Belajar dari Heni Sri Sundani, Inspirasi dari Jampang

Tulisan kali ini adalah ringkasan pengalaman dan pelajaran yang dapat penulis ambil dari kunjungan penulis ke AgroEdu Jampang bersama teman-teman FW Proteksi Tanaman IPB, 21 Mei 2017 lalu.

18557357_534217223633807_1671884866938424805_n
Sumber: FB Forwacana Proteksi Tanaman IPB

Pertemuan awal penulis pertama kali dengan mbak Heni adalah di Wisma Hijau tahun 2016. Waktu itu beliau menjadi pemateri pada kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) – 65 (Guna Sangkara).

Satu hal yang dulu saya ingat, beliau pernah mengatakan

“Pendidikan itu seperti menanam, kita tidak dapat memetik hasilnya dalam waktu dekat” 🙂

Beliau pernah juga ke Pondok Pesantren Nurul Haramain di Narmada, Lombok. Pondok Pondok Nurul Haramain itu dekat dengan tempat tinggal penulis dan pondok tempat penulis menuntut ilmu, yaitu Pesantren Qur’aniyah Batu Kuta, Narmada.. hhee

Tanpa berpanjang kata, berikut kisah beliau… Selamat Membaca.. ^^ ###

Senyum ini tidaklah lahir begitu saja,, begitu panjang perjalanan mbak heni sehingga dapat menyunggingkan senyum lepas hari ini. Bertemu di desa jampang dengan beliau bersama teman-teman proteksi tanaman, menjadi pengalaman yang berharga. Beliau kemudian berkisah tentang perjalanan hidup beliau,, apa lagi tempat kita mengambil pelajaran selain kepada kisah-kisah kesuksessan mereka yang besar hari ini.

Ingatlah satu hal, bahwa orang-orang yang besar hari ini, telah melalui perjalanan yang tidak mudah juga…

Satu kutipan menarik dari ucapan beliau adalah

Aku bisa bangkit karena dendam positif yang telah lama ku pendam..”

Beliau adalah sosok muslimah sederhana, terlahir di desa yang akses pendidikannya susah. JanganKan pendidikan, akses listrik ketika itu juga susah. Beliau hanya tinggah dengan mbah beliau, berdua, hidup sederhana. Semasa menempuh pendidikan dasar, beliau berjalan tidak kurang 2 jam untuk sampai di sekolah beliau dengan satu-satunya seragam dan sepatu yang entah berapa lama tidak diganti beliau.

Semasa menempuh pendidikan menengah, beliau tidak kurang menempuh 4 jam perjalan satu harinya. Apalagi ketika beliau menempuh pendidikan sekolah mengengah atasnya, lebih dari itu..

Tidak semua kita mungkin mengalami hal yang sama,, sehingga kita hendaknya bersyukur jika telah diberikan jauh lebih banyak kemudahan.

Karakter mbak Heni ditempa oleh mbah beliau, meskipun tidak pernah mengikuti sekolah parenting, akhlak adalah hal yang paling dijaga. Selain itu, mbah beliau juga memberikan teladan langsung. Pernah suatu ketika, tiga orang teman beliau mampir ke rumah mereka. Sehari-hari, hanya tersedia dua piring nasi hanya untuk beliau dan emak (panggilan untuk mbah beliau). Namun ketika emak melihat ada teman beliau yang datang, emak memilih untuk tidak makan. Nasi bagian emak kemudian digabung dengan nasi beliau, dan dibagi empat. Emak waktu itu tidak makan.

Begitulah gambaran kesederhanaan mbak Heni dulu..

Setelah mbak Heni menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, beliau kemudian memilih untuk bekerja sebagai TKI di Hongkong. Di sanalah kemudian mbak Heni berpikir bahwa pendidikanlah yang dapat memutus rantai kemiskinan beliau dan di sana pula lah, kemudian mulai terpupuk dendam-dendam positif beliau.

Di Hongkong, beliau kemudian memutuskan untuk bekerja sembari menempuh kuliah. Hal ini bukanlah pilihan yang mudah, karena beliau harus dapat membagi waktu antara kuliah dengan pekerjaan beliau sebagai Babysitter. Hal ini membuat beliau dapat tidur hanya tidak lebih dari 2 jam sehari. Perjuangan beliau tidak sampai di sini, jika uang tidak mencukupi, beliau juga harus mengambil kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan beliau.

Dengan tekad yang kuat dan bantuan Allah SWT, akhirnya beliau bisa menyelesaikan kuliah beliau di Hongkong dengan predikat Cum Laude.

Saat beliau menceritakan ini ke emak, emak tidak begitu paham dengan apa itu menjadi sarjana. Namun ketika beliau bilang bahwa menjadi sarjana, artinya dapat menjadi guru, emak beliau kemudian sangat bersyukur sekali, hal inilah yang kemudian membuat beliau bertekad untuk menjadi pengajar sekembalinya beliau ke tanah air.

Singkat cerita, beliau tidak ingin ada anak yang seperti beliau lagi. Beliau kemudian mendirikan AgroEdu Jampang bersama dengan belahan hati beliau. Dengan metode yang asik dan menyenangkan, bersama dengan masyarakat sekitar dan relawan yang ikut membantu, AgroEdu Jampang mengenalkan indahnya pengetahuan kepada anak-anak di desa Jampang dan desa-desa lainnya. Sekarang, AgroEdu jampang telah dikenal secara luas oleh  di dalam maupun di luar negri, beliau juga dinobatkan sebagai salah satu perempuan berpengaruh menurut majalah Forbes.

Tentu saja, perjalanan masih panjang, masih banyak ide-ide yang harus diwujudkan, masih banyak anak-anak yang harus dikenalkan betapa dunia itu tidak sempit. Berbekal keistiqomahan beliau, dukungan dari masyarakat dan tentunya ridho allah SWT, semoga AgroEdu Jampang terus dapat berkembang dan semoga juga akan ada banyak Heni-Heni lainnya di pelosok negri.

“Banyak orang pintar, namun tidak semua baik untk rela membagi kepintarannya,,

Banyak orang baik, namun tidak semua mau untuk berbuat kebaikan,,

Marilah menjadi baik, berani berbuat baik, dan berani menebar kebaikan… ^^ “

Dokumentasi lainnya:

Sumber gambar: FB Heni Sri Sundani dan Forwacana Proteksi Tanaman IPB

Mati dan kita,,

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi

memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

Karya: Sapardi Djoko Damono

 

Tokoh kita kali ini adalah Prof. Sapardi Djoko Damono. Prof. Sapardi merupakan salah satu sastrawan senior yang masih dimiliki oleh Indonesia. Beliau merupakan Guru besar sastra di Universitas Indonesia. Ada banyak karya puisi dan buku yang telah beliau hasilkan. Salah satu karya yang juga dijadikan film adalah ‘Hujan Bulan Juni’. Hingga saat ini, beliau masih aktif menulis puisi. Di suatu wawancara, beliau pernah ditanya, “Puisi mana yang paling beliau sukai?”. Beliau kemudian menjawab, “Puisi yang belum aku tulis”. Pada tanggal 24 Oktober 2018 lalu, beliau menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers & Readers Festival 2018 yang di selenggarakan di Ubud, Bali (lihat @SapardiDD). Puisi lain beliau yang terkenal adalah

AKU INGIN

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

kepada api yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Kemarin, 17 Februari, kabar duka datang dari beliau. Istri beliau, Wardiningsih binti Sungkono, meninggal dunia. Semoga amal ibadah beliau diterimaNya, dan dosa-dosa beliau diampuniNya. Amiin YRA.

Dzm56BsUcAApr2W
Sumber: @SapadiDjoko_ID

Dalam setiap acara tahlilan di kuburan, kita sering mendengar bahwa setiap yang bernyawa, pasti akan mati. Kapan? Terserah padaNya yang memiliki hidup kita. Kemudian, kita pun diyakinkan bahwa surga itu benar, neraka itu benar, siksa kubur itu benar, nanti ada juga malaikat yang akan menanyakan kita. Jawaban kita akan sesuai dengan pebuatan kita selama di dunia, baik kah, atau buruk kah, tergantung kita.

Kemudian, tahlil pun ditutup dengan mengutip surat Al-Qur’an yang terjemahnya kurang lebih,

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah bersama hamba-hambaKu, dan masuklah ke surgaKu”..

Semoga kita termasuk, Amiin YRA…

Lalu, mengapa harus ada kematian?

Agar kita tahu bahwa kita sedang hidup. Agar kita sadar bahwa betapa penting kita menjalani hidup dengan baik. Agar kita sadar bahwa dunia ini hanya sementara, kelak, kita pun akan meninggalkannya. Dunia ini hanya persinggahan saja, Hidup yang sebenarnya adalah di akhirat kelak. Agar kita selalu ingat, bahwa hidup adalah untuk beribadah padaNya. Hidup ini, berharga..

Pada akhirnya,,

Kita hidup di dunia ini hanya sekali, pendek, penuh masalah, namun yakinlah, kita selalu memilikiNya..

Kita hidup hanya sekali, mari sebanyak-banyaknya menyebarkan manfaat.. 🙂