๐ผ๐๐ธ
Hidup ini kadang cukup, kadang kurang. Yang penting, menikmatinya tidak boleh setengah-setengah. ๐๐
Benarkah laut yang tenang tidak akan dapat menghasilkan pelaut yang handal?
Benarkah juga tempat yang nyaman tidak menghasilkan orang-orang yang tangguh?
Mari kita lihat diri kita masing-masing.
Kalimat pertanyaan pertama adalah perumpamaan bahwa jika kita tidak melatih diri untuk menjadi tangguh, jika kita tidak berusaha menghadapi kehidupan kita dengan teguh, maka kita tidak akan menjadi handal. Dalam hal apapun.
Menurutku, tidak semua berjalan seperti itu. Ini pendapat pribadi ya. Selalu ada orang-orang yang memang dapat menjadi orang-orang tangguh dari kondisi apapun asal mereka. Hanya mungkin saja, tidak banyak. Karena itu, sebagian besar dari kita berpikiran bahwa tempat yang tenang tidak akan menjadikan orang menjadi tangguh. Kembali lagi, semua tergantung orang dan pemikirannya saja. Kita mungkin saja belum menemukan orang yang seperti itu, saat ini, di lingkungan kita Tapi jika kau tidak menemukannya, mengapa kau tidak menjadi orang tersebut saja?
โJika kau tidak menemukan orang baik, maka salah satunyaโ Kata sebuah pepatah, lupa dari siapa. Hhee. Mungkin ini cocok dengan kalimat di atas. ๐๐ฆ
Mungkin juga, fitrah manusia memang lebih tahan ketika diuji dan berada pada lingkungan yang tidak nyaman, lingkungan yang memaksanya untuk berubah, lingkungan yang memaksanya mau tidak mau melakukan sesuatu. Banyak orang yang lulus dari ujian-ujian tersebut. Sebagian besarnya menjadi orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Sebut saja nama-nama besar, mereka kebanyakan dulunya berasal dari orang-orang biasa. Tentu saja perjuangan kerasnya lah yang menjadikannya manusia-manusia yang tangguh. Namun tetap saja, tidak sedikit juga yang memang menerima apa adanya keadaan tersebut. Sehingga, ya, tetap saja tidak berkembang juga.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan yang diuji dengan kenikmatan?
Kecukupan?
Kemapanan?
Nama besar?
Ke-serba ada-an?
Lingkungan yang menyediakan segalanya dengan mudah?
Secara logika umum, mereka pasti akan mudah menjadi orang yang lebih sukses ke depannya. Apa yang diinginkan dapat dengan mudah didapatkannya. Sumber daya-nya ada. Kesempatannya juga terbuka lebar. Tapi tetap saja, tidak banyak yang menganggap bahwa itu adalah ujian kehidupan. Sehingga, yaa, seperti kebanyakan yang lainnya, ia tidak mampu memanfaatkan kemudahan-kemudahan tersebut. Dan mungkin juga, lebih banyak yang gagal pada ujian kenikmatan ini dibandingkan dengan ujian kesabaran. Tapi saya tidak punya datanya. Tidak berani mengambil kesimpulan itu. ๐ธ๐
Pertanyaannya, kita lebih senang diuji dengan kesulitan atau kah dengan kemudahan?
Kita punya jawaban masing-masing. Yang jelas, bagaimana pun keadaan kita saat ini, ini semua adalah ujian. Ujian apakah kita bersyukur atau tidak. Ujian apakah kita Ridho atau tidak dengan kehidupan yang sedang dan akan kita jalani. Ridho dan berprasangka baik padaNya adalah ibadah terbaik. Boleh dicatat.
Terlepas dari itu semua. Kita memiliki hidup masing-masing. Jalan hidup kita juga bebeda-beda. Siapa yang tahu kita akan jadi apa ke depannya. Nahh, yang Maha Kuasa memberikan hak kepada kita untuk menjalani hidup dengan baik dan membuat kehidupan kita sendiri. Tentu saja, ada suka dan ada dukanya juga. Ini pasti. Jadi, nikmati saja keduanya. Mari berjuang. ๐ธ๐ฆ๐
Salah satu sastrawan jenius indonesia, Pram berkata โMereka yang hanya melihat baiknya saja atau buruknya sajaโฆโ tidak akan menikmati kehidupan. โ๐ฎ๐
Hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Mereka yang berhasil berdamai dengan ketidakpastiaan tersebut akan dengan sendirinya menikmati kehidupan yang sedang di jalaninya. Toh, kehidupan di sini juga hanya sebentar saja. Hanya butuh bersabar sebentar saja. Apa lagi, jika dalam setiap ketidak pastiannya itu kita selalu berhusnuzon padaNya.
Jadiii, semangat saja di setiap keadaan. kita pasti akan melalui semua keadaan tersebut. Tinggal kita saja yang memilih, melaluinya dengan tersenyum ataukan melaluinya dengan ketidak tenangan.
ใพใ ใญใใใ โบโ๐ธ๐





