Sebuah Awal Baru..

Setiap hari adalah awal yang baru.. setidaknya, itulah yang ada di pandangan mereka yang optimis (atau belajar untuk optimis)..

Tulisan ini adalah tulisan pertama yang dihajatkan bukan juga menjadi tulisan terakhir. Ada banyak hal yang menjadi pemicunya, salah satunya adalah tulisan dari DI’s way yang membangkitkan lagi semangat menulis penulis. Semoga tulisan ini dan tulisan selanjutnya dapat bermanfaat..

Awal yang baru selalu menjadi hari yang menyenangkan, karena kita memang menemukan hal yang baru. Tentu saja selanjutnya, pasti akan selalu ada alasan untuk tidak melanjutkannya. Namun tentu saja, selalu lebih banyak alasan untuk terus melanjutkannya secara istiqomah, asalkan kita mau mencarinya, atau bahkan membuatnya sendiri..

‘Menulis’ bagi sebagian orang adalah hal yang susah. Namun bagi sebagian lainnya, menulis adalah aktivitas yang menyenangkan.

‘Menulis’ dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat dan pikiran kita. Katanya, “Menulislah, maka kau abadi”.

‘Menulis’ tentu tidak bisa langsung berharap bagus, dan enak dibaca orang lain. Tapi nikmati saja lah, karena seperti halnya sebuah karya, tidak akan pernah langsung menjadi bagus di mata orang.

‘Menulis’lah,, maka kau bisa memiliki lebih banyak lagi kehidupan. Bagaimana tidak, apa yang kau alami saat ini akan dapat engkau kenang di kemudian hari melalui tulisanmu.

‘Menulis’lah,, dengan pena, ataupun dengan alat tulis lainnya. Bukankah wahyu pertama juga mengandung kata Qolam??!

‘Menulis’lah,, tapi jangan lupa membaca, agar tulisan yang kau buat dapat lebih bermanfaat lagi.. Agar tulisan yang kau hasilkan lebih berkah lagi.

‘Menulis’lah,, semoga ke depan bisa tetap istiqomah.. Amiin..

‘Menulis’lah,, dengan mengawali menyebut nama-Nya.. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adab

Di Pesantren dulu,, kami selalu diajari bahwa Adab berada di atas ilmu..

Adab itu sendiri adalah ilmu itu juga,, ilmu yang diamalkan..

Nahh,, jadi, mereka yang menjaga adab adalah mereka yang menjaga ilmu yang dimilikinya, sekecil apapun itu..

Di zaman sekarang ini,, kita sering kali memisahkan adab dengan ilmu yang kita pahami..

Ingat pula lah,, bahwa alat tidak boleh menjadikan kita menghilangkan adab itu sendiri.. seperti menggunakan ketika kita menggunakan alat komunikasi,, ada adab yang harus kita tetap jaga..

Adab kita terhadap makhlukNya,, menggambarkan bagaimana adab kita terhadapNya..

Pikiran dan Perut

Sama halnya dengan kita menajaga makanan yang akan kita makan agar lebih sehat,,

kita hendaknya juga menjaga apa yang kita baca agar kita tetap bisa berpikir dengan lebih jernih..

Apa jadinya jika semua yang kita anggap enak, kita jejalkan ke perut kita??

Pun apa jadinya jika semua tulisan yang kita lihat,, kita baca dan masukkan ke pikiran kita?? apalagi di zaman seperti sekarang ini..

Sepertinya,,

Pikiran kita juga butuh untuk dipuasakan,, sebagaimana kita memuasakan perut kita..

Dunia saat ini..

Kehidupan di zaman ini sepertinya terlalu gersang,,

ada banyak hal yang terlewat begitu saja..

terlalu banyak informasi,, sehingga,,

kita menjadi tidak tahu apa yang harus benar-banar perlu diperhatikan..

Yang bisa mengontrol kita saat ini hanyalah diri kita sendiri..

 

Ingin rasanya kembali seperti dulu lagi,, ketika masih berada di Pondok Pesantren..

Tugas kita hanyalah belajar,, mengaji,, belajar lagi,, mengaji lagi..

di tempat yang paling sederhana sekalipun,

Dunia serasa hidup,, tentram,, tenang,, dan kita tahu mengapa kita hidup..

Tapi itu dulu,, ada banyak yang berubah saat ini..

 

Saat ini,, ketika jauh dari Pondok Pesantren,,

Akhirnya ku tersadar,, bahwa kehidupan semasa di Pondok Pesantren dulu mengajarkan dan membekaliku banyaak hal..

Hal-hal inilah yang membentengiku saat ini dari Kehidupan yang terus berubah ini..

 

Di sini,, Jaauuuh dari pondok pesantren dulu,,

aku menyadari bahwa kehidupan di pesantren dulu hanyalah persiapan saja untuk mengarungi kehidupan yang sesungguhnya..

Di sinilah,, perjuangan yang sesungguhnya dijalani..

Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan,, ada banyaak sekali hal yang membuatku turun sebawah-bawahnya,, ada banyak hal juga yang membuatku optimis bisa ke mana sajaa…

Namuun,, satu hal,,

bahwa kehidupan di pesantren dulu mengajarkan bahwa di manapun kita berada,,

Kita haruslah terus kembali dan berharap hanya pada-Nya..

Bukankah,,

kehidupan ini hanya sementara!??

Buat apa kehidupan yang kita jalani jika itu hanya membuat kita jauh dari-Nya!??