ππ§ππ
Memang, dengan ilmu, kita akan lebih sadar melihat sesuatu. Kau lihat udara? Dengan mata kita, tidak bisa terlihat, tapai bisa dirasakan. Dengan hidung kita, kita bisa merasakan aroma. Dengan telinga, kita merasakan desir angin. Dengan kulit, aliran angin merayap pada rambut-rambut tipis. Dan seterusnya, dan seterusnya. Itu yang bisa dirasakan hanya oleh indra. Nah, tapi jika dengan ilmu, kita bisa melihat lebih banyak lagi..
Bagi yang punya ilmu tentang udara, ketika dihembuskan angin, ia tahu ilmunya. Angin berhembus karena tekanan udara. Udara mengalir dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Sama seperti air. Mengalir dari yang tinggi ke rendah. Udara juga mengandung ribuan senyawa kimia. Apalagi setelah hujan. Kau pernah berkendara atau berjalan di atas tanah, sejenak setelah hujan reda. Pasti khas. Pasti beda rasanya. Beda aromanya. Ingin tahu penjelasannya???
Begini, simak baik-baik ya. ππππΈ
Suasana khas setelah hujan itu ternyata terbentuk dari kerjasama yang apik antara senyawa kimia geosmin yang dikeluarkan tanah, bersatu dengan air, dan kemudian bakteri yang ada di tanah memproduksi aroma yang khas. Kita tahu, di tanah itu ribuan bakteri. Terutama bakteri Streptomyces, bakteri yang banyak berperan di proses ini, catat itu. Jangan sepelekan bakteri. Nahh, itu yang membantu menghasilkan aroma khas yang diberi istilah Petrichor. Begitulah penjelasan Prof Mark Buttner, dikutip di https://nationalgeographic.grid.id/read/131615153/petrichor-aroma-alami-saat-hujan-dari-mana-asalnya?page=all.
||| Jadi, seperti itulah. Mereka yang menguasai suatu ilmu, akan lebih menyadari lebih banyak dari pada yang tidak punya ilmunya. Sehingga, ia akan lebih sadar, betapa kecil dan sedikit ilmu yang dimilikinya. Tidak akan pernah sombong. ||| Yang ahli agama, pasti akan menjadi rahmatan lil ‘alamiin, menebar rahmat. Yang ahli serangga, pasti akan berpikir kekuasaan Allah ketika melihat seekor lalat. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Untuk itu, jangan pernah berhenti belajar ya. Hingga nafas, sampai di kerongkongan. Udara tidak pernah minta Terima kasih. Tapi bagi yang punya ilmunya, ia akan merasakan kekuasaan Nya ketika bernafas.
Terima Kasih, Udara. Sudah membantu kami bernafas.
Terakhir, ada banyak jalan mendekatkan diri padaNya. Masing-masing kita berbeda. Jangan berhenti belajar.. πππΌπΈ




