Dalam KBBI daring, CV atau curriculum vitae adalah tulisan singkat tetang riwayat pendidikan atau pekerjaan.. Masing-masing kita punya jalan sendiri, jadi tidak perlu iri dengan jalan hidup yang dilalui orang lain.. Toh, jika kita berada di jalan hidup mereka, belum tentu kita akan sanggup dan bisa melewatinya.. Jalani jalan hidup kita dengan baik, dan selalu lebih baik,, insya Allah hidup bisa lebih manfaat..
Itu pembuka saja.. 🙂
Yang ingin saya bagikan di sini adalah cara menulis CV kita.. ini penting untuk kita saat kita akan melamar pekerjaan.. Penting untuk mengetahui bagaimana cara menulis CV.. Tulisan di bawah ini saya ambil dari akun @fierza, di twitter.. Semoga manfaat, dan jadi kebaikan juga buat @fierza..
Selamat membaca..
Semenjak gw nulis thread tentang rekrutmen & LinkedIn, cukup banyak yang DM gw untuk cek CV mereka. Tapi tiap gw kasih revisi, kesalahannya sama, itu-itu aja. Habis ini gw bikin thread deh gimana cara bikin CV & Cover Letter yang menjual.
First of all, gw mau berterima kasih sepenuhnya sama dosen pembimbing gw yang ngga cuma ngebimbing skripsi gw tapi juga ngebimbing karir gw dan tim rekrutmen tempat gw magang saat ini, thanks for everything. All your praise will belong to them, guys.
Nulis CV tuh kayak jualan. Jadi kita juga pakai prinsip berjualan. Here’s a key: “Don’t tell what you can’t sell, don’t sell what you doubt yourself.”
Oke langsung masuk aja:
1) ALUR. ALUR. ALUR. Biasakan punya alur, apapun itu. a) Bukan masalah apa yang disebutin duluan, tapi gimana alur bacanya. Boleh sebutin section experience atau sekolah duluan, tapi tiap section biasakan jangan lompat-lompat hanya karena ‘hemat space’. b) Urutkan dari yang TERBARU. Apapun itu. Mau pendidikan, mau pengalaman kerja, organisasi, dll Kenapa? Memudahkan rekruter untuk tau “sebelum ke sini, kamu ke mana? Ngapain aja?” Kalau kamu lamar posisi Akuntan, yang nongol TK apa relevan? They don’t have that much time wander
2) Deskripsi. Ini yang sering banget HILANG dalam CV yang gw baca. Rekruter perlu tau kalian itu ngapain aja. Apakah yang kalian lakukan di masa lalu itu relevan dengan jobdesc yang akan kalian hadapi dengan perusahaan nantinya. Tips: a) Tulis Jobdesc. Kalian dapet tugas apa aja selama di perusahaan / organisasi A. b) Tools yang kalian pake apa aja (misal Photoshop, Illustrator, dll buat designers) c) Explain how did you do your job with your tools, your skillset, and how was the result.
3) Skills. Kalian boleh punya skill apa aja, tapi yang harus kalian garis bawahi adalah Do: a) Taruh yang relevan; dan b) Taruh yang menjual. Other than that should be on the “Don’ts” list.
Misal: Case 1: Lu emang jago masak sih, tapi masa iya posisi yang lu lamar Akuntan terus skill yang lu pajang skill memasak? Case 2: Boleh sih background jurusan perikanan, tapi kalau posisi yang dicari finance? Nggak nyambung sob, yg lu pelajarin beda, tools juga beda. Mundur.
Tell what you can sell; don’t sell what you doubt yourself. “Skills: Bahasa Inggris (Pasif)” Ibarat kayak nulis “gw bisa bahasa inggris, tapi nggak jadi” Make sure if you can do it, you understand are able to use it baik aktif maupun pasif. Maybe it’s time to improve?
Lagi, “Skills: memasak. Tapi nggak enak enak banget” Kalo nggak yakin mending nggak usah ditulis sekalian. Terus, kalo ngga ditulis semua, CV gw kosong dong? Mungkin ini udah waktunya ‘memperbaiki diri’ guys. Go get yourself some new skills. CV lu ngga bisa dibiarin kosong.
Bayangin tuh berapa ribu pengangguran baru dari satu kampus doang. Coba sebutin berapa banyak kampus di Indo doang dan berapa banyak yang mereka cetak tiap tahunnya. Belum bahas lulusan luar negeri yang katanya lebih menjual. Coba dipikir gimana jalan keluarnya. Jangan diem.
Yang kedua, usia. Lama menganggur juga bikin usia kita terbuang. Sedangkan beberapa perusahaan punya batasan usia untuk posisi tertentu. Jangankan kerja, ikutan volunteer aja kadang ada batasan usia. Anak muda lebih enerjik dan bisa dibentuk. Usia. Pikirkan itu.
Tiga, victim minded. “Gw kan nggak punya skill kaya lo,” “Gw kan ngga bisa ini itu,” Fakta yang gw hadapi: Everyone has skills. Skills are everywhere; opportunities are not. Lu cari skill baru aja ogah, gimana mau cari opportunity? Susah kalo ngomong sama orang kek gini.
Tips to overcome those two: 1) Waktu: tentukan CUT OFF waktu. Hari ini lo benerin CV lu, apply kerja sebanyak mungkin, sebebas yang lu mau. Dipanggil interview? Dateng. Dianggurin? Seminggu stop berharap. Cari lagi. Cari kerja tuh kudu anti baper. Suka nggak suka pasti nggak suka
2) Victim Minded. Pegang ini: Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kalau nggak ada, berarti bukan masalah. CV kosong? Tambahin skill. Tambahin pendidikan. Anything. Ngga punya duit? Ikut kursus gratisan. Ikut bantu bantu saudara for lil money. Banyak info kalo lu cari tau.
Bisa juga bangun reputasi dari bantu-bantu tadi. Gw pertama kali bangun portolio gw juga gratisan. Gw mondar mandir sana sini juga butuh dana keluar. Bensin, makan, dll. Gw dibayar terima kasih doang udah biasa. Tapi skill & portfolio gw nambah. Bisa ‘dijual’ buat apply kerja.
Other tips buat CV: Kalau lu punya banyak skill di berbagai bidang yang bisa dijual, lu bikin aja beberapa versi CV. Misal satu CV buat graphic design, satu CV buat karir kuliah lu, satu lagi buat hobi copywriting misal. Bangun CV tuh kaya main lego, bisa bongkar pasang.
Again, masukin yng relevan. Lu nembak posisi apa, masukin pengalaman & deskripsi yang masuk dengan posisi itu. Nggak perlu masukin skill / pengalaman A kalo emang nggak sesuai. Lebih baik tanpa pengalaman tapi nyambung. Next: Cover letter
Gw masih sering banget nemu cover letter yang isinya “Nama: Alamat: dst Daftar lampiran: KTP SKCK dst” No. Big no. Cover letter itu harusnya menceritakan siapa kamu dan apa yang kamu lakukan, versi singkat CV kamu lah. Ibarat clickbait yang bikin rekruter mau baca CV kamu.
Facts: Cover letter tidak selalu dibaca. Tapi lamaran tanpa Cover Letter? Kadang langsung di skip. Cover letter seharusnya isinya “personal” hanya untuk perusahaan yang kamu tuju. Beda posisi? Beda letter. Beda perusahaan? Apalagi. Here’s the tips:
Cover letter: 1) Tell who you are. Sebutkan nama dan background. 2) What you did in the past. Ceritakan pengalaman yang relevan dengan posisi & perush. Cukup highlights aja, ngga usah semua. 3) Ceritakan goalmu yang relevan dengan posisi / perusahaan and why they should hire u
Isi cover letter tadi bisa lu masukin ke body e-mail kalo lu apply kerja via email. Jangan pernah biarkan body email kosong. Jangan lupa isi subject sesuai dengan kriteria yang diminta rekruter, memudahkn untuk “search” di email mereka. Sekian thread kali ini.
Oleh: @fierza di Twitter..
Bogor 08 Maret 2019