
Ngaji adalah kata yang tidak asing di telinga setiap orang. Setidaknya, di telinga masyarakat di pedesaan. Kurang tahu di perkotaan, mungkin berbeda, atau pun juga sama..
Kalau di desa penulis, setiap ba’da magrib, waktunya untuk mengaji al-qur’an bagi anak-anak. Masih banyak guru-guru ngaji. Mereka tidak dibayar sepeserpun. Kalaupun ada, mungkin setahun sekali, ketika ada yang khataman al-qur’an. Itu pun berupa jajanan lebaran dengan aksesoris dan saudara-saudaranya. Selebihnya, mereka hanya mengharapkan ridhoNya. Semoga mereka tetap istiqomah dan membimbing generasi-generasi selanjutnya..
Oh iya, dulu ada istilah besoalan atau besoalam atau penulis lupa istilahnya (huruf ‘e’ dibaca seperti huruf ‘e’ pada kata sesak). Dulu dilaksanakan setiap malam selasa, tapi tergantung guru ngaji juga. Di malam-malam biasa, kita hanya melanjutkan bacaan qu’an kita. ketika besoalan, kita bawa makanan sendiri, berdo’a dan mengaji. Membaca shalawat dan amalan-amalan lainnya. Malam inilah yang selalu ditunggu. Karena selain ngaji, dapat makan-makan juga.. hhee. Kita hanya libur ngaji setiap malam jum’at. Nahh, malam inilah waktunya libur ngaji.
Ngaji hendaknya membuat kita tenang. Baik ngaji al-qur’an, ataupun ngaji ke ulama’-ulama’ di desa, maupun di luar desa. Karena, bukankah tujuan kita adalah untuk mendekatkan diri padaNya? Jadi kalau setelah ngaji, kita tidak tenang dan membuat kita benci, berarti kita ngaji di tempat yang salah. Di desa penulis, para ibu-ibu mengaji ke Tuan Guru setiap hari minggu. Berangkat minggu pagi. Kenakan batik berwarna hijau. Khas ibu-ibu muslimat NU. Apa yang dapatkan di sana saat mengaji, kemudian beliau amalkan di rumah. Beliau ajarkan kepada anak-anaknya.
Masih banyaak lagii..
Tapi mungkin di kesempatan selanjutnya sajaa.. 🙂
Itu di desa penulis,, bagaimana di desa pembaca?!!
Jadi,, mari jangan sampai berhenti Ngaji.. Ngaji agama, maupun Ngaji ilmu pengetahuan..
Sebagai penutup,,
Dua tahun lalu, penulis sempat mengaji.. Ngaji Kitab Nasho’ihul ‘Ibad.. Penulis ingin membagikannya di sini.. Semoga manfaat.. ^^
Pesan Hasan Al-Basri:
# Orang yang tidak punya adab, maka tidak ada ilmu padanya..
Maksudnya, ia tidak akan mendapatkan ilmu yang berkah. Bisa saja ia menjadi pintar, tapi ilmunya tidak memberikan manfaat dan tidak mendekatkan ia padaNya..
# Orang yang tidak punya kesabaran, maka kurang agamanya..
Kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran atas ujian, kesabaran atas celaan makhluk dan lain-lain..
Tingkatan kesabaran:
- Tidak mengeluh, derajatnya para tabi’in..
- Ridho dengan takdir, derajatnya orang yang zuhud..
- Senang diuji, derajatnya orang yang “Shiddiq”
# Orang yang tidak Wira’i, maka tidak ada keberuntungan baginya..
Maksudnya, orang yang tidak wira’i adalah orang yang suka memakan barang subhat.. apalagi jika makan barang haram..
Bogor, 26 Februari 2019



