Menghormati dan menghargai itu berbeda. Kita, memang banyak menghormati orang, tapi jarang menghargai orang.
Kita, sering kali malu untuk membuang sampah di depan petugas kebersihan atau orang lain yang sedang menyapu. Tapi, jika orangnya sudah tidak ada, kita buang sampah saja sembarang tempat. Itu menghormati, tapi tidak menghargai. Menghargai itu, ada atau tidak yang menyapu, hendaknya kita tidak membuang sampah sembarangan. Kita menghargai usaha penyapu yang sudah membersihkannya.
Kita, seringkali hormat terhadap guru kita di sekolah. Buktinya, di depan beliau, kita tidak berani berbuat pelanggaran. Kita kadang bersalaman, mencium tangan beliau. Tapi di belakang beliau, kadang kita membicarakan beliau antar teman. Atau, kita mencontek walaupun kita tahu, itu akan membuatnya kecewa. Itu menghormati, tapi tidak menghargai.
Misalkan lagi, kita seringkali berterima kasih ketika diberikan makanan oleh orang lain. Kita menghormati. Tapi, kita tidak menghabiskannya. Itu tidak menghargai. Itu menurutku.
Hmm.. Itu lah kita. Lengkapnya, kita bisa belajar tentang perbedaan menghormati dan menghargai dari percakapan antara bapak Deddy Corbuzier dan Helmi Yahya. Berikut linknya:
Kalau ingin langsung, forward ke menit 15.50 – seterusnya.
Ketika pagi ini terjamah sucinya embun Bening nan lembut Namun saat mentari menyapanya Seakan semuanya hanya sesaat Tak ada lagi tersisa 🦋🐞🌱
Dan tatkala merah mentari Terlukis dan terhampar di awan magrib Indah nan mempesona Seakan semesta Melukiskan kehangatan dan keindahannya
Setiap insan merasakannya Tak ada yang dapat mengelak darinya Tapi sesaat kemudian Malampun menjamah Teriring indah bintang gumintang di penghujung langit
Sadarkah kita, kapan itu terjadi?
Sesaat kemudian Tak ada yang mengerti misterinya
Yang jelas Semua hanya sesaat belaka Bagaimana dengan diriku. Engkau dan kita semua Hidup, berteman ruang dan waktu Semuanya hanya sesaat 🍁🍀🐞
by:AJ
###
Memang tak banyak yang bisa kita lakukan di dunia ini. Dunia hanya sesaat saja. Kita hidup dua kali, yaitu ketika dilahirkan oleh Ibu kita dan ketika kita tahu tujuan hidup kita. Apa lagi yang lainnya.
Meskipun begitu, jangan pernah anggap remah dunia ini. Dunia yang sesaat ini adalah tempat kita mengumpulkan bekal agar damai kelak, di akhirat nanti. Hmm, tapi bekal saja tidak cukup. Kita harus bisa membuat-Nya senang, membuat-Nya ridho pada kita. Apa lagi yang lainnya, tidak ada. Kunci semuanya adalah ridho-Nya. Jadi, pantas lah di akhir shalat kita, kita senantiasa memohon ridho-Nya. 🍁🌿🦋
🌱🍀🍁 Banyak hal yang termasuk ke dalam gulma. Namun sebelum itu, kita harus sepakat definisi tentang gulma. Gulma itu, adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki keberadaannya di suatu lahan dan mengganggu tanaman utama. Ini pengertian yang dibuat oleh manusia. Padahal, dari segi tumbuhan nya sendiri, ia berhak hidup di sana. Ya, saingan dengan tanaman lainnya.
Dengan pengertian seperti di atas, yang termasuk gulma itu relatif. Misal, Tanaman cabai, yang hidup di tengah-tengah tanaman padi, termasuk gulma. Karena, tanaman utamanya adalah padi. Maka berlaku juga sebaliknya. Tanaman padi, yang tumbuh dan bersaing di tengah-tengah tanaman cabai, termasuk gulma. 🌱🌸🍀
Nah, di alam sendiri, gulma sebagian besar lebih mampu bertahan dibandingkan dengan tanaman yang kita tanam. Jika saingan. Salah satu jenis gulma yang sering kita temui adalah rumput.
Rumput itu, pertahanannya kuat. Jarang bisa dibasmi semuanya. Pakai herbisida (senyawa kimia yang bisa membunuh gulma), tentu akan kering semua. Yang hidup. Yang masih jadi biji, tidak apa-apa. Karena masih di dalam tanah. Selang beberapa hari, pasti akan tumbuh rumput baru lagi. Dari biji yang ada di tanah tersebut. Walau kandungan air di tanah itu sedikit. Bandingkan dengan tanaman cabai. Telat disiram saja, akan layu. Jika kelamaan layu, ya akan mati. Apalagi jika tidak disiram-siram.
Nah, cerita sejarah sedikit ya. Dulu, eceng gondok, tahu kan?. Itu, yang sering memenuhi kolam gang tidak diurus. Sampai-sampai, kolamnya penuh. Banyak di bendungan juga, yang tidak diurus. Eceng gondok tidak berasal dari Indonesia, ia diintroduksi (diimpor) dari luar negri. Dulu bukan gulma. Ia termasuk tanaman hias, yang hidup di air. Bunganya memang bagus. Jadi, cocok sebagai hiasan kolam. 💮🍁🌿
Lama kelamaan, ternyata lingkungannya cocok dengan iklim di Indonesia. Boom. Akhirnya, berkembang dengan baik. Memperbanyak diri dengan cepat sekali. Awalnya di satu lokasi saja. Lama kelamaan, karena hidup di sungai, ya, tersebar ke daerah-daerah lainnya. Karena sudah terlalu banyak, akhirnya, menjadi gulma karena dapat menutupi permukaan air. Jika sudah tertutup semua, ikat di kolam atau bendungan tidak dapat sinar matahari. Jadi tidak ada makanan dan mengganggu ekosistem kolam atau bendungan.
Nah,, ini hanya ilmu tentang gulma yang masih teringat. Hhee
Kita, kadang bisa menjadi gulma bagi orang lain. Kalau kita tidak bisa mengendalikan diri. Tapi, pasti tidak selamanya. Asal kita berusaha berubah. Semoga kita tidak jadi gulma bagi yang lain ya.
Jika ditanya kepada siswa/siswi, pelajaran apa yang kurang (untuk tidak mengatakan kata tidak) kalian minati? Macam-macam jawabnya. Tapi tentu, salah satunya adalah matematika. Benar kan? 🙂
Bagi sebagian orang, matematika itu sulit. Sulit menghitung angka. Sulit memikirkan pertanyaannya. Sulit membayangkan apa yang ditanyakan. Sulit menghubungkan apa yang dipelajari dengan apa yang dihadapi dalan keseharian. Sulit menghubungkan maksud pertanyaan. Di tingkat SD, mungkin masih agak mudah. Akan bertambah sulit ketika sudah di tingkat lanjut dan tingkat atas. 🍂💮🌸
Bagi sebagian orang lainnya, kata ‘sulit’ berganti menjadi mudah. Matematika mengajarkan berimajinasi, katanya. Matematika membantu menyelesaikan hitungan. Matematika ya, tinggal kali, bagi tambah dan kurang. Semakin atas tingkatannya, semakin menarik. Karena kita diajak untuk berimajinasi lebih jauh lagi. Membayangkan apa yang tidak ada. Atau paling tidak, membayangkan apa yang tidak akan ditemukan di kehidupan sehari-hari.
Kembali ke minat.
Minat orang memang berbeda. Jadi, jika senang matematika, syukurlah. Jika tidak juga, syukurlah. Ia tahu apa yang disenangi dan tidak disenangi.
Jadi, jangan salahkan siapa-siapa lah. Lita sama-sama mendalami apa yang kita senangi. Tapi, jangan lupa pelajari yang lainnya ya. Itu selalu penting.
Pertanyaan selanjutnya, lalu, mengapa kita tetap mempelajari Matematika, bahkan dari tingkatan anak-anak, sampai mahasiswa? 😊🍀🍁
Nahh, menurut saya, ada beberapa alasan. Paling tidak. 🍁🐞❄
Pertama, karena matematika membantu dan melatih kita untuk berpikir, menggunakan otak kita. Tidak apa-apa bingung. Itu bagus. Artinya otak kita sedang berpikir. Neuron jadi tersambung. Otak jadi sehat.
Kedua, karena matematika melatih kita untuk menyelesaikan masalah. Satu tambah satu, hasilnya dua. Bisa dihafalkan. Tapi, kalau sudah soalnya beda, dan banyak, pasti kita mikir untuk menyelesaikannya. Misalkan, berapakah jumlah bata yang dibutuhkan untuk membangun tembok dengan ukuran 6 m x 6 m, ukuran bata 15 cm x 10 cm x 25 cm? Kita pasti mikir untuk menyelesaikannya dengan cara cepat. Jadi, jika ada masalah lainnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita akan terbiasa mencari solusi.
Ketiga, karena matematika ada dalam semua pelajaran, pekerjaan, dan kehidupan kita. Ini yang penting.
Dan selanjutnya, masih banyak lagi.
###
Pada akhirnya, jangan menyerah dengan matematika. Yang penting itu prosesnya. Hasilnya keliru, tidak apa-apa. Masak kalah sama angka. Operasinya kan, hanya kali, bagi, tambah dan kurang saja. Oks