Dalam bahasa jepang, musim semi dikenal dengan istilah Haru ăŻăă Yang paling diingat orang pada musim semi ini adalah bunga sakura. Jepang, dengan segala keindahannya, lengkap dengan adanya sakura. Iya, bunga berwarna putih hingga pink yang mekar bersama. Orang Jepang selalu senang mengadakan festival, karena festival menjadi salah satu alasan untuk berkumpul. Festival melihat bunga sakura dikenal dengan istilah Hanami ăŻăȘăżă
Festival melihat bunga sakura ini adalah salah satu acara besarnya. Musim semi diawali oleh mencairnya mencairnya es yang telah menyelimuti selama musim dingin. Rentangnya sekitar Maret, April, Mei. Setelah mencair semua, udara berangsur menjadi hangat. Sedikit demi sedikit. Perlahan. Rumput yang awalnya kering lalu memunculkan tunas nya. đđ
Semua pepohonan, memunculkan, di ranting-ranting dan batangnya, memunculkan tunas-tunas baru. Sakura juga merekah di musim ini. Setidaknya, selama dua mingguan. Lalu, ketika tidak merekah lagi, ia pun rontok. Musim panas mulai akan menyambut. Lalu pepohonan, daun-daunnya berubah menjadi hijau kembali.
Di Jepang, momen mekarnya bunga sakura adalah saat ketika sekolah memulai tahun ajaran baru. Energi sakura yang mekar diharapkan menjadi awal yang baik untuk memulai belajar. Memulai semangat baru. Mulai memupuk harapan-harapan baru. Bersama dengan mekarnya sakura, anak-anak, remaja dan orang-orang dewasa memulai semuanya dengan senyuman baru. đžđ

Aku memang belum pernah menyaksikannya. Tapi aku berharap akan. Suatu saat nanti. đđžđ
Dalam sebuah film Jepang, judulnya Harumatru Bokura (2018),seorang siswa sekolah, Mitsuki Haruno, membuat sebuah tulisan. Ini sekaligus menutup tulisan ini ya.
Sakura, semoga selalu menjadi lukisan keindahanNya. Di mana pun.
Berikut tulisannya:
Musim-musim nan Menunggu Musim Semi
Oleh: Mitsuki Haruno
Pada tanah yang sejuknya masih terasa,
perlahan musim semi selalu menghampirinya.
Perpisahan, perjumpaan, dan awal baru dimulai pada musim semi.
Aku sangat membenci musim semi yang seperti itu.
Kala saksikan bunga sakura bermekaran tiap tahunnya,
Seraya melenyapkan segala penyesalan dan kegagalan,
ragaku percaya bahwa pribadiku yang baru telah terbentuk.
Walaupun begitu,
berlalunya musim semi tiada kunjung mengubahku.
Begitu banyak emosi yang masih bersemayam dalam hatiku.
Dinginnya latar hatiku masihlah laksana musim dingin.
Sehingga sukar bagiku utarakan perasaan sejati ku.
Namun, musim semi kali ini berbeda.
Embusan angin hangat disertai silaunya kirana, berhasil melelehkan hatiku.
Buatku percaya bahwa pada saat ini, masa depan, dan masa laluku yang memilukan juga bisa menopang ku seterusnya.
Hatiku pun terbebas dari belenggu melawan rasa perih pada musim yang begitu kejam.
Hingga akhirnya musim semi ini datang menyambut ku,
aku sengaja berada dalam tempurung dan beralasan bahwa sesuatu yang berharga bagiku tak bisa ku temukan.
Kehangatan musim semi mengajarkanku bahwa orang yang mengalami kecemasan dan kebimbangan juga turut mengurung diri dalam tempurung.
Silaunya musim semi juga mengajarkanku bahwa dengan saling berselisih dan berterus terang kita dapat saling mengerti satu sama lain.
Alasan mengapa suatu tempat bisa tersinari kirana baskara ialah karena adanya bayangan juga di sana.
Seumpama kuncup bunga yang mekarnya menanti musim semi,
aku pun akhirnya sadar bahwa orang kuat di dunia itu nihil.
Seraya semua orang memikul kelemahan dan kegelisahannya harapan
mereka tetaplah ada, untuk bisa berdiri berdampingan, melihat dari sudut pandang yang serupa, dan juga terus hidup bersama orang yang didambanya.
Hingga suatu saat, saat berdiri berdampingan, kita pun percaya bahwa itulah kekuatan sejati.
Oleh karena itu, langkahku akan terus maju. Demi bisa tiba pada tempat berisikan sesuatu yang berharga. Dan mereka yang membuatku sadar akan semua ini.
Walau setiap saat kita selalu korbankan segala yang kita bisa,
Mungkin kebenaran jawaban itu tidaklah ada. Baik menang maupun kalah, dikala semua perasaan menyatu, manusia akan berani mengambil langkah untuk maju.



