πΌππ
Ketika dilahirkan, kita bagaikan selembar kertas kosong yang siap diisi. Kertas ini terus berkembang dan memperbanyak diri setiap harinya. Kita bisa menuliskannya sendiri, bebas. Namun, kebanyakan kita kadang dituliskan oleh orang lain di sekitar kita. Benar kan?
Tintanya adalah perbuat yang setiap hari kita lakukan. Penanya adalah diri kita sendiri, dan kita bebas ingin menulis apa saja. Jadi, jangan pernah mau dituliskan oleh orang lain. Apalagi mau bertukar kertas.
Apa yang sudah tertulis di lembar sebelumnya, tidak akan mungkin diubah lagi. Dan sebaliknya, setiap orang punya kertas kosong di lembar selanjutnya. Jadi tenang saja, jika di lembar sebelumnya agak awut-awutan, kita bisa membuat baru di lembar selanjutnya.
Pada akhirnya, ia akan membentuk sebuah buku kehidupan kita. Jika sudah selesai di tulis, buku itulah yang akan dibaca oleh orang. Tidak mengapa jika buku itu tidak laku, yang penting itu diingatNya. Ini mungkin filosifinya kehidupan. ππΏπ±πΈ
###
Kertas, dalam artian benda, ialah salah satu benda yang lekat dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini.
Bagaimana tidak, kertaslah yang dipakai untuk menulis pelajaran, bagi siswa siswi. Kertas berfungsi sebagai pengingat jumlah barang yang sudah dibeli, belum dibeli, akan dijual dan lainnya, bagi para pedagang. Oh iya, kertas juga dipakai untuk membungkus dagangan. Apalagi penjual asongan kacang-kacangan yang berjualan di pinggir jalan, di pasar, di konser2 musik, di bangku-bangku penonton sepak bola. Istimewanya, jika beruntung, kita bisa melihat soal ulangan siswa siswi di bungkus kacang tersebut. Bukan hanya soalnya, jawaban dan hasil ulangan pun kadang bisa kita ditemukan. Ini hanya di Indonesia. Di negara lain, belum tentu ada. Hhee
Selain dari materinya, nilai dari sebuah kertas berada pada apa yang tertulis dan atau siapa yang memilikinya. Misalkan, selembar kertas saja.
Jika ada di tangan seorang anak kecil, ia hanya akan dikepal, dimutasi sedikit demi sedikit, lalu dicacah dengan halus oleh tangan ciliknya. Akhirnya, masuklah ia ke tong sampah, jika beruntung. Jika tidak, ketas itu akan berakhir dibuang ke sungai, di pinggir jalan, atau di taman-taman. Untungnya bisa terurai di tanah.
Jika selembar kertas itu ada pada seorang pedagang. Pasti akan digunakan untuk mencatat apa yang dibeli, apa yang belum dibeli, berapa jumlahnya, berapa total uang yang keluar. Nah, kertas ini jangan sampai hilang. Harganya adalah waktu dan kerepotan mengingat dan menghitung ulang semua barang, harga masing-masingnya dan apa yang masih kurang, belum dibeli. Jadi, harus dijaga.
Bagi pujangga, selembar kertas dapat menjadi tempat menulis puisi dan puisi sekaligus. Kumpulannya dapat menjadi tulisan indah. Begitulah mungkin singkatnya.
|||Seperti halnya kertas, kita berharga karena apa yang kita miliki. Setiap kita menulis kertas kita masing-masing. Berharga atau tidak yang kita tulis setiap harinya, kita yang menentukan. ||| ππ£π
Saat ini, kita sedang menuliskan sendiri kertas kehidupan kita masing-masing. Ingat ya, kita tulis sendiri. Jangan pernah mau dituliskan oleh orang lain, tidak enak. Jangan membalik kertas selanjutnya sebelum selesai, apalagi jika hanya disuruh orang lain. Kita sendiri yang tahu kapan saat yang tepat. Jadi, mari berusaha menulis indah, tidak dimengerti orang lain tidak apa-apa, kadang awut-awuta juga tidak apa-apa, IA selalu punya penghapusnya. Tugas kita, menulis di lembar hari ini dan selanjutnya dengan baik dan santuy. πΈπΌπ
Salam dari pena kecil yang sedang menulis. βββ





