Tulisan kali ini adalah ringkasan pengalaman dan pelajaran yang dapat penulis ambil dari kunjungan penulis ke AgroEdu Jampang bersama teman-teman FW Proteksi Tanaman IPB, 21 Mei 2017 lalu.

Pertemuan awal penulis pertama kali dengan mbak Heni adalah di Wisma Hijau tahun 2016. Waktu itu beliau menjadi pemateri pada kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) – 65 (Guna Sangkara).
Satu hal yang dulu saya ingat, beliau pernah mengatakan
“Pendidikan itu seperti menanam, kita tidak dapat memetik hasilnya dalam waktu dekat” 🙂
Beliau pernah juga ke Pondok Pesantren Nurul Haramain di Narmada, Lombok. Pondok Pondok Nurul Haramain itu dekat dengan tempat tinggal penulis dan pondok tempat penulis menuntut ilmu, yaitu Pesantren Qur’aniyah Batu Kuta, Narmada.. hhee
Tanpa berpanjang kata, berikut kisah beliau… Selamat Membaca.. ^^ ###
Senyum ini tidaklah lahir begitu saja,, begitu panjang perjalanan mbak heni sehingga dapat menyunggingkan senyum lepas hari ini. Bertemu di desa jampang dengan beliau bersama teman-teman proteksi tanaman, menjadi pengalaman yang berharga. Beliau kemudian berkisah tentang perjalanan hidup beliau,, apa lagi tempat kita mengambil pelajaran selain kepada kisah-kisah kesuksessan mereka yang besar hari ini.
Ingatlah satu hal, bahwa orang-orang yang besar hari ini, telah melalui perjalanan yang tidak mudah juga…
Satu kutipan menarik dari ucapan beliau adalah
“Aku bisa bangkit karena dendam positif yang telah lama ku pendam..”
Beliau adalah sosok muslimah sederhana, terlahir di desa yang akses pendidikannya susah. JanganKan pendidikan, akses listrik ketika itu juga susah. Beliau hanya tinggah dengan mbah beliau, berdua, hidup sederhana. Semasa menempuh pendidikan dasar, beliau berjalan tidak kurang 2 jam untuk sampai di sekolah beliau dengan satu-satunya seragam dan sepatu yang entah berapa lama tidak diganti beliau.
Semasa menempuh pendidikan menengah, beliau tidak kurang menempuh 4 jam perjalan satu harinya. Apalagi ketika beliau menempuh pendidikan sekolah mengengah atasnya, lebih dari itu..
Tidak semua kita mungkin mengalami hal yang sama,, sehingga kita hendaknya bersyukur jika telah diberikan jauh lebih banyak kemudahan.
Karakter mbak Heni ditempa oleh mbah beliau, meskipun tidak pernah mengikuti sekolah parenting, akhlak adalah hal yang paling dijaga. Selain itu, mbah beliau juga memberikan teladan langsung. Pernah suatu ketika, tiga orang teman beliau mampir ke rumah mereka. Sehari-hari, hanya tersedia dua piring nasi hanya untuk beliau dan emak (panggilan untuk mbah beliau). Namun ketika emak melihat ada teman beliau yang datang, emak memilih untuk tidak makan. Nasi bagian emak kemudian digabung dengan nasi beliau, dan dibagi empat. Emak waktu itu tidak makan.
Begitulah gambaran kesederhanaan mbak Heni dulu..
Setelah mbak Heni menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, beliau kemudian memilih untuk bekerja sebagai TKI di Hongkong. Di sanalah kemudian mbak Heni berpikir bahwa pendidikanlah yang dapat memutus rantai kemiskinan beliau dan di sana pula lah, kemudian mulai terpupuk dendam-dendam positif beliau.
Di Hongkong, beliau kemudian memutuskan untuk bekerja sembari menempuh kuliah. Hal ini bukanlah pilihan yang mudah, karena beliau harus dapat membagi waktu antara kuliah dengan pekerjaan beliau sebagai Babysitter. Hal ini membuat beliau dapat tidur hanya tidak lebih dari 2 jam sehari. Perjuangan beliau tidak sampai di sini, jika uang tidak mencukupi, beliau juga harus mengambil kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan beliau.
Dengan tekad yang kuat dan bantuan Allah SWT, akhirnya beliau bisa menyelesaikan kuliah beliau di Hongkong dengan predikat Cum Laude.
Saat beliau menceritakan ini ke emak, emak tidak begitu paham dengan apa itu menjadi sarjana. Namun ketika beliau bilang bahwa menjadi sarjana, artinya dapat menjadi guru, emak beliau kemudian sangat bersyukur sekali, hal inilah yang kemudian membuat beliau bertekad untuk menjadi pengajar sekembalinya beliau ke tanah air.
Singkat cerita, beliau tidak ingin ada anak yang seperti beliau lagi. Beliau kemudian mendirikan AgroEdu Jampang bersama dengan belahan hati beliau. Dengan metode yang asik dan menyenangkan, bersama dengan masyarakat sekitar dan relawan yang ikut membantu, AgroEdu Jampang mengenalkan indahnya pengetahuan kepada anak-anak di desa Jampang dan desa-desa lainnya. Sekarang, AgroEdu jampang telah dikenal secara luas oleh di dalam maupun di luar negri, beliau juga dinobatkan sebagai salah satu perempuan berpengaruh menurut majalah Forbes.
Tentu saja, perjalanan masih panjang, masih banyak ide-ide yang harus diwujudkan, masih banyak anak-anak yang harus dikenalkan betapa dunia itu tidak sempit. Berbekal keistiqomahan beliau, dukungan dari masyarakat dan tentunya ridho allah SWT, semoga AgroEdu Jampang terus dapat berkembang dan semoga juga akan ada banyak Heni-Heni lainnya di pelosok negri.
“Banyak orang pintar, namun tidak semua baik untk rela membagi kepintarannya,,
Banyak orang baik, namun tidak semua mau untuk berbuat kebaikan,,
Marilah menjadi baik, berani berbuat baik, dan berani menebar kebaikan… ^^ “
Dokumentasi lainnya:
Sumber gambar: FB Heni Sri Sundani dan Forwacana Proteksi Tanaman IPB
