Ramadhan adalah saat latihan kita. Salah satunya agar menjadi hamba yang shaleh. Semoga di akhir ramdhan ini, kita bisa lebih dekat… π
Dalam hidup, salah satu cita-cita kita sebagai orang beragama adalah menjadi orang yang shaleh. Yang dekat denganNya, dan bermanfaat bagi sesama, bagi makhluNya. Kurang lebih, itulah arti kata keshalehan yang secara sederhana, paling tidak, menurutku. π Walaupun, menjalankannya tidaklah sesederhana itu. Ada banyak godaan yang menghalangi kita untuk melaksanakannya.
Lalu, apakah makna yang sebenarnya?!!
Berikut cuplikan ceramah tentang keshalehan menurut Gus Mus, salah satu Kiai Rendah hati asal Rembang.
βKita sering kali mendengar orang mengatakan shaleh, shaleh, sering mendoβakan orang, mudah-mudahan anaknya menjadi orang yang shaleh. Tapi, jarang sekali orang menjelaskan apa sih keshalehan itu. Barangkali ada atau bahkan banyak yang membayangkan bahwa orang yang shaleh itu,, yaa, seperti kiai, seperti ustadz, seperti ulama.
Kalau keshalehan itu, hanya dimiliki oleh ulama, kiai, ustadz, yang lain-lain seperti petani, polisi, pejabat, nanti nggak mendapatkan keshalehan. Kalau melihat asal katanya, shaleh itu berasal dari kata sha, lam, ha, yang artinya kepatutan, kepantasan kepantasan, kepatutan. Kepantasan seseorang itu tidak sama, misalnya kepantasan ustadz, kepantasan kiai, lain dengan kepantasan pejabat, misalnya bupati, camat.. β
(@s.kakung; Ahad, 4 Juni 2017).
Jadi, ternyata, keshalehan itu dapat diraih oleh siapapun. Jangan bayangkan bahwa yang bisa shaleh itu anak pondokan saja, atau ustadz saja, atau anak ustadz saja, atau kiai saja. Ternyata tidak. Kita semua bisa menjadi orang shaleh, tenang saja.. βπΏππΈ
Kita yang menjadi petani, sebelum berangkat ke sawah mengucapkan Basmalah, kemudian merawat tanaman kita dengan baik, pulang sore hari, dan menyerahkan tanaman yang sudah kita rawat kepadaNya. Di rumah, berkumpul dengan keluarga dan mengaji sehabis magrib. Jika waktunya panen, kemudian mendapatkan hasil. Hasilnya kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, menafkahi keluarga, dan juga biaya anak untuk sekolah. Jika pun terkadang gagal panen, atau hanya dapat sedikit hasil, tetap bersyukur sembari berserah padaNya. Insya Allah,, kita termasuk golongan orang-orang shaleh. π
Atau seorang pedagang. Bangun di pagi buta untuk menyiapkan dagangannya. Shalat dulu baru berangkat ke pasar, atau shalat di pasar di sela-sela berdagang. Kemudian, ia berdagang dengan jujur, tidak mengurangi timbangan. Tidak berbohong jika memang ada dagangannya yang rusak. Hasil berdagang di hari itu, selalu disyukuri dan digunakan untuk menafkahi keluarga. Modalnya yang digunakan pun didapatkan dari jalan yang baik. Jika untung, ia kemudian berbagi dengan tetangga dan anak-anak yatim. Insya Allah,, ia (sang pedagang), termasuk orang-orang yang shaleh.
Atau siapa pun dan apapun profesi kita, mau jadi pelajar, kuli bangunan, tukang becak, sopir, pegawai, dan lain-lain. Insya Allah, jika kita jalankan dengan tulus ikhlas. Berangkat dengan Bismillah, dan pulang dengan rasa syukur. Selalu bersyukur dan berbagi jika ada kelebihan rizki. Membantu orang yang membutuhkan bantuan kita. Insya Allah,, kita termasuk orang-orang yang shaleh. πβπΏπΈ
Dan keshalehan, salah satunya juga dilihat dari seberapa manfaat kita untuk orang-orang di sekitar kita. βSebaik-baik engkau, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lainβ, begitulah sabda Rasulullah SAW. Jadi, jangan khawatir, kita semua memiliki kesempatan untuk menjadi hamba terbaik di sisiNya dan hambaNya yang shaleh… π

#Repost




