Niaat,,

Di zaman saat ini, kiranya masih banyak hal yang membingungkan di dalam pikiran kita.. Membingungkan karena mungkin saja kita tidak punya tujuan.. atau mungkin juga, niat kita melakukannya memang belum benar..

Terkadang kita perlu berhenti sejenak,, kalau bahasa dosen saya; “We have to stop a moment, and smell the flowers”. Artinya, kita harus berhenti sejenak, dan mencium aroma bunga.. keluar dari rutinitas kehidupan kita,, dan mulai merenung.. Boleh jadi, dengan begitu kita akan benar-benar merasaha hidup..

Apakah ini yang kita benar-benar cari selama ini??

Kita hendaknya bisa menjawabnya sendiri-sendiri,, dan masing-masing dari kita punya jawabannya..

Penting untuk memperbaiki niat, karena dengan begitu, kita benar-benar yakin dengan apa yang kita lakukan.. bukankah, ketika akan melaksanakan ibadah, Niat menjadi rukunnya??

Terkhusus bagi yang sedang menuntut ilmu, tulisan di bawah ini mungkin bisa jadi renungan.. Catatan seorang santri yang menuntut ilmu..

 

#Yang sebenarnya kita cari ketika menuntut ilmu itu adalah ilmu itu sendiri,,

bukan untuk mencari pekerjaan.. ^^

Sebagian orang mungkin akan tertawa,, tapi biarkan saja,,

di zaman sekarang ini, tidak banyak yang memahami pemikiran kita..

Biarlah nanti, ilmu tersebut yang menuntun diri kita da membawa kita ke mana saja..

#Yang kita cari dari guru kita bukanlah pengetahuan mereka saja,, tapi lebih tinggi lagi,,

yaitu ADAB, KETELADANAN, dan KEBERKAHAN..

Bukankah, pengetahuan bisa kita dapan kapan saja? tidak dengan ADAB,, harus dilatih..

Bukankah, pengetahuan bisa kita cari di mana saja? tidak dengan keteladanan..

Bukankah, pengetahuan juga bisa kita dapatkan dari mana saja? tidak dengan keberkahan..

karena keberkahan,, hanya akan kita dapatkan setelah orang tua dan guru kita ridho..

Kemudian,, biarlah nanti keberkahan itu yang menuntun kita padaNYA..

“Ketika dua perkara, Ilmu dan Adab berkumpula jadi satu, maka dahulukanlah adab..” Tutur seorang bijak.. 🙂

Dan tujuan akhir dari niat kita adalah selalu padaNYA..

IMG_20180724_211912_HDR.jpg
Masjid di Tsukuba

Selamaat memperbaiki niaat.. 🙂

Advertisements

Waktu,,

Waktu demi waktu yang kita jalani.. Setiap desah nafas kita adalah selangkah menuju kubur, sehingga perayaan ulang tahun kita adalah perayaan berkurangnya umur kita di dunia ini.. Yang terpenting ialah bukan perayaan tersebut, namun bagaimana kita bisa menjadikan saat-saat perayaan tersebut sebagai saat-saat kita mengevaluasi diri, memperbaiki diri, merenung, bermuhasabah,,,

Apa yang sudah kita lakukan?

Apa yang belum kita lakukan?

Apakah yang akan kita lakukan kita lakukan?

Apakah kita sudah bermanfaat bagi orang lain?

Alangkah ruginya, jika kita menjalani sesuatu yang berharga dan kita sia-siakan, sampai ada yang mengatakan bahwa orang yang paling bodoh adalah orang yang diberikan modal, namun disia-siakan..

Tak dapat dipungkiri, bahwa satu-satunya yang tidak bisa kita rem adalah waktu. Sehingga merugilah mereka yang menyia-nyiakan waktunya, dan beruntunglah meraka yang bisa menjadikan setiap waktunya sebagai amal.

Lihat sampah berserakan, pungut buang di tong sampah,

Lihat lantai kotor, sapu.. lihat kamar berantakan, rapikan..

Lihat batu di tengah jalan kepinggirkan..

Setiap orang memiliki waktu yang sama, orang yang berhasil dengan orang yang gagal punya waktu yang sama.. Orang yang bahagia dengan orang yang sengsara memiliki waktu yang sama, dan orang yang ahli surga dengan yang ahli neraka..

Waktu itu relatif,,

Bagi sebagian orang, waktu 15 menit adalah waktu yang berharga, banyak yang bisa dilakukan.. Bagi sebagian lainnya, waktu 15 menit hanya lewat begitu saja, tanpa arti, tanpa bekas apapun..

Waktu itu terasa cepat,, sebenarnya,,

Yang membuatnya lama hanya perasaan kita saja..

Hidup ini hanya sekali,

jangan buat berlalu tanpa arti.. 🙂

Bukankah, IA bersumpah atas nama waktu, dan yang paling baik adalah yang setiap waktunya dipenuhi oleh kebaikan??

Jangan lupa melangkah untuk berbuat baik.. 🙂

###

DSCF0489
Sumber: SRP 2018

Bogor, 27 Februari 2019

Enam huruf: I K H L A S,,

img_20190222_072927_hdr.jpg
Kupu-kupu dan bunga pucuk merah

Keikhlasan adalah hal yang ingin dimiliki sebagai orang yang beragama agar apa yang dilakukan diterima olehNya. Ada beberapa tingkatan orang ikhlas. Tingkatan tertinggi adalah ketika kita melakukan sesuatu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah adalah kita melakukan suatu kebaikan agar dimasukkan ke surgaNya dan dijauhkan dari nerakaNya..

Pernah nonton film Kiamat Sudah Dekat?

Dalam salah satu episodenya, film tersebut mencoba menggambarkan seseorang yang ingin sekali mencari keikhlasan. Ia mencarinya agar ia bisa menikahi perempuan yang menjadi pujaan hatinya. Ikhlas menjadi syarat yang diberikan orang tua perempuan tersebut. Ia pergi ke toko buku, ke perpustakaan dan tempat lainnya. Segala hal yang bertuliskan ikhlas, dibacanya. Sampai-sampai,, papan masjid Al-Ikhlas pun diambilnya. Hhee..

Namun ia tidak menemukan. Pada akhirnya,, setelah berusaha dengan keras namun tidak menemukannya, ia pun kemudian pasrah. Tidak dapat menemukan arti keikhlasan, sehingga dalam pikirannya, ia pasrah tidak mendapatkan pujaan hatinya karena tidak berhasil menemukan makna keikhlasan tersebut. Tapi pada akhirnya, kepasrahannya merupakan bentuk keikhlasan itu sendiri.

Ikhlas dapat berarti menyingkirkan segala sesuatu yang bukan buat Tuhan

Ikhlas itulah air,, sebagai penyiram untuk benih yang kita tanam.. Jika tidak, maka benih yang ditanam tidak akan tumbuh..

Ikhlas, rahasia antara hamba dengan Tuhannya.. Malaikat pun tidak tahu, sehingga tidak ditulis.. Setan tidak tahu, sehingga tidak digoda..

Ada beberapa tanda-tanda orang yang ikhlas, yaitu:

  1. Dipuji atau tidak dipuji, sama saja, dan biasanya ingin menghindar dari pujian
  2. Tidak segan memuji orang yang melakukan kebaikan. Mengapa tidak, bukankah memuji orang yang melakukan kebaikan berarti kita juga bangga karena orang lain berbuat kebaikan?
  3. Takut dihinggapi sesuatu yang bertentangan dengan keikhlasan,, takut tidak diterima apa yang sudah dilakukannya. Ketakutan ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang sekarang. Para ulama’ zaman dahulu sangat takut sekali dilihat melakukan kebaikan sehingga beliau-beliau melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Pun ketika melakukan sembunyi-sembunyi, beliau-beliau selalu berdo’a agar dihindarkan dari perasaan telah melakukan kebaikan.
  4. Selalu menuduh dirinya bahwa amalannya tidak sempurna, sehingga selalu berusaha lebih baik lagi di kemudian hari.

Di pesantren dulu, sering kali kita mendengar tentang kisah Sayyidina Umar bin Khattab RA. dengan keikhlasan beliau. Ketika beliau menjadi khalifah, beliau sendiri yang memikul bahan-bahan makanan untuk dibagikan kepada kaun fakir miskin. Tanpa sama sekali diketahui oleh mereka bahwa yang memberikannya adalah sang khalifah..

Terang-terangan memberi sedekah itu tidak apa-apa..

Menerima sesuatu, tidak berarti tidak ikhlas..

Menolak sesuatu belum tentu ikhlas.. 🙂

Sebagai penutup..

Habib Syech Abdul Qodir Assegaf pernah bertutur dalam sebuah ceramah beliau.

Jika suatu ketika, kau ditanya, manakah yang lebih baik, bersedekah uang 1 juta rupiah namun tidak ikhlas. Atau kah bersedekah 10 ribu, tapi ikhlas (katanya)??

Beliau melanjutkan,, lebih baik bersedekah 1 juta rupiah walaupun tidak ikhlas. Mengapa? Karena mungkin saja, orang yang kita berikan akan mendo’akanmu sehingga kau menjadi orang yang ikhlas. Meskipun ketika itu kau tidak ikhlas, tapi dengan do’a orang yang kau beri, menjadikanNya ridho terhadapmu.. 🙂

Itu saja untuk tulisan kali ini.. Terima Kasih 😀

#Sebagian materi disadur dari ceramah Habib Syech..

Arti Keshalehan,,

Dalam hidup, salah satu cita-cita kita sebagai orang beragama adalah menjadi orang yang shaleh. Yang dekat denganNya, dan bermanfaat bagi sesama, bagi makhluNya. Kurang lebih, itulah arti kata keshalehan yang secara sederhana, paling tidak, menurut penulis. Walaupun, menjalankannya tidaklah sesederhana itu. Ada banyak godaan yang menghalangi kita untuk melaksanakannya.

Lalu, apakah makna yang sebenarnya?!!

Berikut cuplikan ceramah tentang keshalehan menurut Gus Mus, salah satu Kiai asal Rembang.

“Kita sering kali mendengar orang mengatakan shaleh, shaleh, sering mendo’akan orang, mudah-mudahan anaknya menjadi orang yang shaleh. Tapi, jarang sekali orang menjelaskan apa sih keshalehan itu. Barangkali ada atau bahkan banyak yang membayangkan bahwa orang yang shaleh itu,, yaa, seperti kiai, seperti ustadz, seperti ulama.

Kalau keshalehan itu, hanya dimiliki oleh ulama, kiai, ustadz, yang lain-lain seperti petani, polisi, pejabat, nanti nggak mendapatkan keshalehan. Kalau melihat asal katanya, shaleh itu berasal dari kata sha, lam, ha, yang artinya kepatutan, kepantasan kepantasan, kepatutan. Kepantasan seseorang itu tidak sama, misalnya kepantasan ustadz, kepantasan kiai, lain dengan kepantasan pejabat, misalnya bupati, camat.. “ (@s.kakung; Ahad, 4 Juni 2017).

Jadi, ternyata, keshalehan itu dapat diraih oleh siapapun. Jadi, jangan bayangkan bahwa yang bisa shaleh itu anak pondokan saja, atau ustadz saja, atau anak ustadz saja, atau kiai saja. Ternyata tidak. Kita semua bisa menjadi orang shaleh, tenang saja.. 🙂

Kita yang menjadi petani, sebelum berangkat ke sawah mengucapkan Basmalah, kemudian merawat tanaman kita dengan baik, pulang sore hari, dan menyerahkan tanaman yang sudah kita rawat kepadaNya. Di rumah, berkumpul dengan keluarga dan mengaji sehabis magrib. Jika waktunya panen, kemudian mendapatkan hasil. Hasilnya kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, menafkahi keluarga, dan juga biaya anak untuk sekolah. Jika pun terkadang gagal panen, atau hanya dapat sedikit hasil, tetap bersyukur sembari berserah padaNya. Insya Allah,, kita termasuk golongan orang-orang shaleh.

Atau seorang pedagang. Bangun di pagi buta untuk menyiapkan dagangannya. Shalat dulu baru berangkat ke pasar, atau shalat di pasar di sela-sela berdagang. Kemudian, ia berdagang dengan jujur, tidak mengurangi timbangan. Tidak berbohong jika memang ada dagangannya yang rusak. Hasil berdagang di hari itu, selalu disyukuri dan digunakan untuk menafkahi keluarga. Modalnya yang digunakan pun didapatkan dari jalan yang baik. Jika untung, ia kemudian berbagi dengan tetangga dan anak-anak yatim. Insya Allah,, ia (sang pedagang), termasuk orang-orang yang shaleh.

Atau siapa pun dan apapun profesi kita, mau jadi pelajar, kuli bangunan, tukang becak, sopir, pegawai, dan lain-lain. Insya Allah, jika kita jalankan dengan tulus ikhlas. Berangkat dengan Bismillah, dan pulang dengan rasa syukur. Selalu bersyukur dan berbagi jika ada kelebihan rizki. Membantu orang yang membutuhkan bantuan kita. Insya Allah,, kita termasuk orang-orang yang shaleh.. 🙂

cropped-sam_2485.jpg
Jalan di kampus Tsukuba

Dan keshalehan, salah satunya juga dilihat dari seberapa manfaat kita untuk orang-orang di sekitar kita. “Sebaik-baik engkau, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”, begitulah sabda Rasulullah SAW.

Jadi, jangan khawatir, kita semua memiliki kesempatan untuk menjadi hamba terbaik di sisiNya dan hambaNya yang shaleh… 🙂

Mati dan kita,,

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi

memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

Karya: Sapardi Djoko Damono

 

Tokoh kita kali ini adalah Prof. Sapardi Djoko Damono. Prof. Sapardi merupakan salah satu sastrawan senior yang masih dimiliki oleh Indonesia. Beliau merupakan Guru besar sastra di Universitas Indonesia. Ada banyak karya puisi dan buku yang telah beliau hasilkan. Salah satu karya yang juga dijadikan film adalah ‘Hujan Bulan Juni’. Hingga saat ini, beliau masih aktif menulis puisi. Di suatu wawancara, beliau pernah ditanya, “Puisi mana yang paling beliau sukai?”. Beliau kemudian menjawab, “Puisi yang belum aku tulis”. Pada tanggal 24 Oktober 2018 lalu, beliau menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers & Readers Festival 2018 yang di selenggarakan di Ubud, Bali (lihat @SapardiDD). Puisi lain beliau yang terkenal adalah

AKU INGIN

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

kepada api yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Kemarin, 17 Februari, kabar duka datang dari beliau. Istri beliau, Wardiningsih binti Sungkono, meninggal dunia. Semoga amal ibadah beliau diterimaNya, dan dosa-dosa beliau diampuniNya. Amiin YRA.

Dzm56BsUcAApr2W
Sumber: @SapadiDjoko_ID

Dalam setiap acara tahlilan di kuburan, kita sering mendengar bahwa setiap yang bernyawa, pasti akan mati. Kapan? Terserah padaNya yang memiliki hidup kita. Kemudian, kita pun diyakinkan bahwa surga itu benar, neraka itu benar, siksa kubur itu benar, nanti ada juga malaikat yang akan menanyakan kita. Jawaban kita akan sesuai dengan pebuatan kita selama di dunia, baik kah, atau buruk kah, tergantung kita.

Kemudian, tahlil pun ditutup dengan mengutip surat Al-Qur’an yang terjemahnya kurang lebih,

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah bersama hamba-hambaKu, dan masuklah ke surgaKu”..

Semoga kita termasuk, Amiin YRA…

Lalu, mengapa harus ada kematian?

Agar kita tahu bahwa kita sedang hidup. Agar kita sadar bahwa betapa penting kita menjalani hidup dengan baik. Agar kita sadar bahwa dunia ini hanya sementara, kelak, kita pun akan meninggalkannya. Dunia ini hanya persinggahan saja, Hidup yang sebenarnya adalah di akhirat kelak. Agar kita selalu ingat, bahwa hidup adalah untuk beribadah padaNya. Hidup ini, berharga..

Pada akhirnya,,

Kita hidup di dunia ini hanya sekali, pendek, penuh masalah, namun yakinlah, kita selalu memilikiNya..

Kita hidup hanya sekali, mari sebanyak-banyaknya menyebarkan manfaat.. 🙂

 

Mengenal Dunia Luar,,

Sebagai bagian dari generasi yang lahir di tahun 1990-an, saya banyak mengalami pengalaman yang tidak akan ditemukan di era seperti saat ini dan saya bersyukur sekali karena bisa mengalaminya..

Tapi,, mungkin setiap generasi punya tantangan dan kelebihannya masing-masing.. tinggal selanjutnya, kita yang harus pandai-pandai mengambil pelajaran dari perubahan zaman yang selalu dinamis..

Tahun 2005 adalah tahun pertama saya masuk ke Pondok Pesantren.. Saya merupakan satu di antara teman-teman lainnya yang memilih untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren.. Memikirkannya saat ini membuat saya rindu dengan kehidupan di Pesantren dulu..

Kita tinggal di pesantren 24 jam, sejak mulai bangun tidur, sampai tidur lagi.. Pada awal masuk pesantren, tentu saja, tidak betah.. Banyak aturan yang ketat, hukuman, masalah, dll.. Namun seiring dengan berjalannya waktu, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, saya berangsur menyukai hidup di pesantren.. Di pesantren saya mengenal banyak hal, mendapatkan sahabat, belajar hidup bersama, belajar susah bersama, mengaji bersama, dihukum bersama dll.. Di saat teman-teman yang lain bebas ke mana saja tanpa terikat aturan, saya dan teman-teman di pesantren diajarkan untuk menaati aturan.. Tapi ada juga,, saat-saat saya juga melanggar beberapa aturan.. hhee

Masih ada banyak kisah di pesantren yang menarik untuk diabadikan.. Tapi sampai di sini dulu..

Kembali ke mengenal dunia luar..

Ketika lulus dari pesantren adalah saat-saat mengenal dunia luar.. Untuk pertama kalinya, saya membeli handphone sendiri.. hhee Berbekal uang beasiswa, saya membeli handphone yang bisa memutar lagu-lagu.. di masa itu, handphone ini adalah barang mewah yang tidak saya miliki kecuali setelah selesai dari pesantren.. Saya kemudian tersadar, dan besyukur sekali karena memiliki handphone setelah lulus Madrasah Aliyah.. Sebenarnya, saat ini bukan saat pertama saya mengenal handphone karena ada teman-teman lain yang juga memilikinya, serta, ada juga guru saya yang sering meminjamkan handphone-nya untuk sekedar mendengarkan musik..

Satu hal yang paling saya syukuri sampai saat ini adalah saya mengenal dunia luar ketika saya sudah memiliki pegangan yang menjadikan saya tidak mudah terbawa arus ‘dunia luar’.. Pondok Pesantren memberikan pegangan dan pedoman bahwa kau tidak boleh ikut arus,, sebisa mungkin, kau buat arus sendiri.. Pun ketika saya diberikan kesempatan untuk merantau dan keluar lebih jauh lagi, apa yang saya dapatkan dan pelajari selama di pondok pesantren dulu menjaga saya dari arus zaman yang selalu berubah dan tidak menentu..

Zaman akan selalu berubah,, dunia luar juga dunia yang harus kita hadapi agar kita tahu bahwa dunia tidak sesempit yang kita pikirkan.. Ada banyak sekali lembaran yang perlu kita isi dalam kehidupan kita..  Ada banyak sekali yang harus kita kunjungi untuk merasakan seberapa besar dunia ini, dan seberapa kecil kita.. dengan begitu, kita menjadi tahu seberapa besarNya ia.. Bagaimanapun keadaan ‘dunia luar’, kita hendaknya tidak lupa untuk selalu kembali padaNya.. Karena IA adalah muara dari segala sesuatu..

Hidup di Dunia ini hanya sekali saja,, dan yang akan datang adalah waktu yang paling dekat.. Jadi, jangan sia-siakan hidup kita.. Keluarlah, jelajahi dunia luar, tapi jangan lupa selalu kembali padaNya di ujung hari-harimu.. 🙂

Bogor, 12 Februari 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dunia saat ini..

Kehidupan di zaman ini sepertinya terlalu gersang,,

ada banyak hal yang terlewat begitu saja..

terlalu banyak informasi,, sehingga,,

kita menjadi tidak tahu apa yang harus benar-banar perlu diperhatikan..

Yang bisa mengontrol kita saat ini hanyalah diri kita sendiri..

 

Ingin rasanya kembali seperti dulu lagi,, ketika masih berada di Pondok Pesantren..

Tugas kita hanyalah belajar,, mengaji,, belajar lagi,, mengaji lagi..

di tempat yang paling sederhana sekalipun,

Dunia serasa hidup,, tentram,, tenang,, dan kita tahu mengapa kita hidup..

Tapi itu dulu,, ada banyak yang berubah saat ini..

 

Saat ini,, ketika jauh dari Pondok Pesantren,,

Akhirnya ku tersadar,, bahwa kehidupan semasa di Pondok Pesantren dulu mengajarkan dan membekaliku banyaak hal..

Hal-hal inilah yang membentengiku saat ini dari Kehidupan yang terus berubah ini..

 

Di sini,, Jaauuuh dari pondok pesantren dulu,,

aku menyadari bahwa kehidupan di pesantren dulu hanyalah persiapan saja untuk mengarungi kehidupan yang sesungguhnya..

Di sinilah,, perjuangan yang sesungguhnya dijalani..

Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan,, ada banyaak sekali hal yang membuatku turun sebawah-bawahnya,, ada banyak hal juga yang membuatku optimis bisa ke mana sajaa…

Namuun,, satu hal,,

bahwa kehidupan di pesantren dulu mengajarkan bahwa di manapun kita berada,,

Kita haruslah terus kembali dan berharap hanya pada-Nya..

Bukankah,,

kehidupan ini hanya sementara!??

Buat apa kehidupan yang kita jalani jika itu hanya membuat kita jauh dari-Nya!??