Ngaji,,

41215934_1966101730078691_5602127192239636480_n
Sumbernya lupaa,, maafkeun.. 🙂

Ngaji adalah kata yang tidak asing di telinga setiap orang. Setidaknya, di telinga masyarakat di pedesaan. Kurang tahu di perkotaan, mungkin berbeda, atau pun juga sama..

Kalau di desa penulis, setiap ba’da magrib, waktunya untuk mengaji al-qur’an bagi anak-anak. Masih banyak guru-guru ngaji. Mereka tidak dibayar sepeserpun. Kalaupun ada, mungkin setahun sekali, ketika ada yang khataman al-qur’an. Itu pun berupa jajanan lebaran dengan aksesoris dan saudara-saudaranya. Selebihnya, mereka hanya mengharapkan ridhoNya. Semoga mereka tetap istiqomah dan membimbing generasi-generasi selanjutnya..

Oh iya, dulu ada istilah besoalan atau besoalam atau penulis lupa istilahnya (huruf ‘e’ dibaca seperti huruf ‘e’ pada kata sesak). Dulu dilaksanakan setiap malam selasa, tapi tergantung guru ngaji juga. Di malam-malam biasa, kita hanya melanjutkan bacaan qu’an kita. ketika besoalan, kita bawa makanan sendiri, berdo’a dan mengaji. Membaca shalawat dan amalan-amalan lainnya. Malam inilah yang selalu ditunggu. Karena selain ngaji, dapat makan-makan juga.. hhee. Kita hanya libur ngaji setiap malam jum’at. Nahh, malam inilah waktunya libur ngaji.

Ngaji hendaknya membuat kita tenang. Baik ngaji al-qur’an, ataupun ngaji ke ulama’-ulama’ di desa, maupun di luar desa. Karena, bukankah tujuan kita adalah untuk mendekatkan diri padaNya? Jadi kalau setelah ngaji, kita tidak tenang dan membuat kita benci, berarti kita ngaji di tempat yang salah. Di desa penulis, para ibu-ibu mengaji ke Tuan Guru setiap hari minggu. Berangkat minggu pagi. Kenakan batik berwarna hijau. Khas ibu-ibu muslimat NU. Apa yang dapatkan di sana saat mengaji, kemudian beliau amalkan di rumah. Beliau ajarkan kepada anak-anaknya.

Masih banyaak lagii..

Tapi mungkin di kesempatan selanjutnya sajaa.. 🙂

Itu di desa penulis,, bagaimana di desa pembaca?!!

Jadi,, mari jangan sampai berhenti Ngaji.. Ngaji agama, maupun Ngaji ilmu pengetahuan..

Sebagai penutup,,

Dua tahun lalu, penulis sempat mengaji.. Ngaji Kitab Nasho’ihul ‘Ibad.. Penulis ingin membagikannya di sini.. Semoga manfaat.. ^^

Pesan Hasan Al-Basri:

# Orang yang tidak punya adab, maka tidak ada ilmu padanya..

Maksudnya, ia tidak akan mendapatkan ilmu yang berkah. Bisa saja ia menjadi pintar, tapi ilmunya tidak memberikan manfaat dan tidak mendekatkan ia padaNya..

# Orang yang tidak punya kesabaran, maka kurang agamanya..

Kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran atas ujian, kesabaran atas celaan makhluk dan lain-lain..

Tingkatan kesabaran:

  • Tidak mengeluh, derajatnya para tabi’in..
  • Ridho dengan takdir, derajatnya orang yang zuhud..
  • Senang diuji, derajatnya orang yang “Shiddiq”

# Orang yang tidak Wira’i, maka tidak ada keberuntungan baginya..

Maksudnya, orang yang tidak wira’i adalah orang yang suka memakan barang subhat.. apalagi jika makan barang haram..

Bogor, 26 Februari 2019

Diterbitkan di Ilmu

Puisi,,

Sekadar Puisi

Nuansa Manusia

Manusia memang sungguh aneh

terkadang kebenaran

dianggap sebuah kebohongan,,,

Terkadang takdir

tak pernah bisa ia terima,,,

Pun juga

Terkadang sebuah kepastian

dapat menjadi kabur di hadapannya…

Itulah manusia

Ia bercermin, namun melihat dengan terbalik..

Aneh memang

Cinta yang suci

dianggapnya buta dan menyengsarakan,,,

Kasih sayang tulus

sering kali dianggap kebohongan,,,

atau,, terkadang,, dibelokkan sekalian,,

Persahabatan sejati

sering pula dikhianati…

Namun sadarlah wahai manusia

Cinta kan tetap suci

Kasih sayang takkan pernah hilang

dan persahabatan

kan selamanya abadi dan sejati…

Seberapa pun engkau menghinanya

Seberapa pun engkau menodai dan mengkhianatinya…

Karena cinta, kasih sayang,

Kan tetap abadi seperti sedia kala

Apapun yang engkau lakukan padanya…

# AJ #

IMG_20190222_073547_HDR.jpg
Bunga Pucuk Merah

Puisi dapat menjadi sarana untuk meluapkan perasaan. Sebenarnya, setiap orang bisa membuat puisinya masing-masing. Kata guru saya dulu, “Puisi tidak dapat dinilai, bagus atau tidak.. Selama si penulis jujur mengungkapkan apa yang dirasakannya.. Biarlah orang lain yang kemudian menafsiri apa adanya..”

Kau tahu sastra dan puisi tertinggi,,?? Ia-lah Al-Qur’an yang mulia..

Setiap hurufnya adalah gambaran keindahanNya..

Setiap katanya adalah jelmaan keagunganNya..

dan setiap kalimatnya adalah rupa keanggunanNya..

Kita membacanya setiap hari,, namun kita takkan pernah tidak menemukan ketenangan di dalamnya..

Al-Qur’an adalah permata yang takkan pernah pudar..

dan yang terpenting,, dengannya lah kita bisa bercengkrama denganNya..

###

Sudahkah kita bercengkrama denganNya hari ini..??!!! 🙂

 

Corat-coret,,

Mengumpulkan huruf demi huruf yang tercecer..

Boleh dibaca mulai dari mana pun..

“Beranilah berubah,,,

dan pergilah ke tempat yang kalian impikan…”

*Ratu Otohime_One Piece*

Jangan terlalu banyak membuat alasan, bahkan terkadang engkau harus melupakan alasan-alasan. Karena untuk dapat melakukan hal yang besar engkau harus lebih banyak membuang alasan-alasan yang menjadikanmu takut melangkah, takut mengambil resiko dan takut berbuat sesuatu…

“Masa lalu dan masa depan tidaklah sama, tapi mereka tidak benar-benar terpisahkan…

yang menang bukanlah yang kuat, tapi yang kuatlah yang menang…”

*Kiseki no Sedai*

Hidup ini bukan hanya tentang bagaimana memulai sesuatu, namun bagaimana untuk tetap bertahan ketika sudah memulainya, dan terus melangkah dengan bijak….

Betapapun sibuknya diri kita, jangan pernah lupa untuk berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk mengambil langkah yang lebih baik lagi…

MULAILAH DI AKHIR, DAN BERAKHIR DI AWAL

*BJ. Habiebie*

BAHAGIA itu sederhana…

Belajarlah dari bayi, hanya dengan merobek kertas Ia bisa tertawa… ^^ #Unknown

IMG_20180725_175744_HDR
Kampus Tsukuba

Enam huruf: I K H L A S,,

img_20190222_072927_hdr.jpg
Kupu-kupu dan bunga pucuk merah

Keikhlasan adalah hal yang ingin dimiliki sebagai orang yang beragama agar apa yang dilakukan diterima olehNya. Ada beberapa tingkatan orang ikhlas. Tingkatan tertinggi adalah ketika kita melakukan sesuatu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah adalah kita melakukan suatu kebaikan agar dimasukkan ke surgaNya dan dijauhkan dari nerakaNya..

Pernah nonton film Kiamat Sudah Dekat?

Dalam salah satu episodenya, film tersebut mencoba menggambarkan seseorang yang ingin sekali mencari keikhlasan. Ia mencarinya agar ia bisa menikahi perempuan yang menjadi pujaan hatinya. Ikhlas menjadi syarat yang diberikan orang tua perempuan tersebut. Ia pergi ke toko buku, ke perpustakaan dan tempat lainnya. Segala hal yang bertuliskan ikhlas, dibacanya. Sampai-sampai,, papan masjid Al-Ikhlas pun diambilnya. Hhee..

Namun ia tidak menemukan. Pada akhirnya,, setelah berusaha dengan keras namun tidak menemukannya, ia pun kemudian pasrah. Tidak dapat menemukan arti keikhlasan, sehingga dalam pikirannya, ia pasrah tidak mendapatkan pujaan hatinya karena tidak berhasil menemukan makna keikhlasan tersebut. Tapi pada akhirnya, kepasrahannya merupakan bentuk keikhlasan itu sendiri.

Ikhlas dapat berarti menyingkirkan segala sesuatu yang bukan buat Tuhan

Ikhlas itulah air,, sebagai penyiram untuk benih yang kita tanam.. Jika tidak, maka benih yang ditanam tidak akan tumbuh..

Ikhlas, rahasia antara hamba dengan Tuhannya.. Malaikat pun tidak tahu, sehingga tidak ditulis.. Setan tidak tahu, sehingga tidak digoda..

Ada beberapa tanda-tanda orang yang ikhlas, yaitu:

  1. Dipuji atau tidak dipuji, sama saja, dan biasanya ingin menghindar dari pujian
  2. Tidak segan memuji orang yang melakukan kebaikan. Mengapa tidak, bukankah memuji orang yang melakukan kebaikan berarti kita juga bangga karena orang lain berbuat kebaikan?
  3. Takut dihinggapi sesuatu yang bertentangan dengan keikhlasan,, takut tidak diterima apa yang sudah dilakukannya. Ketakutan ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang sekarang. Para ulama’ zaman dahulu sangat takut sekali dilihat melakukan kebaikan sehingga beliau-beliau melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Pun ketika melakukan sembunyi-sembunyi, beliau-beliau selalu berdo’a agar dihindarkan dari perasaan telah melakukan kebaikan.
  4. Selalu menuduh dirinya bahwa amalannya tidak sempurna, sehingga selalu berusaha lebih baik lagi di kemudian hari.

Di pesantren dulu, sering kali kita mendengar tentang kisah Sayyidina Umar bin Khattab RA. dengan keikhlasan beliau. Ketika beliau menjadi khalifah, beliau sendiri yang memikul bahan-bahan makanan untuk dibagikan kepada kaun fakir miskin. Tanpa sama sekali diketahui oleh mereka bahwa yang memberikannya adalah sang khalifah..

Terang-terangan memberi sedekah itu tidak apa-apa..

Menerima sesuatu, tidak berarti tidak ikhlas..

Menolak sesuatu belum tentu ikhlas.. 🙂

Sebagai penutup..

Habib Syech Abdul Qodir Assegaf pernah bertutur dalam sebuah ceramah beliau.

Jika suatu ketika, kau ditanya, manakah yang lebih baik, bersedekah uang 1 juta rupiah namun tidak ikhlas. Atau kah bersedekah 10 ribu, tapi ikhlas (katanya)??

Beliau melanjutkan,, lebih baik bersedekah 1 juta rupiah walaupun tidak ikhlas. Mengapa? Karena mungkin saja, orang yang kita berikan akan mendo’akanmu sehingga kau menjadi orang yang ikhlas. Meskipun ketika itu kau tidak ikhlas, tapi dengan do’a orang yang kau beri, menjadikanNya ridho terhadapmu.. 🙂

Itu saja untuk tulisan kali ini.. Terima Kasih 😀

#Sebagian materi disadur dari ceramah Habib Syech..

Belajar dari Heni Sri Sundani, Inspirasi dari Jampang

Tulisan kali ini adalah ringkasan pengalaman dan pelajaran yang dapat penulis ambil dari kunjungan penulis ke AgroEdu Jampang bersama teman-teman FW Proteksi Tanaman IPB, 21 Mei 2017 lalu.

18557357_534217223633807_1671884866938424805_n
Sumber: FB Forwacana Proteksi Tanaman IPB

Pertemuan awal penulis pertama kali dengan mbak Heni adalah di Wisma Hijau tahun 2016. Waktu itu beliau menjadi pemateri pada kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) – 65 (Guna Sangkara).

Satu hal yang dulu saya ingat, beliau pernah mengatakan

“Pendidikan itu seperti menanam, kita tidak dapat memetik hasilnya dalam waktu dekat” 🙂

Beliau pernah juga ke Pondok Pesantren Nurul Haramain di Narmada, Lombok. Pondok Pondok Nurul Haramain itu dekat dengan tempat tinggal penulis dan pondok tempat penulis menuntut ilmu, yaitu Pesantren Qur’aniyah Batu Kuta, Narmada.. hhee

Tanpa berpanjang kata, berikut kisah beliau… Selamat Membaca.. ^^ ###

Senyum ini tidaklah lahir begitu saja,, begitu panjang perjalanan mbak heni sehingga dapat menyunggingkan senyum lepas hari ini. Bertemu di desa jampang dengan beliau bersama teman-teman proteksi tanaman, menjadi pengalaman yang berharga. Beliau kemudian berkisah tentang perjalanan hidup beliau,, apa lagi tempat kita mengambil pelajaran selain kepada kisah-kisah kesuksessan mereka yang besar hari ini.

Ingatlah satu hal, bahwa orang-orang yang besar hari ini, telah melalui perjalanan yang tidak mudah juga…

Satu kutipan menarik dari ucapan beliau adalah

Aku bisa bangkit karena dendam positif yang telah lama ku pendam..”

Beliau adalah sosok muslimah sederhana, terlahir di desa yang akses pendidikannya susah. JanganKan pendidikan, akses listrik ketika itu juga susah. Beliau hanya tinggah dengan mbah beliau, berdua, hidup sederhana. Semasa menempuh pendidikan dasar, beliau berjalan tidak kurang 2 jam untuk sampai di sekolah beliau dengan satu-satunya seragam dan sepatu yang entah berapa lama tidak diganti beliau.

Semasa menempuh pendidikan menengah, beliau tidak kurang menempuh 4 jam perjalan satu harinya. Apalagi ketika beliau menempuh pendidikan sekolah mengengah atasnya, lebih dari itu..

Tidak semua kita mungkin mengalami hal yang sama,, sehingga kita hendaknya bersyukur jika telah diberikan jauh lebih banyak kemudahan.

Karakter mbak Heni ditempa oleh mbah beliau, meskipun tidak pernah mengikuti sekolah parenting, akhlak adalah hal yang paling dijaga. Selain itu, mbah beliau juga memberikan teladan langsung. Pernah suatu ketika, tiga orang teman beliau mampir ke rumah mereka. Sehari-hari, hanya tersedia dua piring nasi hanya untuk beliau dan emak (panggilan untuk mbah beliau). Namun ketika emak melihat ada teman beliau yang datang, emak memilih untuk tidak makan. Nasi bagian emak kemudian digabung dengan nasi beliau, dan dibagi empat. Emak waktu itu tidak makan.

Begitulah gambaran kesederhanaan mbak Heni dulu..

Setelah mbak Heni menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, beliau kemudian memilih untuk bekerja sebagai TKI di Hongkong. Di sanalah kemudian mbak Heni berpikir bahwa pendidikanlah yang dapat memutus rantai kemiskinan beliau dan di sana pula lah, kemudian mulai terpupuk dendam-dendam positif beliau.

Di Hongkong, beliau kemudian memutuskan untuk bekerja sembari menempuh kuliah. Hal ini bukanlah pilihan yang mudah, karena beliau harus dapat membagi waktu antara kuliah dengan pekerjaan beliau sebagai Babysitter. Hal ini membuat beliau dapat tidur hanya tidak lebih dari 2 jam sehari. Perjuangan beliau tidak sampai di sini, jika uang tidak mencukupi, beliau juga harus mengambil kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan beliau.

Dengan tekad yang kuat dan bantuan Allah SWT, akhirnya beliau bisa menyelesaikan kuliah beliau di Hongkong dengan predikat Cum Laude.

Saat beliau menceritakan ini ke emak, emak tidak begitu paham dengan apa itu menjadi sarjana. Namun ketika beliau bilang bahwa menjadi sarjana, artinya dapat menjadi guru, emak beliau kemudian sangat bersyukur sekali, hal inilah yang kemudian membuat beliau bertekad untuk menjadi pengajar sekembalinya beliau ke tanah air.

Singkat cerita, beliau tidak ingin ada anak yang seperti beliau lagi. Beliau kemudian mendirikan AgroEdu Jampang bersama dengan belahan hati beliau. Dengan metode yang asik dan menyenangkan, bersama dengan masyarakat sekitar dan relawan yang ikut membantu, AgroEdu Jampang mengenalkan indahnya pengetahuan kepada anak-anak di desa Jampang dan desa-desa lainnya. Sekarang, AgroEdu jampang telah dikenal secara luas oleh  di dalam maupun di luar negri, beliau juga dinobatkan sebagai salah satu perempuan berpengaruh menurut majalah Forbes.

Tentu saja, perjalanan masih panjang, masih banyak ide-ide yang harus diwujudkan, masih banyak anak-anak yang harus dikenalkan betapa dunia itu tidak sempit. Berbekal keistiqomahan beliau, dukungan dari masyarakat dan tentunya ridho allah SWT, semoga AgroEdu Jampang terus dapat berkembang dan semoga juga akan ada banyak Heni-Heni lainnya di pelosok negri.

“Banyak orang pintar, namun tidak semua baik untk rela membagi kepintarannya,,

Banyak orang baik, namun tidak semua mau untuk berbuat kebaikan,,

Marilah menjadi baik, berani berbuat baik, dan berani menebar kebaikan… ^^ “

Dokumentasi lainnya:

Sumber gambar: FB Heni Sri Sundani dan Forwacana Proteksi Tanaman IPB