Perjuangan dan Takdir

Kata sebagian orang, “Hidup adalah perjuangan, maka kau harus terus berjuang selama hidupmu”

Sebagian lainnya mengatakan bahwa, “Hidup ini hanya sekali, jadi jangan sampai kau melakukan apa yang akan kau sesali jika melakukannya”

Setiap orang memang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan sebagian orang, harus berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Setiap orang berbeda-beda, tergantung dari takdir yang digariskannya.

Ada orang yang berjuang di awal. Ia biasanya berasal dari kalangan yang kurang mampu. Selama ia mampu untuk terus berjuang dan tetap memegang teguh impiannya, suatu saat, pasti ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan. Ada banyaaak sekali cerita orang-orang sukses yang berjuang sedari awal untuk memenuhi kehidupannya. Biasanya, ia di kemudian hari menjadi orang-orang besar. Karena sudah biasa berjuang di awal untuk memenuhi kebutuhannya, ia menjadi orang yang bisa berjuang untuk memenuhi keinginannya kemudian. Kapan ia bisa mencapai apa yang diharapkannya? Syaratnya satu, perjuangan yang dilakukannya terus menerus, bertemu dengan takdir dariNya. Yakinlah, IA tidak akan pernah mengecewakan hambaNya.

Di sisi lain, ada orang yang hidup berkecukupan atau berlebih. Ia tidak harus berjuang atau berusaha untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya sehingga ia terbiasa mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Akibatnya? Ia kurang terlatih untuk berjuang. Ada kecualinya juga, yaitu orang-orang yang walaupun berkecukupan, ia menempatkan diri pada kondisi yang mengharuskannya untuk berjuang. Orang yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan akan cenderung memiliki semangat juang yang rendah. Mengapa? Karena memang ia tidak terlatih untuk berjuang. Apakah keliru? Menurut saya tidak. Jika kira termasuk yang sering mendapatkan apa yang kita inginkan, mulai sekarang, kita harus bisa melatih diri untuk berjuang. Menempatkan diri untuk berusaha mendapatkan sesuatu, dan belajar juga untuk menghargai apa yang sulit ataupun mudah kita dapatkan, apalagi yang kita miliki saat ini.

Akan ada saatnya dalam hidup seseorang ketika ia tidak mendaptkan apa yang diinginkannya, ketika ia bahkan harus berjuang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Maka siapapun kita, harus bersiap. Pun mereka yang telah berjuang pun harus tetap mempersiapkan diri. Takdir ke depan siapa yang tahu, kecuali IA. Maka,, ingatlah untuk tetap mengingatNya, kapanpun dan dimanapun kita.

Masing-masing orang tidak bisa memilih berada di golongan yang mana. Harus berjuang terlebih dahulu kah, atau berjuang nanti di kemudian hari. Hanya IA yang tahu takdir kita. Namun satu hal, kita harus selalu berjuang, entah berjuang untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan maupun inginkan. Ataupun untuk berjuang mensyukuri apa yang kita miliki saat ini.

Hidup hanya sekali, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang kita akan menyesalinya jika melakukannya. Terus berjuang dan mari sertakan IA selalu dalam perjuangan kita,, bahkan dalam setiap gerak langkah dan hembusan nafas kita. Semoga kita bisa!!!

Bogor, 13 Februari 2019 🙂

Sebuah Awal Baru..

Setiap hari adalah awal yang baru.. setidaknya, itulah yang ada di pandangan mereka yang optimis (atau belajar untuk optimis)..

Tulisan ini adalah tulisan pertama yang dihajatkan bukan juga menjadi tulisan terakhir. Ada banyak hal yang menjadi pemicunya, salah satunya adalah tulisan dari DI’s way yang membangkitkan lagi semangat menulis penulis. Semoga tulisan ini dan tulisan selanjutnya dapat bermanfaat..

Awal yang baru selalu menjadi hari yang menyenangkan, karena kita memang menemukan hal yang baru. Tentu saja selanjutnya, pasti akan selalu ada alasan untuk tidak melanjutkannya. Namun tentu saja, selalu lebih banyak alasan untuk terus melanjutkannya secara istiqomah, asalkan kita mau mencarinya, atau bahkan membuatnya sendiri..

‘Menulis’ bagi sebagian orang adalah hal yang susah. Namun bagi sebagian lainnya, menulis adalah aktivitas yang menyenangkan.

‘Menulis’ dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat dan pikiran kita. Katanya, “Menulislah, maka kau abadi”.

‘Menulis’ tentu tidak bisa langsung berharap bagus, dan enak dibaca orang lain. Tapi nikmati saja lah, karena seperti halnya sebuah karya, tidak akan pernah langsung menjadi bagus di mata orang.

‘Menulis’lah,, maka kau bisa memiliki lebih banyak lagi kehidupan. Bagaimana tidak, apa yang kau alami saat ini akan dapat engkau kenang di kemudian hari melalui tulisanmu.

‘Menulis’lah,, dengan pena, ataupun dengan alat tulis lainnya. Bukankah wahyu pertama juga mengandung kata Qolam??!

‘Menulis’lah,, tapi jangan lupa membaca, agar tulisan yang kau buat dapat lebih bermanfaat lagi.. Agar tulisan yang kau hasilkan lebih berkah lagi.

‘Menulis’lah,, semoga ke depan bisa tetap istiqomah.. Amiin..

‘Menulis’lah,, dengan mengawali menyebut nama-Nya.. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adab

Di Pesantren dulu,, kami selalu diajari bahwa Adab berada di atas ilmu..

Adab itu sendiri adalah ilmu itu juga,, ilmu yang diamalkan..

Nahh,, jadi, mereka yang menjaga adab adalah mereka yang menjaga ilmu yang dimilikinya, sekecil apapun itu..

Di zaman sekarang ini,, kita sering kali memisahkan adab dengan ilmu yang kita pahami..

Ingat pula lah,, bahwa alat tidak boleh menjadikan kita menghilangkan adab itu sendiri.. seperti menggunakan ketika kita menggunakan alat komunikasi,, ada adab yang harus kita tetap jaga..

Adab kita terhadap makhlukNya,, menggambarkan bagaimana adab kita terhadapNya..

Pikiran dan Perut

Sama halnya dengan kita menajaga makanan yang akan kita makan agar lebih sehat,,

kita hendaknya juga menjaga apa yang kita baca agar kita tetap bisa berpikir dengan lebih jernih..

Apa jadinya jika semua yang kita anggap enak, kita jejalkan ke perut kita??

Pun apa jadinya jika semua tulisan yang kita lihat,, kita baca dan masukkan ke pikiran kita?? apalagi di zaman seperti sekarang ini..

Sepertinya,,

Pikiran kita juga butuh untuk dipuasakan,, sebagaimana kita memuasakan perut kita..