teruslah belajar,, karena engkau tidak pernah tahu ke mana nantinya ilmu yang kau pelajari membawamu.โ€ Pesan guru saya. Terima Kasih. Terima kasih. Selain itu, saya juga mengingat pesan Gus Dur terhadap anak beliau, kurang lebih, ๐Ÿโ€œBelajar yang baik Nak, jika pendidikanmu tinggi, kau bisa berbuat lebih banyak Nak.โ€๐ŸŒธ. Jadi, yang semangat ya, belajarnya. Memang, belajar tidaklah harus di sekolah, atau di bangku kuliah. Kita punya jalan hidup masing-masing. Yang penting, jangan berhenti belajar.

Tahun 2015, saya berhasil menyelesaikan studi di UNRAM. Saat telah menyelesaikan pendidikan Sarjana saya, saya tetap mengajar di sekolah. Sembari mengajar, keinginan saya untuk melanjutkan studi ke jenjang magister terus saya pupuk. Alasan saya sederhana, bahwa jika saya berhasil melanjutkan pendidikan saya, maka adik-adik kelas saya di sekolah akan bisa mengikuti jejak saya. Mereka akan memiliki keberanian untuk bermimpi dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Meskipun saya berasal dari sekolah yang kecil, bener kan? saya ingin membuktikan bahwa setiap orang bisa bermimpi dan mewujudkan mimpinya, asalkan ia terus memperjuangkannya. Dari Santri, untuk Indonesia. ^^

Persiapan saya untuk melanjutkan ke tingkatan magister sudah dimulai setidaknya sejak mengikuti kursus bahasa inggris yang disediakan untuk mahasiswa bidik misi. Alhamdulillah, kursus gratis. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Meskipun agak sulit membagi waktu, hehee. Namun alhamdulillah, ketika mengambil tes TOEFL setelah menyelesaikan studi di UNRAM, nilai bahasa inggris saya lumayan. Karena saya menargetkan akan mendaftar beasiswa tahun 2015, maka pertengahan tahun 2015 saya mengikuti tes TOEFL ITP di pusat bahasa unram. Dan alhamdulillah, nilai yang saya dapatkan lumayan, 473. Setidaknya, dapat digunakan sebagai persyaratan mendaftar beasiswa. Saya juga mulai mencari-cari sendiri tentang cara mendaptar beasiswa dan mempersiapkan syarat-syaratnya. Semuanya saya lakukan sendiri. Maklum, saya orang yang tidak aktif mengikuti organisasi di kampus bahkan tidak tergabung di salah satu pun organisasi di kampus karena saya memilih untuk mengabdi di pondok tempat saya mengajar dulu. hhee. Jadi harus mencari informasi sendiri dan mengurusnya sendiri. Tidak mudah memang, tapi pasti bisa, banyakin baca pengalaman orang-orang saja. ๐ŸŒฟ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ€

Lalu, saya memutuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP. Awalnya saya takut tidak bisa bersaing karena saya tidak memiliki pengalaman organisasi di kampus sama sekali. Namun karena ada jalur khusus untuk alumni bidikmisi, setidaknya ada hal yang bisa dipertimbangkan oleh pemberi beasiswa.
Saya pertama kali mengetahui tentang beasiswa LPDP ketika diajak seorang teman untuk menghadiri sosialisasi di kampus, gedung rektorat UNRAM. Hal yang masih saya ingat adalah beliau berkata โ€œMendapatkan beasiswa bukan tentang seberapa banyak saingan kita dan seberapa banyak kuota yang akan diterima. Namun kita harus merubah cara berpikir kita. Kita harus berpikir, seberapa pantas kita untuk mendapatkannya.. jika kita pantas, kita pasti mendapatkannya.โ€ Itu merupakan salah satu bekal yang membuat saya lebih semangat mempersiapkan diri.

Satu hal yang saya persiapkan adalah memperbaiki niat, meminta restu dan doโ€™a dari orang tua dan guru-guru. Jika mereka sudah merestui, insya Allah, yang di Atas juga pasti akan membantu..
Saya mendaftar bulan oktober, kemudian seleksi wawancara di bulan november 2015. Pada bulan desember 2015, saya dinyatakan lulus seleksi. Alhamdulilllaaah. Akhirnya dapat beasiswa LPDP ๐Ÿ˜Š๐Ÿ

Namun kau tahu kawan,, ketika seleksi substansi, saya sempat minder. Di dalam kelompok saya, hanya saya sendiri yang memiliki kampus dalam negeri sedangkan yang lain semuanya membicarakan dan memilih kampus luar negri. Nilai bahasa inggris saya juga pas-pasan. Namun, saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa jika niat saya baik untuk melanjutkan pendidikan saya, IA pasti punya jalan untuk saya. Yang perlu saya lakukan hanyalah berusaha dengan baik mengikuti tes dan menjawab dengan jujur ketika wawancara. Setelah wawancara, tugas saya hanyalah berdoโ€™a. ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐Ÿฆ‹

Saya dimasukkan ke Persiapan Keberangkatan 65 oleh pihak LPDP. Saya bersyukur sekali, pada akhirnya, di sinilah pengalaman saya yang tidak mengenal dunia luar bertemu dengan teman-teman dari ujung timur sampai ujung barat indonesia. Saya bertemu dengan teman-teman GUNA SANGKARA.
Banyak pengalaman berharga bersama teman-teman guna sangkara selama mengikuti kegiatan persiapan keberangkatan. Mulai dari bertemu dengan Mamih Triana yang membantu tiket bolak-balik Jakarta-Lombok, meskipun beliau tidak mengenal saya. Terima kasih mamiiihh. Padahal ibu saya sudah meminjam uang ke tetangga untuk kebutuhan selama di wisma hijau, tapi memang tidak seberapa. hheee Ketemu juga dengan Bu Mila yang menalangi uang iuaran ketika PK, hehee. Terima kasih bu Dokter, karena waktu itu, saya juga memang kekurangan uang, hhee.. Bertemu dengan Pak Edi, Bu Inda yang dari IPB, jadi bisa nebeng ke bogor. Teman-teman ASUJI dan juga kelompok lainnya yang jika disebutkan satu per satu,, akan jadi panjang. Masing-masing meninggalkan kenangan sendiri bagi saya. Terima Kasih. Kalian tidak akan pernah terlupakan. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’ฎ๐Ÿ๐ŸŒธ

Saya melanjutkan studi Magister saya di IPB, pada jurusan Entomologi, ilmu yang berkaitan dengan serangga. Di sini saya juga banyak mendapatkan pengalaman. Ceritanya kapan-kapan lah.

Pengalaman saya mengenal dunia luar dimulai dari IPB. Ketika di sinilah, saya terus membuat mimpi-mimpi yang lebih besar lagi. Saya juga bisa mewujudkan salah satu impian besar saya, yaitu ke Jepang. Saya mengikuti Summer Research Program 2018 ke-9 di University of Tsukuba. Alhamdulillah, pengalaman selama 2 minggu di Jepang banyak membuka wawasan saya dan menjadikan pikiran saya terbuka. Dunia memang sangat luas sekali. Kita yang kecil. Saya kembali percaya diri untuk bermimpi lebih jauh lagi, saya percaya bahwa setiap orang berhak bermimpi, apapun latar belakang kehidupannya. Namun saya tentu harus terus juga memperbaiki niat saya terlebih dahulu. Cerita di jepang, nanti-nanti ya.

Melalui dari tulisan pengalaman ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa niat baik, usaha terbaik, dan tetap menjaga impian kita adalah hal yang harus di pegang dengan erat. Dan satu hal lagi, bahwa hendaknya apapun yang kita lakukan, kita niatkan agar lebih bermanfaat bagi diri sendiri, dan orang lain.. dunia dan akhiraat.. ^^

Lumayan panjang. Tapi tidak apa-apa lah. Ja ne.. ๐Ÿ˜๐Ÿ€๐Ÿฆ‹๐Ÿ

Mengunjungi Kuil Asakusa, di belakangnya ada Sky Tree, Japan
Sky Tree dari Kuil Asakusa

Kuliah ๐ŸŒผ๐Ÿ

๐Ÿ€โ‡๐ŸŒฟ

“Pengetahuan itu dapat dicari, namun cara berpikir harus dibentuk..” ini penting saya utarakan, menirukan Gus Baha.

Selamat malam kawan,, semoga sehat selalu ya.. Lanjuut.. โ˜บ๐Ÿ€โ„

Sebelum ke kuliah, intermezo saja, saya dulu pernah menulis sedikit cita-cita. Hanya ditulis saja. Tulisannya masih, tertempel di kardus. Tidak benar-benar dipikirkan cara mencapainya. Beberapa di antaranya, kuliah di UNRAM (jurusan apa saja) dan melanjutkan kuliah di IPB. Ehh, alhamdulillah, akhirnya tercapai keduanya. Boleh lah, teman-teman yang punya cita-cita apapun, ditulis saja. Siapa tahu, suatu saat terwujud.

Nahh,, kita mulai petualangan di dunia kuliah..
Tahun 2011 adalah tahun yang sedikit mendebarkan. Selesai mondok, lalu memasuki dunia kuliah. Sebagai orang yang tidak pandai bergaul, ini menjadi tantangan tersendiri. Tapi ya, memang harus dijalani. Begitulah hidup. Saya senang-senang saja. Tidak semua suka, ada dukanya juga.
Saya diterima di dua jurusan, Pendidikan Matematika di IAIN (sekarang UIN) Mataram dan Agroekoteknologi di UNRAM. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya saya memilih UNRAM. Ternyata, kehidupan kampus mengajarkan banyak hal. Membuka wawasan, bertemu dengan banyak orang, bergaul dengan orang-orang yang lebih pintar dan lebih baik. Pada titik ini, saya menyadari bahwa dunia ini lebih luas dari hanya sekadar lingkungan pondok. Di pondok, mungkin kita terlihat lebih baik, tapi di luar, kita terlihat jauh dari kata baik. ๐Ÿ

Perjalanan pertama di kampus dibuka dengan OSPEK Universitas, KARISMA, istilahnya ketika itu. Kau tahu kawan, yang paling berkesan adalah lagu pembuka yang ditampilkan panitia OSPEK. Mungkin itu sudah lama diputar berulang-ulang, setiap kali OSPEK. Hhee. Lagunya berjudul “Mother“. Lagu bahasa Jepang. Memang menambah semangat.

Video yang diiringi lagu tersebut berkisah tentang seorang mahasiswa yang menuliskan semua cita-citanya, lalu ia berhasil mewujudkannya satu persatu. Salah satu cita-cita yang berhasil dicapainya  adalah berkuliah ke Jepang. Ketika itu, terbesit keinginan untuk mengikuti cara-caranya. Tapi, yaa, begitulah, hanya selentingan keinginan saja. Itu ternyata sangat membekas. Eh tapi, temen-temen yang masih kuliah, sekarang lagu ini masih diputar juga kah? Ketika OSPEK.


Ini cuplikan penyanyi dan lirik lagunya:

ๆญŒ๏ผšSEAMO
ไฝœ่ฉž๏ผšNaoki Takada      ไฝœๆ›ฒ๏ผšNaoki TakadaใƒปShintaroโ€Growthโ€Izutsu

Hi Mother, haikei, genki ni shite’masu ka?
saikin renraku shinakute gomen   boku wa nantoka yatte’masu…

chiisana karada ni chiisana te   shiraga mo majiri   maruku natte
shikashi boku ni wa   nani yori mo ookikute   dare yori mo tsuyokute
sasaete kureta kono ai   dakara kodomo ni mo tsutaetai

chikaku ni iru to iradatsu kuse ni   tooku ni iru to sabishiku kanji
anata wa sonna sonzai   donna mondai mo   mi wo kezutte kaiketsu suru
soshite boku no shitte’ru dare yori mo   ichiban gamandzuyoku TAFU desu
itsu mo massaki ni ki ni suru   jibun janaku boku no karada de

Saya masih belum yakin kaitan isi lagu dengan cita-cita. Musiknya memang bagus sih, biar semangat. Tapi, jika boleh menebak, ini mungkin karena memang, kita tidak akan pernah bisa sejauh apapun tanpa Ibu. Ibu, Terima Kasih. Terima Kasih. ๐Ÿฆ‹๐Ÿ˜Š๐ŸŒธ

Hmm,, lalu…
Ada banyak sekali hal-hal yang dapat saya pelajari selama berkuliah. Mulai dari dosen-dosen yang banyak bercerita tentang luar negri. Akhirnya, kita jadi kepengen juga. Pengalaman-pengalaman seorang dosen yang berjuang untuk hidup, hingga bisa menjadi professor saat ini. Ini mengajarkan bahwa hidup tidak pernah menghianati orang yang berjuang.

Ada juga, satu cerita yang masih saya ingat sampai sekarang. Dosen saya berkisah. Ketika kunjungan ke Jepang, ia memperhatikan orang jepang yang membeli beras di minimarket. Di sana ada banyak jenis beras dari beberapa negara. Harganya pun, bervariasi. Bahkan harga beras impor lebih murah. Orang Jepang ternyata lebih memilih beras dari negaranya sendiri. Padahal, harganya lebih mahal. Lalu dosen saya bertanya, “Mengapa tidak beli yang lebih murah? “. Orang jepang itu menjawab, “Aku lebih bangga membeli produk negaraku sendiri. Kalau bukan aku, siapa lagi. ” Dosen saya kagum. Memang, rasa cinta tanah air orang-orang Jepang tidak diragukan.

Nahh, itulah kisah tentang Jepang yang masih melekat dan saya dapatkan dari dosen saya. Sejak saat itu, keinginan untuk ke jepang, walaupun tidak tahu bagaimana mewujudkannya, tetap ada.

Sebagai penutup saja, boleh setuju, boleh tidak. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ€๐Ÿฆ‹๐Ÿ’ฎ
“Hal terbesar yang didapatkan dari kuliah adalah cara berpikir dan wawasan. Bisa jadi, kita tidak ingat detil pengetahuan yang kita peroleh saat duduk di depan dosen kita. Namun, cara kita menikmati dan menjalani hidup akan berbeda.”

Kuliah itu seperti menumbuhkan bunga, akan indah pada waktunya, meski sekarang masih menjadi bakal bunga… ^^

See you.. ^^

Gambar diambil dari twitter, lupa nama yang foto. Maafkeun

Jepang ๐Ÿ’ฎ Pondok

Lanjut cerita tentang jepang yaa..

Ini pengalaman ketika masih memegang impian ke Jepang. Masih di usia belasan.
Impian itu gratis. Dan IA punya jalannya. Lengkap kan. ๐Ÿ‰๐Ÿ’ฎ๐Ÿฆ‹


Check this out…
Setamat dari sekolah dasar, saya kemudian melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Pesantren kecil di desa saya. Jadi memang dekat. Sambil mondok, di sinilah kemudian saya memulai lagi impian-impian itu. Impian ingin pergi ke Jepang tidak padam. Meski hanya impian tak beralasan. Walaupun, tanpa tahu bagaimana caranya dan apa yang harus di lakukan. Jalani saja. Toh, mimpi juga kan tidak bayar. Pengen keliling dunia juga silahkan. Hhee. Tapi, bagi saya pribadi, jepang masih menjadi tujuan.

๐Ÿ€ “Sesuatu yang bisa kau impikan, pasti bisa kau wujudkan” #WaltDisney. Boleh setuju, boleh juga tidak. ๐ŸŒธ๐Ÿฆ‹

Sembari mondok, ada banyak hal yang bisa dilakukan di dalam pondok. Jangan bayangkan di pondok itu kita hanya tertekan saja, tidak. Malah, kita kadang lebih bebas. Lima panca jiwa pondok yang saya agak lupa, lalu saya cari di google, memang ada di dalam pondok. Lima panca jiwa pondok itu adalah Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiah dan Bebas. Bagi saya, kelima dasar ini memang bisa didapatkan di pondok. Kelima sikap itu yang dilatih dan dipupuk sedari awal. Jangan salah, kita juga bebas di pondok. Jadi, jangan takut mondok ya. Saya saja, mondok 6 tahun. MTs sampai MA.

Nahh,, di pondok lah saya berpikir agak bebas. Keinginan untuk ke jepang masih tertata rapi. Saya juga mengusahakannya. Saya masih ingat, ketika masih Tsanawiyah, saya selalu tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan jepang. Pokoknya, jika ada kata Jepang, saya cari.
Oh iya, minat membaca saya juga mulai muncul di pondok. Dulu, di perpustakaan, ada ensiklopedia sains. Buku IPTEK. Banyak gambar-gambarnya. Awalnya cuma lihat gambar, bagus-bagus. Lama kelamaan, baca keterangan di bawah gambarnya. Ternyata enak juga membaca. Nah, mungkin itu awalnya. Jadi, semoga di setiap perpustakaan selalu ada buku-buku bagus dengan gambar-gambar bagus. Amiin YRA.

Jadi minat baca bisa tumbuh.
Pikiran saya yang bebas mungkin berasal dari itu, gambar-gambar yang saya lihat dan sedikit tulisan yang saya baca. Ada beberapa tentang Jepang, itu yang tetap memelihara keinginan tersebut. ๐Ÿ˜Šโ‡๐ŸŒฟ๐Ÿ

Di pondok, komik-komik juga ada lho. Contohnya, komik detektif conan. Banyak yang diam-diam membacanya. Kadang ada yang dimarahi karena lebih seneng baca komik daripada Qur’an dan pelajaran. Novel-novel juga banyak. Satu hal, ketika membaca novel, pikiran kita akan dibawa berkelana ke dunia yang berbeda. Kita juga seperti menjadi penonton langsungnya. Novel favorit saya dulu adalah Laskar Pelangi. Bagus. Terima Kasih buat Pak Cik Andrea Hirata. Tokoh Ikal dan Arai yang berjuang dengan mimpi-mimpinya, menjadi pupuk penyubur impian saya ke Jepang. Tidak bisa dipungkiri. Tetraloginya juga jadi habis di baca. ๐Ÿ˜ Selain itu, anime juga berperan menyangga impian saya tetap tumbuh. Terbaik.
Nahh,, jangan berpikir kalau di pondok itu tidak bisa berpikir bebas ya. Saya saja sudah membuktikannya.

Saya masih ingat. Dulu, untuk dapat akses internet, kita harus pergi ke Warnet (Warung Internet). Kalau ada tugas, kita bareng-bareng pergi ke warnet. Kadang jalan kaki beberapa kilo, sampai ke Lembuak. Kadang juga pakai Cidomo. Nah, selain nyari tugas. Kita juga kadang download-download gambar dan lagu. Lama, puluhan menit kadang untuk satu lagu saja. Padahal cuma 4 MB sampai 5 MB satu lagunya. Tapi, yaa begitulah.
Nahh, di sela-sela itulah, saya juga mendownload gambar-gambar anime, tentang jepang, lagu OST anime (Inuyasha, DC, One Piece, dll). Yang penting download dulu aja. Gambar anime dan jepang itu lalu diprint, tempel di lemari. Biar penuh. Nahh, saya beritahu ya, saya juga ternyata belajar bahasa Jepang. Yang penting, copy, lalu paste di Ms. Word, lalu print. Belajar sih dari sana, tapi sedikit-sedikit. Kebanyakan tidak bisa. Hahaa.. Tapi saya yakin, itu juga yang tetap jaga impian saya ke Jepang. Saya tidak tahu bagaimana cara ke Jepang, tapi mungkin saya sempat titipkan dalam do’a kepadaNya. ๐Ÿ˜๐Ÿฆ‹๐ŸŒธ

### Ahhh,, IA selalu punya cara terbaik untuk mengejutkan hambaNya. Jadi jangan sungkan, do’a saja padaNya. Inilah nilai penting yang diajarkan di dalam pondok. Latihan untuk tetap percaya takdir terbaikNya, latihan untuk tetap berdo’a dan berharap padaNya. Ini mungkin lebihnya pondok. Mungkin. โ„๐Ÿ’ฎ๐ŸŒธ

Sudah panjang, itu dulu ya. Ja ne.. โ˜บ

Ketika belajar tentang presentasi. Lokasi: salah satu ruangan di University of Tsukuba

Jepaang ๐Ÿ’ฎ๐ŸŒธ๐Ÿ˜Š

Hai, semua. Apa kabar?
Semoga sehat dan bahagia selalu. Karena sehat tanpa bahagia, tidak baik. Minal ‘Aidin wal Faizin ya… ๐Ÿ˜


Kali ini, tulisan saya ialah tentang pengalaman-pengalaman. Semoga saja ini bermanfaat. Walaupun hanya sekadar curhat tentang apa yang dilewati dan dialami. Mungkin, tidak semua bisa seperti cerita ini. Tapi, semua juga pasti bisa lebih baik daripada cerita ini. Masing-masing punya ceritanya sendiri dan inilah kisah saya.
Kau, harus membuat ceritamu sendiri. Boleh saja membuat tujuan yang sama dengan orang lain. Boleh juga mengikuti jalan orang lain. Tapi ingat, pada akhirnya, jalanmu lah yang terbaik ceritamulah yang terindah. Jalan yang engkau buat sendiri selalu menjadi jalan yang indah. ๐ŸŒธ๐Ÿ๐ŸŒผ

๐Ÿ“Jika kau tidak berani mengambil resiko dalam hidupmu, kau tidak akan bisa menciptakan masa depan” #Monkey D. Luffy ๐Ÿ˜Š๐Ÿ€

Hajimemasu.

Hari minggu adalah hari terbaik. Sebab, kita bisa melakukan apapun yang ingin kita lakukan dan tidak bisa dilakukan di hari-hari biasa, senin sampai sabtu. Hal itu adalah menonton film dari pagi sampai siang. Ini dulu ya, tahun 1990-an sampai awal 2000-an, ketika masih menjadi seorang anak. Di televisi, kita disuguhkan dengan aneka film kartun yang memuaskan imajinasi. Mulai dari robot-robot canggih yang dapat berubah bentuk. Ninja-ninja kecil yang bisa melakukan banyak hal. Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah di samudra, bersama teman bertualang. Lagunya ninja Hattori. ๐Ÿ˜๐ŸŒธ๐ŸŒฟ

Ini juga, film doraemon. Sebelum saya lahir juga sudah ada. Sampai sekarang malah masih ada. Cerita-ceritanya memang bagus-bagus sih. Sarat akan makna dan ajakan untuk menjaga alam ini. Hebat.

Film lainnya yang masih saya ingat adalah film kiterestu. Kartun ini adalah tentang seorang anak kecil yang teobsesi dengan mesin. Ia menciptakan mesin-mesin yang bagus-bagus. Selain itu, ia bisa memperbaiki alat-alat yang rusak. Kemampuannya ini didapatkan dari banyak membaca majalah tentang mesin. Pesannya sangat jelas sekali, ia pintar dengan membaca. Kita, juga sama. Judul filmnya masih melekat sampai sekarang. Satu episode yang masih teringat jelas adalah kapal yang bisa masuk ke dalam tanah.


Film-film lainnya yang masih ada sampai sekarang juga ada beberapa yang saya senangi dan mengubah hidup. Misalnya, One Piece. Disebut pertama karena memang sangat bagus. Film ini banyak merubah mind set saya yang akhirnya juga merubah perilaku menjalani kehidupan. Meskipun filmnya penuh dengan imajinasi yang tidak nyata, namun karakter-karakter tokohnya yang kuat sangat melekat. Eichiro Oda memang sangat pandai. Tidak sia-sia kerja keras yang diluar nalar manusia nya selama ini. Saluut. Terima Kasih. Sampai saat ini, ceritanya masih berlangsung. Semoga bisa menyaksikan kesudahannya.

Film lain yang juga bagus adalah Detective Conan (semoga Shinichi cepat bertemu dan bertarung dengan organisasi hitam), Inuyasha (Sebentar lagi akan keluar movie terbarunya) , Natsume Yuujincho (semoga ada lanjutannya, ditunggu), Hunter X Hunter (masih menunggu kelanjutannya, perjuangannya dalam berlatih yang sangat berkesan), dll dll. Ah, masih banyak lagi. Namanya juga pecinta anime. Satu lagi. Film-filmnya Studio Ghibli juga bagus-bagus. Anime bagus yang terbaru ada Kimi no Nawa dan Weathering With You. Tonton ya.

Ini dulu ya untuk kali ini. Seperti nostalgia pecinta film anime saja. Hhee
Tapi benar, saya mengakui, inilah alasan saya dari dulu mengapa ingin ke Jepang. Sejak masih SD. Dari dulu, hal melekat tentang jepang dalam pola pikir anak yang masih polos adalah Sakura, alat-alat yang serba bisa, dan dunia yang penuh imajinasi yang seakan tidak pernah habis.

Siapa yang menyangka, kisah di atas ini yang menjadi batu pijakan sehingga saya bisa mewujudkan impian ke Jepang. Jepang, saya ingin lebih sering lagi mampir. Tunggu ya. Ja ne. ๐Ÿ˜Š๐ŸŒธ๐Ÿ€๐Ÿฆ‹

Foto di Asakusa, Tsukuba-chi, Jepang